
Hanna memang tak ada matinya, seperti bola bekel yang bisa meloncat kesana kemari. Setelah seharian beraktivitas di luar pun dia masih prima untuk melakukan pekerjaan mencuci malam ini. Hanna menyeret keranjang berisi pakaian kotor ke dekat mesin cuci, dengan cekatan dia memasukkannya.
Hanna menunggunya sambil bernyanyi tak karuan, tentu dengan suaranya yang sama sekali tak enak didengarkan itu, nada sumbang di sana sini, sungguh menjadi polusi telinga.
Rayyan yang berada di dekat Hanna tanpa sepengetahuan Hanna terlihat menututp kedua telinganya, sesekali dia tersenyum geli mendengar suara Hanna yang hancur lebur itu. Lagu miliknya yang biasanya dibawakannya dengan alunan suaranya yang merdu menjadi hancur dan tak layak, bahkan terlihat bukan sebuah lagu. Rayyan menggelengkan kepalanya.
"Sudah...hentikan, kamu merusak keindahan laguku" Rayyan tidak tahan lagi. Hanna tersentak, mengalihkan pandangannya dari mesin cuci yang berputar ke arah sumber suara, yaitu Rayyan yang ada tak jauh darinya.
"Kamu...." Hanna melihat dengan tatapan agak kaget ke arah Rayyan, dia tidak tahu sejak kapan Rayyan berdiri di sana.
"Bisa-bisa kamu dituntut sama yang punya lagu, kenapa lagu sebagus itu jadi buruk sekali saat kau dendangkan, ck..." Rayya berdecak, dia melipat kedua tangannya, seolah sedang mengejek Hanna. Hanna tak peduli.
"Itu hanya sekedar mengusir sepi, ngapain nyanyi gitu aja dituntut"
Rayyan tidak membalas apa yang diucapkan Hanna, dia masih melihat gadis yang ada di depannya itu, masih seperti kemarin, cuek dan tidak sakit hati dengan apapun yang dia ucapkan. Salah satu hal yang membuatnya benar-benar merasa aneh dengan Hanna, tapi juga konyol baginya.
"Memang kamu tahu lag itu milik siapa?" Rayyan menaikkan kedua alisnya. Hanna ingin menyahut sesegera mungkin, tapi urung. Siapa coba yang nggak tahu lagu Cinta Suci yang dia nyanyikan itu, seantero negeri juga hapal. Karena lagu itu booming banget, dan Hanna melihat penyanyi aslinya berada di depannya sekarang.
Hanna menunjuk ke arah Rayyan dengan ekspresi datar, dia menahan rasa antusiasnya pada Rayyan, laki-laki yang ada di depannya tetaplah menghipnotisnya sebagai superstar. Tapi Hanna harus benar-benar menahannya, karena dia tahu kalau Rayyan tak bisa dibuat besar kepala olehnya, bisa-bisa jahilnya makin menjadi.
"Nah itu tahu" Rayyan berpetuk tangan. "Aku akan menuntumu karena kamu merusak laguku"
Hanna mendengus, dia yakin-seyakinnya bahwa Rayyan hanya sedang menjahilinya, dan dia tak akan takut.
"Memangnya kamu tega melaporkan istrimu sendiri?" Hanna tersenyum menggoda, sambil mengedipkan matanya berkali-kali, ide itu muncul seketika. Dan ternyata sukses membuat Rayyan bergidik. Ternyata Hanna menyeramkan juga jika genit begitu.
"Hisssh" Rayyan geli melihat Hanna. Hanna tertawa puas, berhasil membuat Rayyan mengeluarkan ekspresi takut padanya, lebih tepatnya geli. Hanna mengambil cucian kering dari mesin cuci dan memindahkannya ke dalam keranjang yang lain, selanjutnya dia kembali memasukkan pakaian kotor lainnya. Hanna membawa keranjang ke tempat penjemuran.
Rayyan pun mengikuti langkah Hanna, Hanna kembali melirik Rayyan, tangannya meletakkan keranjang tersebut. Dia mulai menjemur satu per satu pakaian semi basah itu.
"Apa lagi? ini cucian bersih, tenang saja" Hanna tak melihat ke arah Rayya saat berbicara, dia sibuk dengan pakaian tersebut.
"Sudah aku bilang, jangan sembarangan dekat sama cowok" Rayyan mengungkapkan. Hanna masih konsentrasi dengan aktivitasnya, seolah mengabaikan apa yang diucapkan oleh Rayyan.
