Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Berpisahkah Kita?


Kamila baru saja keliar dari lift, dia nampak membenahi tasĀ  warna hitamnya. Lalu dia menyadari jika yang ada di dekat Rayyan adalah Hanna. Kamila melihat Hanna dengan datar, bukan karena benci gadis itu. Karena dia harus memainkan perannya.


"Maaf" ujar Hanna kembali pada Rayyan.


"Kenapa?" tanya Kamila sambil melihat Hanna, Hanna pun menatap Kamila. Mereka pura-pura nggak kenal.


"Itu, karena kami terlambat" balas Hanna.


Kamila menaikkan kedua alisnya, lalu melihat ke arah Rayyan yang dengan cueknya sedang memainkan ponselnya. Tanpa sengaja Hanna melihat layar ponsel Rayyan, dan Rayyan sedang sibuk membaca berita online di mana di sana ada fotonya dia dan Rayyan semalam. Hanna menarik nafasnya dalam-dalam, gereget banget lihat Rayyan yang senyum-senyum bahagia di balik masker.


"Yuk kita berangkat" ajak Kamila. Hanna dan Kia mengangguk. Kia memegang lengan Hanna.


"Tampan banget" bisik Kia pada Hanna, entah ini sudah terucap berapa kali. Hanna membiarkan saja Kia begitu.


"Awas saja nanti" bisik Hanna. Kia melihat Hanna sambil mendelik.


"Apa salahku?" tanya Kia pada Hanna, Hanna tertawa sambil menggeleng.


"Bukan, yuk ah" Hanna berjalan mengekor di belakang Rayyan dan Kamila. Mereka memasuki mobil yang berbeda.


"Harusnya kita semobil saja dengan mereka" ucap Rayyan pada Kamila, mereka sudah berada di dalam mobil.


"Jangan aneh-aneh kamu" Kamila melihat ke arah Rayyan.


"Kenapa?"


"Setelah ini kamu bebas" ujar Kamila. "Senang?"


Rayyan tidak segera menjawab pertanyaan simple dari Hanna, harusnya ini menjadi kebebasan dia yang selama ini dia inginkan. Tapi dia merasa aneh saja jika hari ini adalah hari terkahir di mana dia menjadi suami Hanna. Ingatan-ingatan tentang awal pertemuan dengan Hanna muncul di benaknya, senyumnya sedikit mengembang.


"Noh" Kamila menunjuk lalar ponsel Rayyan.


"Apa?"


"Buat ulah apa lagi?" tanya Kamila sambil tertawa kecil. Kali ini dia tidak marah dengan gosip yang sedang merebak tentang Rayyan, karena yang pasti itu bukan gosip dengan Talitha.


"Biarlah sekali-kali aku menikmati gosip ini, seumur-umur baru kali ini aku bahagia karena aku digosipkan, dan lebih bahagia lagi, wartawan tak akan menemukan siapa dia"


"Maksudmu apa?" tanya Kamila dengan mimik serius, mobil sudah berjalan perlahan. "Mendandani dia dengan gaya yang bukan dia" gerutu Kamila.


"Ya biarin aja, di satu sisi aku nggak ingin setelah ini dia dikejar wartawan yang ingin mengorek informasi dari dia, aku nggak ingin dia disalahkan atau apalah"


"Kamu ingin melindungi dia?" tanya Kamila lagi, kali ini mimiknya kembali serius.


"Begitulah" jawab Rayyan serius juga.


Kamila mulai menyadari jika ini mungkin sebagai ucapan terima kasih Rayyan pada Hanna, karena selama ini sudah dibantu oleh Hanna, terlepas dari kesepakatan sebelumnya.


"Ok, setelah ini kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan baik" Kamila merasa lega, tapi tidak dengan Rayyan. Terasa hampa, terasa ada yang hilang.


Mobil memasuki kampus Hanna, berjalan pelan menuju parkir yang telah disediakan untuk mobil Rayyan. Begitu juga mobil yang ditumpangi oleh Hanna dan Kia. Hanna bergegas turun dan memandu kemana Rayyan singgah di sebuah ruangan sebelum acara dimulai.


Kia dan Hanna ssangat sigap, Rayyan masuk ke dalam sebuah ruangan yang sudah disetting untuk Rayyan.


"Aku nggak mau minum ini, ini menyalahi aturan dengan sponsorku" ujar Rayyan sedikit sombong, sebenarnya hal itu ditujukan untuk mengerjai Hanna.


"Baik, akan saya ganti" ucap Hanna dengan geregetan yang ditahan.


"Cepetan ganti" teriak Hanna pada Kia.


"Iya" Kia segera berlari mengambil air mineral yang sebenarnya itu adalah salah satu sponsor di acara ini. Hanya saja bertentangan dengan sponsor yang menaungi Rayyan.


"Ribet amat jadi orang" gerutu Hanna.


"Lagian kamu tahu kan kalau ini bukan sponsorku" Rayyan melipat kedua tangannya, di ruangan itu hanya ada dia dan Rayyan.


"Sini" Rayyan menarik botol air mineral yang sudah tak ada merk yang menempel di botolnya. Hanna tak bisa berkutik dan membiarkan Rayyan mengambil botol dari tangannya.


"Itu bekasku..." Hanna memekik, tapi Rayyan tak peduli, dia minum air tersebut. Hanna menarik nafas panjang dan membiarkan begitu saja kelakuan Rayyan.


"Ini" tiba-tiba Kia masuk ke dalam ruangan sambil membawa botol air mineral sesuai permintaan Rayyan. KIa melihat Hanna dan Rayyan bergantian, dia memperhatikan Rayyan sedang memegang botol kosong, di mana Kia masih sangat ingat jika botol itu adalah milik Hanna sebelumnya.


"Ok, taruh sini" Hanna membantu meletakkan air tersebut di meja.


"Kita keluar dulu" pamit Hanna semanis mungkin.


"Tunggu" teriak Rayyan sesaat Hanna baru melangkah beberapa langkah.


"Iya?" Hanna masih memasang muka dan suara manis.


"Aku takut, jadi aku butuh teman di sini" Rayyan menahan senyum.


"Apa?" gumam Kia, dia bersedia menemani Rayyan, bahkan seumur hidupnya.


"Aku mau kamu yang berambut berantakan di sini" ujar Rayyan tanpa menunjuk Hanna. Kia merasa pupus harapan, karena orang yang dimaksud adalah Hanna.


"Ok, aku keluar dulu, jangan lupa minta foto ya..." Kia melambaikan tangan pada Hanna.


Hanna menggeram, Rayyan puas mengerjai Hanna.


"Mau kamu apa?" Hanna melipat kedua tangannya, dia melihat Rayyan sedang duduk di sofa, sedangkan Hanna masih berdiri sambil menatap sebal Rayyan.


Rayyan tiba-tiba berdiri dan menarik tangan Hanna, posisi mereka sangat berdekatan, mereka saling mendengar deruan nafas masing-masing. Hanna ciut, apakah keadaan ini sama dengan kejadian semalam.