
"Suka" jawab Hanna jujur mengenai makanan yang dibahas oleh Rayyan, dia merasa telat mengatakan terima kasih sekarang.
"Ok sama-sama, dan pertanyaanku sekarang, tolong jawab" Rayyan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Apa?" Hanna melebarkan matanya.
"Apakah kamu benar-benar...?" Rayyan menggantung pertanyaannya, matanya melirik ke arah perutnya. Hanna menyipitkan mata, mencoba mencerna kode yang dilemparkan Rayyan.
"Apaaa?" Hanna penasaran.
"Kamu hamil dengan siapa?" Rayyan menggaruk dahinya, pandangannya melihat lantai. Hanna menahan tawanya
dan beberapa detik kemudian dia benar-benar tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Malah ketawa" Rayyan melihat Hanna dengan aneh. "Kamu benar-benar menakutkan" Rayyan melotot melihat Hanna, yang dilihat masih tertawa ngakak.
"Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu percaya dengan aktingku tadi?" tanya Hanna, tawanya kini mereda. Rayyan mengembalikan ukuran matanya yang tadi melotot, dia menghela nafas. Iya juga, mana mungkin Hanna hamil, menyentuhpun dia tak pernah.
"Iya juga, tapi..."
"Apa?" Hanna melihat Rayyan.
"Jangan-jangan sama pacar kamu?" Rayyan menyelidik.
"Eh jangan kurang aj*r ya...ya kali aku hamil sama orang lain, ehm...aku...aku menghargai kontrak kita" suara Hanna mendadak menjadi lirih. Rayyan menatap serius ke arah Hanna.
"Ngapain bahas ini sih?" Hanna mengibaskan tangannya ke udara.
"Lah kamu dulu ngapain bilang hamil ke Brian?"
"Itu kan drama, jangan mikir yang aneh-aneh ya...." Hanna meninggalkan Rayyan yang masih di dapur. "Kenapa? aktingku jauh lebih baik dari aktingmu ya?" Hanna berteriak sambil melihat ke belakang, jarak mereka sudah agak jauh sekarang. Hanna sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Kamu.....asal kamu tahu ya, aku tahun ini masuk dalam kategori aktor terbaik, dan 3 tahun bertutut-turut aku yang memenangkannya, itu bukti" Rayyan juga berteriak. Hanna tak peduli, dia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya, seolah tak peduli dengan apa yang diakatakan oleh Rayyan. Rayyan mendengus sebal, kemudian dia naik ke tangga menuju kamarnya.
***
Rayyan masuk ke dalam kamarnya, ucapan Brian sedikit mengganggu pikirannya. Dia juga teringat akan perjanjian,
jika sampai dia nekat maka karirnya akan hancur. Tapi dia juga teringat akan ucapan Talitha. Rayyan menghela nafas berat dan panjang. Dia seolah menjadi makhluk yang tidak punya integritas.
Tangannya mengambil ponsel yang ada di atas nakas samping ranjangnya, jarinya memencet sebuah nomor, mencoba menghubungi Talitha. Sudah tiga kali panggilan, tapi tak ada jawaban. Rayyan mengangkat kedua alisnya, lalu kembali meletakkan ponselnya di sampingnya. Rayyan bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi, dia segera mandi untuk menyegarkan diri.
Sementara Hanna sudah selesai mandi, dia memilih menikmati sore di samping rumah sambil membawa secangkir kopi, aromanya menusuk indra penciuman, ditemani gerimis kecil yang turun pada sore ini, sehingga matahari yang akan kembali ke peraduan tidak terlihat sama sekali. Rayyan sudah berada di pintu samping, melihat Hanna sedang bersantai. Rayyan mendekat, Hanna sadar akan kedatangan Rayyan. Tanpa menunggu, Rayyan duduk di salah satu kursi yang ada di samping meja kecil.
"Terkadang kita perlu menikmati hal seperti ini" Hanna menyesap kopinya lalu meletakkannya di atas meja. "Santai"
"Hidupmu terlalu santai" ucap Rayyan sambil tertawa sinis.