"Heh....aku ngomong" Rayyan protes. Hanna selesai dengan aktivitas menjemurnya, dia kembali ke ruang cuci untuk menunggu cucian lainnya.
"Maksudnya?" Hanna meletakkan keranjang kosong, kini dia menghadap Rayyan sambil berdiri, jarak mereka tak sampai 2 meter.
"Sama siapa kamu tadii siang?" Rayyan menuju ke inti pembicaraan.
"Hah? tadi siang?"
"Oh...temen" Hanna menyadari jika laki-laki yang dimaksud adalah Bian. "Eh tapi dari mana kamu tahu?"
"Hehm...sudah aku bilang kan, jangan sembarangan dekat dengan cowok lain, kalau sampai Brian tahu, waduh...celakalah aku, kalau aku celaka maka kamu juga" Rayyan berceloteh dengan nada sedikit mengancam. Hanna masih penasaran darimana Rayyan tahu hal itu.
"Tahu dari mana sih?" Hanna masih penasaran.
"Kamu lupa jika aku ini seleb hits, ada banyak mata yang kusebar, janganku kamu yang segede ini, semut pun bisa aku mata-matai" Rayyan menunjuk ke arah Hanna. Hanna terkesiap, apa benar yang diucapkan Rayyan. Apa benar Rayyan menyuruh seseorang untuk memata-matai dia? ah sekiranya ini sudah berlebihan. Hanna merasa dia bukan siapa-siapa. "Jadi, jangan lagi dekat dengan cowok manapun selama perjanjian ini masih berlaku!"
Hanna terdiam.
"Atau dia tadi lagi nembak kamu? ada kalimat, "mau nggak"?" Rayyan mencoba menirukan suara Bian, tapi tidak mirip sama sekali. Hanna semakin heran dan penasaran, kok bisa-bisanya Rayyan tahu apa yang terjadi siang tadi. "Terus jawaban kamu apa?"
"Rahasia" jawab Hanna sekenanya.
"Eh...aku ini suami kamu, jangan main rahasia" celos Rayyan. Hanna tertawa ngakak, membuat Rayyan tersadar jika apa yang dia ucapkan terlalu berlebihan. "Ehm...maksudku kita masih di perjanjian, jadi kamu jangan selingkuh" Rayyan menurunkan nada bicaranya, menjadi lebih tenang tanpa emosi.
"Itu tadi lagi ngebahas acara dies natalis kampus, jadi dia mau ngundang kamu" ujar Hanna akhirnya.
Rayyan terdiam sesaat, apakah memang hanya itu tadi yang dibicarakan oleh Hanna dan cowok tadi? kenapa kok akrab sekali, bahkan Hanna ditanyai mau apa enggak.
"Aku nggak mau"
Hanna tersentak mendengar Rayyan, "Eh jangan begitu, kita bener-bener mau ngundang kamu, sudah deal juga sama Kamila, tinggal memastikan aja ini"
"Nggak mau...selama di balik layar kamu dekat sama cowok, NO! aku masih ingin karirku panjang, ingat ya...mata-mata brian ada di mana-mana, jangan sampai setelah ini kamu masuk ke infotainment" Rayyan mengancam.
Hanna mengambil nafas panjang, "Please ya....Ehm...Rayyan....ini murni kegiatan kuliah aku, dan kita setim. Jadi tolong, jangan batalin pelase...." Hanna memohon, dia kasihan pada Bian jika acara nanti batal mendatangkan Rayyan sebagai bintang tamunya. Begitu juga dengan tim yang sudah sangat semangat.
Rayyan sebenarnya masih penasaran dengan apa yang sebenarnya dibahas Hanna dan Bian siang tadi, dia yakin bahwa bahasan tersebut tidak hanya membahas tentang acara dies natalis, tapi dia juga tidak mau terlalu banyak bertanya, takut Hanna merasa besar kepala. Dia merasa sudah cukup mengingatkan agar Hanna tak terlalu dekat dengan lawan jenis.
"Besok masak, aku sudah beli bahan masakan" ungkap Rayyan akhirnya.
"Siap"
"Dan lagi, itu camilan, buat kamu kalau malam-malam kelaparan" Rayyan berlalu meninggalkan Hanna.
"Terima kasiiiih" Hanna sedikit berteriak, dia tertawa senang. Tidak terlalu buruk, ternyata Rayyan ada sisi baiknya juga, cuma yang masih mengganjal adalah, bagaimana Rayyan tahu dia bersama Bian. Sementara itu Rayyan masuk ke dalam kamar, hatinya masih merasa ada yang mengganjal pula, siapa cowok yang bersama dengan Hanna tadi sebenarnya.