
Rayyan berada di ruangan VIP. Dia memilih untuk bergabung dengan teman-temannya yang sudah lebih dulu di sana. Suara dentuman musik memekakkan telinga, bagi Rayyan ini hal biasa dan cukup bisa melupakan apa yang sedang dia rasa berat.
"Minum lagi bro?" tanya seorang temannya yang masih mengenakan pakaian kemeja, dia habis lembur kerja langsung menuju club. Rayyan mengangkat tangannya, menandakan menolak.
"Cemen kamu, masa cuma begini saja" ujar teman yang satunya sambil tertawa, tangan kanannya mengangkat gelas yang baru saja dia isi lagi.
Rayyan tak peduli jika dianggap cemen, yang pasti dia tidak mau pulang dalam keadaan mabuk, terus buat ulah di jalan atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Niatnya hanya mencari kesenangan bukan kesialan.
"Siapa sih cewekmu sekarang? ajaklah main-main kesini, seperti Talitha dulu, iya nggak bro?" ujar laki-laki berkemeja tadi sambil tertawa meminta persetujuan teman lainnya.
"Bener bro" sahut teman yang memakai kaos navy. Rayyan hanya diam sambil menatap temannya satu per satu.
"Ah masa orang seperti kamu nggak bisa mendapatkan yang lebih dari Talitha sih?" ungkap temannya lagi seperti sedang mengejek Rayyan.
"Kan ada gosip kemarin itu, bener kamu pacaran sama cewek itu?"
"Aku kesini mau nyari seneng, kalian malah ngegosip, apa bedanya kalian sama lambe-lambean?" Rayyan menskak mat teman-temannya.
"Cieh...marah dia sob" ujar yang berkemeja lagi.
"Eh denger-denger si Talitha kapan hari ribut di sini"
"Kenapa?" tanya si kaos navy.
"Entah"
Mendengar teman-temannya kembali mengghibah, Rayya beranjak keluar dan menuju toilet, jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Rayyan masuk ke dalam toilet dan membasuh mukanya, dia masih baik-baik saja dan tidak mabuk. Sebelum dia keluar, dia berpapasan dengan Brian.
Akhirnya mereka keluar dari club dan ngobrol di area parkir yang lumayan tenang dari dentuman musik.
"Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabar kamu dan istrimu?" tanya Brian sambil menyunggingkan senyum seolah sedang menertawakan Rayyan.
"Kamu sendiri?" Rayyan balik bertanya. Brian mengeluarkan rokok dan menyalakannya, lalu dia menyodorkannya pada Rayyan. Namun Rayyan menolaknya, karena dia bukan perokok.
"Kamu sudah tahu aku sudah hancur olehnya, tapi aku tak mau berlarut, dia sudah tidak mau aku genggam, ngapain harus aku tahan" Brian nampak enteng mengatakannya. Dari cerita tersebut, Rayyan mengartikan jika Brian sudah rela atas kepergian Talitha.
"Tapi aku tidak mau minta maaf padamu perihal masalah ini" ungkap Brian dengan pongah. Rayyan hanya tersenyum, Rayyan menyandarkan dirinya di mobilnya sambil berhadapan dengan Brian yang tengah menyembulkan asap putih dari mulutnya dengan santai. Sesekali Brian memainkan rokok yang dia pegang dengan jarinya.
"Dia bangs*t kan?" Brian kembali tersenyum kecut. Rayyan menatap Brian\, laki-laki yang ada di depannya itu nampak marah tapi terpendam. "Dan aku tahu bahwa kamu berhubungan dengan dia\, dan kamu juga merasakan hal yang sama" ujarnya terkekeh. "Kita saja yang bodoh\, nyatanya dia lebih memilih berondong bajing*n!"
Rayyan mengemudikan mobilnya untuk pulang. Hari hampir subuh saat dia tiba di apartemennya. Rayyan segera melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dan masuk ke alam mimpi.
***
Seperti biasa, Hanna sibuk di dapur menyiapkan sarapan, karena hari ini dia akan ke kampus pagi untuk mengambil surat tugas magangnya. Selesai sarapan bersama, Hanna bersiap ke kampus, begitu juga dengan Nayo.
"Selamat pagi" sapa Bian yang sudah berada di atas motornya dan menunggu Hannadi depan pagar. Hanna yang tengah bersiap mengeluarkan motornya pun dibuat terkejut.
"Mas Bian?" Hanna mengernyit.