"Apa maksudmu?" Hanna melihat Rayyan.
"Tujuan hidupmu tak jelas"
Hanna mendelik, bagaimana bisa Rayyan mengatakan tujuan hidupnya tak jelas. Jelas, sangat jelas. Dia kuliah, dan setelahnya dia akan mencari kerja di samping mengembangkan jasa laundry di rumahnya. Dan menikah tentunya.
"Nggak usah mengurusi hidupku, koridor kita masing-masing" ungkap Hanna sebal. Rayyan melihat Hanna lalu dia tersenyum tanpa dosa membuat gadis di sampingnya sebal.
Hanna kembali meraih cangkir yang berisi kopi yang sudah mulai memudar hangatnya, lebih ke dingin.
"Aku juga tak mengerti jalan hidupmu" ungkap Hanna setelah menyesap kopinya, kali ini sudah tandas.
"Maksudmu?" Rayyan kembali menatap Hanna.
"Kenapa kamu masih saja mengejar Talitha?" Hanna menatap dengan tajam.
"Tak perlu kamu membahasnya" Rayyan berucap dingin. Hanna tertawa sinis. Mengapa Rayyan repot-repot menyorot hidupnya jika hidupnya sendiri tak ingin dikulik.
"Pantas saja Kamila gedek sama kamu, harusnya kamu bisa berpikir" Hanna bangkit dari kursinya lalu meninggalkan Rayyan, gerimis sore ini telah berhenti, udara sejuk menyeruak. Rayyan masih duduk di kursi tersebut dengan tenang sambil merenungkan apa yang diucapkan oleh Kamila.
Hanna menjalani hari-harinya seperti biasa, Nayo juga sibuk kuliah dan sebentar lagi akan masuk semester kedua. Bisnis Ayahnya juga berjalan dengan baik, begitu juga Hanna. Ini sudah mendekati waktu berakhir menuju batas kontrak pernikahan dengan Rayyan. Hanna masih suka memasak dan Rayyan menikmatinya, Hanna masih suka mencuci baju Rayyan dan selalu mendapat tips dari Rayyan, meskipun dia sudah menolaknya karena tak enak hati. Rayyan terlalu royal dalam memberikannya uang.
Sebentar lagi dies natalis kampus juga akan terlaksana, Hanna merasa tidak sabar menunggu semua waktu itu akan tiba. Itu tandanya dia akan kembali pada aktivitas normalnya. Pulang ke rumah dan bekerja seperti dulu lagi. Meskipun di rumah ini penuh dengan kemewahan, dan jauh lebih nyaman. Akan tetapi dia jika dia disuruh memilih, maka dia akan memilih rumahnya.
Hanna memainkan ponselnya, ada beberapa pesan masuk dari Bian dan Kia, menanyakan persiapan acara kampus. Dan sampai detik ini juga dia berhasil menyimpan rahasia bahwa dia adalah istri dari Rayyan.
Bagi Rayyan, kehadiran Hanna tak bermakna apa-apa, orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya itu ya...kadang-kadang membuatnya terhibur, kadang-kadang membuatnya sebal tapi cukup menyenangkan. Rayyan menepuk dahinya, mengapa dia memberikan penilaian pada gadis itu. Dan kebanyakan penilaian yang bagus, Rayyan tersenyum kecil.
Rayyan tersadar dari lamunannya saat ponselnya berdering.
"Sayang aku lagi tidur tadi, nggak bisa angkat telponmu" ucap lawan bicara yaitu Talitha. Rayyan mengangguk paham meskipun dia tidak terlihat oleh Talitha.
"Kita bertemu besok ya, ada hal penting yang akan aku sampaikan ke kamu" Rayyan tersenyum simpul.
Dia sudah memutuskan, setelah perceraiannya dengan Hanna dia akan segera memutuskan. Apakah dia akan melamar Talitha atau meninggalkan. Yang pasti rasa takutnya akan karir dan lain sebagainya sudah tak ada.