Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Ujian


Baru saja aku mau nelpon kamu. Ujar suara Kia dengan nada gugup.


"Kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi? Panji?" Hanna menodong Kia.


Bukan itu Han...itu mah nanti, sekarang kamu tahu nggak ceritanya?


"Cerita apaan,?" Hanna menghempaskan tubuhnya di atas ranjang sambil meraih guling yang ada di sampingnya, memeluk dengan nyaman.


Rayyan.


"Kenapa Rayyan,?" tanya Hanna dengan santainya, karena dia seharian ini, bukan hanya seharian ini tidak ada komunikasi, karena Hanna menyangka Rayyan sedang sibuk banget. Dan kebiasaan buruknya adalah gengsi untuk menghubungi Rayyan duluan. "Kenapa?" Hanna mengulang kembali pertanyaannya.


Cek deh berita. Titah Kia


"Ngapain? mending buruan katakan deh," Hanna mulai panik.


Rayyan ditangkap. Kia menghela nafas, antara tega dan tidak tega mengatakannya.


"Kamu jangan bercanda Ki," Hanna melemparkan guling yang tadi dipeluknya, terpental entah ke mana.


Han, kamu yang jangan bercanda. Kia terdengar frustasi, kenapa Hanna sebebal ini.


"Bentar," Hanna mematikan sambungan telponnya dengan Kia, lalu membuka portal berita online, dan matanya terbelalak dengan apa yang dia baca. Narasi berita itu sungguh membuat kepalanya mendadak pening.


"Bohong, pasti ini bohong," Hanna menggelengkan kepalanya. Dia kembali menelpon Kia.


"Ki....," pekiknya.


Nah kan? udah cek,? tanya Kia. Hanna mengangguk meskipun Kia tak melihatnya. Han...kamu pastiin dulu deh.


Sebuah narasi berita yang terpercaya menuliskan jika Rayyan dan seorang temannya ditangkap di sebuah tempat dengan barang bukti narkoba. Bagaimana Hanna tidak panik, kenapa Rayyan terlibat dalam masalah ini? Hanna mondar-mandir di dalam kamarnya yang sempit itu. Apa yang bisa dia lakukan.


Kenapa Rayyan melakukan ini? kenapa dia sebodoh itu? Hanna meremas tangannya sendiri. Hanna mendekat ke ranjangnya dan mengambil ponselnya. Menghubungi Kamila, satu-satunya yang bisa dia ajak untuk memecahkan masalah ini.


"Mil...gimana ini,?"


Han...tolong kamu temuin Rayyan, nanti aku telponkan pengacara untuk dia. Please setidaknya ada kamu di sana sekarang. Perintah Kamila.


Tidak menunggu lama, Hanna segera bergegas. Mengambil jaket dan mengganti celana pendeknya dengan celana panjang. Rambut pendeknya yang berantakkan pun tidak dia pedulikan, tas selempang sudah berada di pundaknya, tak lupa mengambil kunci motor dan segera bergegas menuju kantor polisi yang sudah Kamila tunjukkan lewat sambungan telepon.


Dengan kecepatan super, Hanna segera sampai di kantor polisi yang sudah sangat banyak wartawan berkerumun di sana. Hanna menepuk dahinya, bagaimana bisa dia benar-benar tidak peduli dengan Rayyan? kenapa seceroboh ini?


Hanna mencoba menerobos barisan para wartawan yang tentu saja ingin mendapatkan berita pertama tentang Rayyan yang tertangkap karena penyalah gunaan obat terlarang.


"Permisi," Hanna mencoba menerobos. Dengan badannya yang mungil, Hanna berhasil menerobos mereka. Tapi tidak sampai sana, karena Hanna dihadang oleh anggota kepolisian.


"Siapa? mau apa,?" tanya seorang yang memakai seragam dengan tegas, bahkan terlihat meolotot ke arah Hanna. Tidak salah, karena takutnya jika Hann adalah wartawan.


"Saya tunangan Rayyan pak, tolong saya ingin bertemu dengan Rayyan," Hanna memohon.


"Maaf mbak, ini prosedur, anda tidak bisa masuk untuk bertemu hingga pengacaranya datang,"


Pengacara mana yang mau datang di tengah malam seperti ini. Hanna seolah putus asa, pikirannya tak karuan. Hanna duduk di lantai tak jauh dari kerumunan para anggota polisi yang sedang berdiskusi di sana. Sesekali Hanna memperhatikan mereka. Seseorang yang tadi berbicara dengan Hanna mendekati Hanna.


"Silahkan duduk di kursi sana mbak," ujarnya mempersilahkan, Hanna terlihat diam saja dengan wajah lesu, dan akhirnya dia bangkit, membersihkan celananya yang digunakan ngelesot di bawah tadi. Hanna menyeret langkahnya dan duduk di kursi yang ditunjukkan polisi tersebut.