"Kenapa kaget?" balasnya sambil tersenyum simpul. Ah, pagi-pagi dapay asupan senyum manis begini membuat Hanna merasa meleleh. "Kamu mau ambil surat magang kan? jangan tanya dari mana aku tahu"
Mendengar hal itu Hanna hanya tersenyum.
"Pegangan" Bian menarik tangan Hanna agar berpegangan lebih erat padanya.
Sepanjang jalan, yang ada hanya bahagia yang dirasakan oleh Hanna. Mimpinya untuk bisa dekat dengan Bian menjadi nyata, hanya saja dia belum menjawab permintaan hati Bian. Dan lagi-lagi dia ingat ini terjadi karena Rayyan, Rayyan yang seolah memberikan benteng padanya. Ah bodo amat, dia hanya ingin menikmati kebersamaan dengan Bian hari ini.
Sesampainya di kampus, Hanna mengambil surat magang di bagian administrasi kampus dan segera menuju alamat kantor yang dia pilih sendiri untuk menyampaikan maksud tujuannya. Bian yang menyadari Hanna mendekat padanya segera menutup ponselnya dan menyimpannya kembali ke dalam tas.
"Sudah? kita berangkat sekarang?" tanya Bian. Hanna mengangguk. Bian menyodorkan helm Hanna dan mereka bergegas berangkat ke alamat yang dituju.
Hanna yang baru saja keluar dari sebuah kantor itu terlihat cemberut, Bian yang hanya menunggu di luar memperhatikan raut wajah Hanna.
"Kenapa? ada yang nggak beres?" tanya Bian penasaran. Hanna mengangguk pelan.
"Ternyata aku kalah cepat, sudah terisi penuh di sini anak magangnya" jawab Hanna dengan wajah menyesal.
"Kok bisa?"
Hanna mengedikkan bahunya, dia juga heran mengapa bisa begitu. Itu artinya dia harus kembali mencari tempat magang, kembali mengurus surat. Hanna menghela nafas panjang.
"Ok, aku bantu kamu"
"Eh nggak usah mas, aku bisa sendiri" Hanna tak mau merepotkan. Dia tahu hari ini Bian ada jadwal bimbingan skripsi.
"Nggak apa-apa, aku bisa bimbingan lain kali"
"No...mas Bian harus tetap bimbingan, aku bisa sendiri, nanti aku hubungin temanku yang sudah pada dapat tempat, amaaan" Hanna mencoba santai. Bian mengalah.
"Ok, kalau begitu sebelum kita pulang, kita makan dulu, aku tahu kamu lapar" Bian memakaikan helm di kepala Hanna. Kini Hanna tak lagi kaget dengan perlakuan Bian yang manis itu, dia sudah mulai terbiasa. Hanna menurut saja kemana Bian akan membawanya.
Dan mereka tiba di sebuah tempat makan kekinian yang nampak ramai itu, Bian memarkirkan motornya di deretan motor. Lalu dia melepas helmnya, begitu juga Hanna. Tak lupa dia meraih jemari Hanna dan mengajaknya masuk dengan bergandengan tangan. Hanna nampak kaku.
Hanna menulis menu makanan di sebuah kertas, sesekali dia membolak-balik daftar menu yang disodorkan oleh pelayan.
"Kamu mau apa mas?" Hanna masih membolak-balik menu, kali aja dia berubah pikirann dengan menu yang sudah dia tulis sembari menunggu pesanan Bian. Tak ada jawaban dari Bian.
"Mas" Hanna kembali memanggil, dia melihat ke arah Bian yang seperti sedang bingung sehabis melihat ramainya orang. "Hallo...mas" Hanna melambaikan tangannya di depan wajah Bian, berharap laki-laki yang ada di depannya itu menyadari panggilannya.
"Eh hiya...iya...kenapa?" seolah Bian baru sadar dari pingsan.
"Mas Bian mau pesan apa?"
"Ehm...samakan dengan kamu aja deh Han" Bian nampak sedang menata kalimatnya, dia nampak sedkikit gugup. Hanna melihat ke kanan dan ke kiri, kali aja ada sesuatu yang aneh yang membuat Bian tiba-tiba kikuk. Hanna kemudian menulis apa yang dipesan oleh Bian, lalu bersiap beranjak.
"Aku ke toilet dulu ya" pamit Bian.
"Ok" balas Hanna. Mereka sama-sama beranjak, Hanna menuju pelayan untuk menyerahkan pesanan yang dia tulis sementara Bian menuju toilet.
Bian nampak tergesa-gesa dan menghindari sesuatu.
Mohon dukungan dari kalian ya teman-teman, jangan lupa like, vote, komentar. Terima Kasih....