
Hanna berjalan sejajar dengan Bian, nampak anggun dan serasi meskipun tinggi badan mereka tak imbang, bisa dikatakan demikian karena memang Bian terlihat menjulang. Hanna melihat ke arah Bian, dia nampak ragu melangkah, Bian ikut menghentikan langkahnya.
Bian tersenyum, "Bantu aku" ucapnya lagi-lagi. Hanna memejamkan mata dan menghela nafas panjang.
Nampak sebuah meja yang agak besar di sana, terdapat beberapa orang. Semua memalingkan wajah ke arah Bian dan tentunya dia. Hanna merasa menjadi pusat perhatian. Tak ada yang Hanna kenal di antara mereka. Bian melambaikan tangan ke arah mereka. Hanna kikuk, semakin tidak tahu apa yang ada di hadapannya.
Tunggu, ada seorang perempuan yang tak asing, iya, dia adalah Mona. Sedang apa mereka semua di sini, dan buat apa Hanna diajak Bian kesini? pertanyaan semakin berkecamuk di pikirannya. Apa maksud dari semua ini?
Hanna dan Bian semakin mendekat ke meja, Hanna membungkukkan badan kepada semua orang kemudian dia menyalami satu per satu.
Seorang laki-laki yang sudah mulai memutih rambutnya nampak memandang ke arah Hanna, seolah sedang menguliti. Sumpah, setelah acara nggak jelas ini, Hanna akan memaki Bian. Sedang apa Bian ini? rencana apa ini?. Dia seperti sedang masuk ke dalam kandang macan.
"Apakah ini?" tanya laki-laki itu pada Hanna. Hanna hanya melihat ke arah Bian, dia benar-benar tidak tahu maksud dari pertanyaan laki-laki itu.
"Iya Pa" sahut Bian, kedua tangan Bian memegang kedua pundak Hanna dari arah agak belakang. Hanna terhenyak, Bian mengedipkan mata ke arah Hanna, mungkin itu hanya sebuah kode.
"Iya Pa, ini adalah pacarku" jelas Bian. Mendengar kalimat itu, Hanna semakin tercekat. Apa yang dilakukan Bian. Hanna masih sempat memperhatikan orang-orang yang sedang duduk itu, mata mereka semakin sedang menguliti Hanna. Hanna hanya bisa tersenyum, entah bagaimana bentuk senyumnya kali ini.
"Ayo duduk dulu" sahut seorang wanita yang anggun itu, mungkin itu adalah Ibu Bian.
"Iya ayo duduk" sahut Bian sambil menarik kursi untuk Hanna.
Mona nampak terdiam, nampak kekecewaan di wajahnya, bisa-bisanya Bian membawa seorang perempuan di acara temu keluarga ini. Hanna sempat melihat Mona, perempuan itu tersenyum terpaksa di hadapan Hanna.
"Oh...jadi sudah ada calon nih?" tanya laki-laki yang ada di samping Mona, Hanna meyakini jika laki-laki itu adalah ayah Mona.
"Iya om" jawab Bian tanpa ragu. Gila nggak sih Bian? teriak Hanna dalam hati.
"Tuh kan Mona...Papa tidak bisa berbuat apa-apa" ujar laki-laki itu menghadap Mona, anaknya. "Dan dengan begini, papa akan tetap bersahabat dengan Pak Burhan, bukan begitu pak?" tanya Papa Mona pada Papa Bian.
"Iya" sahut Pak Burhan, tapi raut wajah tidak bisa dibohongi, bahwa Papa Bian agak kecewa dengan Bian. Hanna menduga, bahwa laki-laki itu berharap Bian bisa bersanding dengan Mona.
"Ayo kita makan" sahut Mama Bian.
Malam itu menjadi malam yang panjang, terlebih bagi Hanna yang sedang berada di sarang penyamun, hanya senyam senyum dan menimpali pembicaraan yang tidak jelas baginya. Selain membicarakan masalah bisnis, mereka hanya sekedar bertemu untuk makan malam, dan poinnya adalah menunjukkan bahwa Bian "menolak" Mona, itu.
Semua sudah berada di parkiran dan berada di mobil masing-masing untuk pulang, tinggalah Hanna dan Bian, Hanna diam saja, hatinya merasa dongkol. Untuk hal sebesar ini mengapa Bian seolah mengorbankan Hanna.
"Aku minta maaf jika kamu tidak nyaman" ucap Bian, seolah tahu jika Hanna sedang kecewa padanya.