Hanna melihat ponselnya, mencoba menghubungi Kamila. Namun tidak berhasil, terdengar nada sibuk di ponsel Kamila. Hanna semakin cemas. Bagaimana keadaan Rayyan di dalam sana? siapakah teman yang membawa Rayyan masuk ke dalam dunia gelap ini. Hanna berdiri dari kursinya dan mencoba melihat keadaan Rayyan dari balik kaca. Namun nihil, sama sekali tidak dapat melihat Rayyan. Hanna berjalan mondar-mandir.


"Saya pengacara dari Rayyan," ucap seorang laki-laki dengan memakai jaket sambil menunjukkan  sebuah kartu yang menunjukkan dia adalah advokad. Tapi tanpa itupun mereka akan tahu, karena wajahnya sering wara-wiri di televisi. Seorang pengacara kondang dan ternama di negeri ini. Hanna mendekat ke arah pengacara tersebut.


"Mohon saya ikut dengan anda, saya tunangannya," Hanna langsung berbicara pada advokat tersebut tanpa basa-basi. Karena pengacara sudah datang, maka polisi mempersilahkan mereka masuk ke dalam. Hanna lega, akhirnya dia akan bertemu dengan Rayyan.


Dan nampak Rayyan dengan wajah lelah berada di sebuah ruangan pemeriksaan. Dan satu lagi laki-laki yang ada di samping Rayyan. Tidak lain adalah Garry.


Hanna menunggu di sebuah kursi yang berjarak dari Rayyan, dari wajah Rayyan yang lelah itu dia melihat Hanna yang datang, senyum mengembang di sana.


"Sial, bisa-bisanya dia senyum seperti itu," rutuk Hanna.


Pengacara itu terlebih dahulu  berbicara dengan Rayyan. Setelah ada beberapa menit berbicara dengan penyidik, akhirnya Rayyan diperbolehkan untuk berbicara dengan Hanna. Meskipun hanya singkat.


"Kamu baik-baik saja,?" tanya Rayyan pada Hanna, dia tahu jika Hanna butuh tenaga ekstra untuk datang ke tempat ini di tengah malam seperti ini. Rayyan memegang pipi Hanna. Hanna ingin mengumpatnya, hanya saja dia tidak tega. Tidak mau membuat situasi ini semakin runyam.


"Seharusnya aku yang tanya itu," Hanna nampak kesal.


"Aku tahu kamu marah, tapi nanti kamu akan tahu kebenarannya,"


"Aku...,"


"Aku tahu kamu kecewa dengan keadaan ini, tapi terima kasih sudah menjadi orang pertama yang kesini, aku semakin mencintaimu," Rayyan menyunggingkan senyumnya dengan bangga.


"Ih di saat seperti ini pun masih ngegombal ya...," Hanna sebal.


"Ya sudah, aku balik dulu, yang jelas aku senang kamu baik-baik saja, percayalah aku akan baik-baik saja," Rayyan melempar senyum simpulnya sebelum meninggalkan Hanna menuju pengacaranya lagi. Dan bersiap untuk dilakukan pemeriksaan. Hanna melihat dari kursi yang tadi, sedangkan pengacara Rayyan nampak sibuk mengisi berkas dan berbincang dengan beberapa anggota.


Hanna melihat jam tangannya, sudah 3 jam lebih dia berada di sana, sesekali Hanna mengusap wajahnya menghilangkan rasa kantuknya.


"Pulanglah, sopir Rayyan sudah berada di depan menjemputmu," ucap suara itu dengan datar, Hanna membelalakkan mata agar ngantuknya pergi. Suara dari pengacara itu membangunkannya dari kantuk.


"Oh," Hanna melihat pengacara itu.


"Iya pulanglah, dan jangan mengatakan apapun pada wartawan tentang kasus ini sebelum semua jelas ya," pesan pengacara itu. Hanna mengangguk.


"Tolong Rayyan pak," harap Hanna.


"Sebisa mungkin," ucapnya dengan senyum kecil, senyum pertama yang dia lihat sejak kedatangannya tadi. Hanna akhirnya harus pulang tanpa bisa bertemu dengan Rayyan lagi, karena Rayyan sudah berada di ruang penyidikan yang tertutup.


Terasa sesak dada Hanna, Hanna mencoba mencari jalan lain dengan dibantu anggota polisi untuk sampai di mobil yang menjemputnya. Agar tidak bertemu dengan wartawan yang masih nongkrong di depan kantor polisi dengan tertib itu.


Air mata Hanna lolos begitu saja, terasa berat tekanan yang sedang dia rasakan sekarang. Merasa gagal menjadi salah satu bagian penting dari hidup Rayyan. Kenapa Rayyan bisa terjerumus ke obat terlarang itu? Hanna terisak, pandangannya melihat ke arah jendela. Sesekali dia mengusap air matanya dengan tangannya. Hampir subuh dia sampai rumah, dan dia berharap ini hanya mimpi saja. Mimpi buruk, yang saat bangun nanti semua akan pergi dan kembali baik-baik saja.