
Rayyan nampak sudah memejamkan matanya, tidur telentang dengan tenang. Nampak tidak terusik dengan ranjang yang sempit. Berbeda dengan Hanna, dia merasa aneh dengan adanya orang asing yang ada di sampingnya. Sejak kecil dia selalu bersama ranjang ini, tapi kali ini ada orang asing. Dan itu benar-benar aneh.
Hanna menengok ke sampingnya, dilihatnya tak ada suara berisik dari Rayyan, yang ada nafas halus dari laki-laki tampan itu. Hanna kembali memiringkan tubuhnya, membelakangi Rayyan. Dia sama sekali belum bisa memejamkan matanya, sangat tidak nyaman. Hanna melihat ke arah tembok kamarnya, dia menyesal kenapa seharian dia tidak menyempatkan melepas semua posternya, ini sangat memalukan. Kini Rayyan tahu jika dia mengidolakannya. Hanna menghembuskan nafas panjang.
Hanna sedang tidak nyaman, ranjang yang sempit itu semakin terasa sangat sempit.
"Kenapa dia bisa tidur nyenyak?" bisiknya sangat lirih sambil masih membelakangi Rayyan.
Suara adzan terdengar nyaring, Hanna mengucek matanya. Perasaan baru saja dia tertidur. Hanna merentangkan kedua tangannya, dan saat tersadar tangannya menyentuh badan seseorang, dan akhirnya dia sadar jika memang ada makhluk lain di sini. Hanna berjingkat dan turun dari ranjang, dia melihat Rayyan masih tidur nyenyak di ranjangnya. Laki-laki itu masih dengan posisi yang sama, sangat anteng. Hanna melihat wajah tampan itu sedang terlelap.Setelah melihat wajah Rayyan dalam bentuk nyata, Hanna melihat ke arah tembok kamarnya di mana wajah Rayyan dalam bentuk tak nyata alias poster.
"Mau kemana?" suara Rayyan serak. Hanna yang baru akan melangkah kembali menengok ke sumber suara. Dilihatnya Rayyan masih memejamkan matanya.
"Hah?" ujar Hanna merespon.
"Masih terlalu pagi, sini balik lagi" ajak Rayyan, tangan kanannya menepuk ranjang di sampingnya. Hanna mengerjab, sungguh laki-laki yang ada di depannya itu menakutkan. Karena takut terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan, maka Hanna memilih keluar dari kamar.
Rayyan berguncang tubuhnya karena tertawa, lucu juga menggoda Hanna. Rayyan mengucek matanya, dia tak sepenuhnya tidur nyenyak. Hanya saja dia merasa nyaman berada di kamar ini, meskipun ini termasuk dalam ukuran yang sempit. Tapi dia begitu nyaman. Rayyan bangkit dari ranjang dan kakinya menapak ke lantai, seketika dia kembali tergelak karena melihat begitu banyak poster yang bergambar dirinya. Setengah tidak percaya, bisa-bisanya Hanna dapat menyembunyikannya.
Terdengar suara percakapan dari luar kamar, jelas itu adalah suara Pak Handi dan Hanna. Rayyan keluar dari kamar dan melihat di mana sumber suara.
"Han...siapkanlah air hangat untuk suamimu mandi" perintah Pak Handi pada Hanna yang tengah sibuk di kamar.
"Hah? kenapa yah? dia nggak biasa mandi pagi" cerocos Hanna seolah sudah hapal kebiasaan Rayyan. Rayyan membelalakkan matanya. Dari mana Hanna tau kebiasaannya.
Seolah Hanna mengerti pertanyaan Rayyan, "Soalnya dia selalu ke dapur sarapan dengan keadaan acak-acakan belum mandi, dia mandi jika hanya akan keluar pagi" imbuh Hanna enteng.
"Ah sudahlah, siapkan saja" ayahnya memberikan perintah. Hanna mengangguk, dia mengalah.
Selesai sarapan, Hanna dan Rayyan berpamitan dengan Pak Handi, Hanna akan ada kuliah siang dan Rayyan pun akan ada kerjaan sore ini.
***
"Haaaannnn" teriak Bian dari kejauhan. Laki-laki itu masih saja menarik hati Hanna, nampak sangat sempurna di matanya. Hanna menoleh, dia baru saja menyelesaikan kelas kuliahnya sore ini.
"Iya mas?" Hanna tersenyum.
"Sudah fix kan?"
"Sip" Hanna mengangkat jempol tangan kananya. "Apa perlu nanti rapat lagi?" tanya Hanna.
"Ok mas" Hanna kembali mengangkat jempolnya.
"Sudah makan?" tanya Bian. Hanna menggeleng, siang tadi dia sengaja tidak masak, terakhir dia makan ssaat di rumah ayahnya tadi.
"Ok, kita makan" Bian menggandeng tangan Hanna menuju parkir, Bian membawa mobil kali ini.
"Tapi aku mau pulang" Hanna mencoba menolak.
"Nanti aku antar dah"
"Eh..nggak usah, aku bawa motor" Hanna menyeringai.
"Ok, nanti aku antar ke parkiran lagi kalau sudah selesai makan, nggak enak kalau makan sendirian" Bian sudah duduk di kursi kemudi, sementara Hanna pun tak bisa menolak.
"Ok"
Bian membawa Hanna ke sebuah restoran, bagi Hanna ini terlalu mewah.
"Nggak salah?" tanya Hanna saat baru turun dari mobil Bian.
"Sekali-kali lah" Bian melangkah dulu, Hanna mengikuti. Suasana restoran sore ini nampak sangat ramai. Hanna memperhatikan sekitarnya, dan memang ramai. Di ruang sebelah ditata sedemikian rupa untuk sebuah acara.
"Ada acara apaan?" gumam Hanna. Tak ada yang menjawab, karena dia juga tidak bertanya pada orang, dia hanya bergumam pada diri sendiri.
Bian sudah duduk di kursi, Hanna pun ikut duduk di sana. "Rame banget" Hanna berbicara pada Bian.
"Iya, tapi nggak apa-apa lah, kita juga di sini bayar, nggak bakalan diusir kok" Bian tertawa, manis sekali. Fix, Hanna sangat senang melihat senyuman Bian.
"Eh bentar ya Han, aku ke toilet dulu"
"Siap" Hanna mengangguk. Sembari menunggu makanan datang dan menunggu Bian kembali ke kursinya, Hanna memperhatikan sekitarnya, restoran ini memang mewah dan dari dandadan para pelanggan yang datang, mereka juga mewah. Kecuali dirinya, dia yang hanya seadanya.
Tak berapa lama Bian kembali, ternyata makanan sudah tersaji di atas meja.
"Makan yuk" ajak Bian, Hanna mengangguk. Perutnya juga terasa lapar sejak tadi, hanya saja dia gengsi jika harus mengajak makan duluan. Bian menatap Hanna, membuat Hanna salah tingkah.
Sementara di tempat yang lain, ada pandangan tak suka ke arah mereka berdua.