"Untuk hal seperti ini mengapa harus begini sih" Hanna menjawab.
"Iya, aku tahu aku salah, aku minta maaf"
"Kamu sudah membohongi semua orang" ujar Hanna. Bian menghela nafas panjang.
"Masuklah, kita bicara di dalam, lagian ini sudah malam, ayo aku antar kamu pulang" ajak Bian, Hanna menurut, sehingga dia masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengamannya.
"Aku marah dan kecewa padamu mas" ungkap Hanna tanpa ditutupi.
"Iya, kamu boleh marah. Aku nggak punya pilihan Han, makanya kamu yang aku bawa, maaf"
"Kenapa?" Hanna protes. Dia merasa tidak pantas berada di sisi Bian, apalagi ada Mona, bagaimana perasaan Mona jika dia tahu kalau Hanna yang menjadi pacar Bian, meskipun itu hanya pura-pura. Apakah tidak ada cewek lain yang tentunya akan senang hati bersanding dengan Bian.
Hanna menoleh ke arah Bian.
"Kamu yang dekat aku saat ini Han" ungkap Bian jujur, meskipun dia beken, terkenal, dan banyak yang suka, bukan berarti dia akan mudah nyaman dengan banyak cewek sebelum mengenalnya. Hanna lah yang menjadi pilihannya.
Hanna terdiam, agak sedikit tersanjung dengan jawaban Bian, tapi bukan begini caranya. Hanna sudah membohongi banyak orang, termasuk orang tua Bian.
"Aku melakukan agar Papa nggak selalu merongrong aku untuk berjodoh dengan Mona, itu aja sih" Bian jujur. "Maaf ya..." ucapnya lagi.
"Harusnya ngomong dari awal sih mas kalau rencananya bakal seperti ini, tahu nggak? aku merasa berada di sarang penyamun, yang nggak tahu harus bagaimana, harus ngomong apa?" Hanna menepuk dahinya.
"Aku sudah minta maaf, dimaafin nggak?"
"Nggak" jawab Hanna pura-pura merajuk.
Terdengar suara tawa nyaring dari Bian.
"Terus nanti kalau Papa dan Mama kamu nanyain melulu bagaimana? aku harus pura-pura lagi gitu?"
"Nggak usah pura-pura, beneran aja"
"Maksudnyaaa?" Hanna mendelik. Bian semakin tertawa.
"Ah enggak...enggak....Papa Mama kalau sudah tahu begitu ya sudah, nggak bakal nanya-nanya lagi, yang penting sekarang nggak lagi dijodoh-jodohkan dengan Mona, gitu aja sih"
Bian bersikukuh untuk mengantarkan Hanna pulang sampai rumahnya. Tapi begitu juga Hanna, dia juga nggak mau diantar pulang oleh Bian.
"Sudah, cukup ya mas...antar saja aku sampai di motorku yang tadi"
"Tapi ini sudah malam Han" Bian khawatir.
"Sudah ya...apa mas Bian mau aku marah kedua kali? tolong antar aku sampai sini saja, dan pulanglah, rumahku masuk gang, nggak mungkin bisa dilewati mobil" Hanna beralasan.
"Ok ok....baik...terima kasih Nona...dan maaf ya...." Bian mengelus kepala Hanna. Darah Hanna terasa berdesir, seolah waktu berhenti berputar sejenak. Ah...Hanna semakin merasa ada yang aneh.
Bian membukakan pintu mobil, Hanna kembali sadar dari lamunannya. Segera dia keluar dari mobil.
"Terima kasih"
"Sama-sama"
"Eh ini bajunya bagaimana?" Hanna memegang baju yang dia kenakan.
"Masa iya suruh balikin, buat kamu lah" jawab Bian manis. Hanna semakin oleng, kenapa Bian begitu menawan.
"Oh, iya" jawab Hanna kikuk.
Bian mengambilkan motor Hanna, Hanna memakai helmnya, tak peduli tatanan rambutnya rusak atau tidak. Hanna melambaikan tangan kirinya sebelum menarik gas motor pada Bian. Bian membalas lambaian tangan Hanna.
Sepanjang jalan menuju rumah Rayyan, ada rasa jengkel, tapi juga rasa bahagia yang tak bisa dia ungkapkan. Jika hal tersebut benar adanya, maka impiannya menjadi nyata. Tapi...apakah benar Bian suka padanya? ah jelas tidak. Hanna buru-buru menepis pikirannya sendiri. Rencana Bian malam ini sungguh membuatnya ingin marah tapi juga membuatnya terbang.