Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Merayu Ayah


 Rayyan seolah menertawai dirinya sendiri, bagaimana bisa gadis itu cuek-cuek saja terhadapnya. Bahkan pesan pun tak ada yang dibalas. Rayyan merasa semakin penasaran, bukankah Hanna mengidolakan dia? setidaknya ini akan menjadikannya lebih mudah dekat dengan Hanna. Akan tetapi prediksinya meleset. Ada apa dengan Hanna?


Rayyan masih sibuk memegang kemudi mobilnya yang melaju dengan kecepatan sedang, dan saat melihat lampu merah yang ada di perempatan tak jauh darinya, dia segera memelankan laju mobilnya. Tepat lampu merah dia menghentikan laju mobilnya. Terlihat seorang bapak-bapak yang sedang berjualan koran dengan menggendong anak laki-lakinya yang masih berumur sekitar 5 tahunan. Bapak tersebut mendekat ke jendela mobilnya sebelah kiri, mencoba menawarkan dagangannya kepada Rayyan. Rayyan yang mengenakan kacamata hitamnya sengaja tidak melepas kacamatanya, dia membuka kaca mobil dan mengulurkan uang kepada bapak tersebut. Nampak bapak tersebut terkejut karena uang yang diterimanya banyak lebihnya dari pada harga koran yang sesungguhnya.


"Tidak ada kembaliannya mas" ujar bapak tersebut, Rayyan melihat anak bapak yang digendongnya nampak sedang tertidur pulas.


"Buat bapak dan anak bapak" jawab Rayyan, dia tertegun melihat pemandangan tersebut.


"Terima kasih mas, terima kasih banyak" nampak mata bapak penjual koran itu berkaca-kaca. Rayyan mengangguk, tersenyum kaku, lalu perlahan menutup kaca jendela mobilnya. Karena lampu rambu lalu lintas pun sudah kembali hijau.


Ingatannya seolah kembali ke masa kecilnya, di mana kala itu dia berumur 5 tahun. Hampir setiap hari dia melihat Ibunya disiksa oleh Ayahnya. Hingga kini ingatannya begitu melekat di pikirannya, dan hampir membuatnya gila sepanjang masa. Akan tetapi dengan melihat begitu banyak kebaikan hati ayah dari orang lain, seolah membukakan mata hatinya bahwa tidak semua ayah seperti itu. Sebagai contoh yang dilihatnya barusan, di mana seorang ayah sedang berjuang dengan anaknya. Rayyan melepaskan kaca mata hitamnya dan menaruh di sampingnya.


Hingga suatu hari, Ayahnya pulang dalam keadaan mabuk parah dan membawa pertengkaran hebat pun terjadi dengan ibunya, kala itu Rayyan kecil hanya menangis saat hal tersebut terjadi. Dia berada di kamar terbangun tengah malam mendengar keributan tersebut, Ibunya dilempar gelas dan dibenturkan ke tembok oleh ayahnya. Dia yang masih kecil tak tahu masalah apa yang terjadi sebenarnya.


"Ibu...apakah ibu salah? sehingga ayah melakukan hal tersebut kepada Ibu?" Rayyan kecil bertanya pada Ibunya keesok harinya, hatinya terasa kelu saat melihat banyak luka di wajah Ibunya. Seperti biasa, Ibunya hanya tersenyum mendengar pertanyaan Rayyan.


"Iya nak, Ibu yang salah" jawab Ibunya.


"Ibu salah apa?" Rayyan masih bertanya polos.


"Karena Ibu..." Ibunya masih memikirkan jawaban yang tepat meskipun harus berbohong. "Karena Ibu lupa memasak untuk ayah, ayah capek habis kerja, dan ibu lupa tidak memasak" jawabnya dengan bohong.


"Bukankah ibu tadi sudah masak, kan tadi kita makan malam berdua, kan masih ada untuk ayah" Rayyan kecil yang kritis mencoba mendebat dengan bahasa polosnya.


"Pergilah sekolah nak, nanti kamu kesiangan, ayo pergilah, ini uang sakumu" jawab Ibunya mengalihkan pembicaraan Rayyan kecil. Rayyan mengangguk, Ibunya memakaikan topi merah putih ke kepala Rayyan sebelum Rayyan keluar rumah untuk beragkat sekolah bersama dengan temannya.


        Hati Rayyan merasa tercabik hingga kini pada laki-laki yang disebut ayah itu, bahkan dia tak sudi lagi bertemu dengan laki-laki itu. Setiap hari dia melihat Ibunya tersiksa, hingga puncaknya Ibunya pernah hampir dibunuh dengan pisau dapur. Rayyan yang sudah tidak tahan lagi berteriak meminta tolong pada tetangganya. Dan akhirnya membawa Ibunya yang penuh luka itu ke rumah sakit. Sejak saat itu, Dia tak pernah lagi melihat ayahnya.


Rayyan dan Ibunya hidup berdua hingga ajal menjemput Ibunya sebelum Rayyan menapakai tangga kesuksesan seperti sekarang.


Rayyan menghela nafas panjang, gurat-gurat luka terasa memenuhi relung hatinya. Bahkan dia menggelengkan kepalanya, mencoba membuang bayangan wajah beringas ayahnya. Berkali-kali Rayyan menelan ludahnya untuk bisa menguasai emosinya.


        Apa yang Rayyan dapatkan dari peristiwa pahit hidupnya?


Rayyan menjadi pribadi yang tak peduli dengan apapun, Rayyan dewasa yang sudah kehilangan Ibunya menjadi seorang yang tidak terkendali. Dia suka main perempuan, playboy, terlebih dia menjadi bintang besar di negeri ini, perempuan yang mendekatinya ibarat tinggal nunjuk saja dia bisa mendapatkan segalanya. Hingga dia bertemu dengan Talitha yang sedikit mengurangi perangai badboy-nya. Namun dia masih bersikeras bahwa di manapun berada, seorang ayah itu tidak ada baiknya.


Hingga dia bertemu dengan ayah Hanna yang mampu menyentuh hatinya, laki-laki itu berhasil membuat hatinya kembali terketuk untuk bisa mengucap kata "ayah" dalam hidupnya.


Rayyan mengetuk pintu rumah dengan cat warna abu-abu muda itu, tidak biasanya pintu tertutup rapat. Rayyan kembali mengetuk pintu, dan tak berapa lama keluarlah Pak Handi dengan wajah yang kelihatan agak lelah.


"Selamat siang, Ayah" sapa Rayyan. Tak lupa dia menjabat tangan laki-laki yang ada di depannya itu. Pak Handi memicingkan matanya. "Rayyan" imbuh Rayyan yang seolah mengingatkan akan namanya.


Pak Handi tertawa lebar, "Masa sama menantu sendiri lupa, jelas enggak lah, ayo masuk" ajaknya dengan gembiri. "Aku senang ada teman ngobrol" guraunya, Pak Handi mendudukkan diri di kursi, diikuti oleh Rayyan. Tak lupa Rayyan memberikan beberapa buah tangan yang dia beli dari luar kota.


"Kenapa tidak bilang kalau mau kesini? atau sudah bilang ke Hanna? hah anak itu"


"Oh tidak...memang sengaja kesini tanpa memberi kabar" balas Rayyan. "Ayah sedang sakit? kok tumben ini tutup?" Rayyan bertanya perihal laundry yang biasanya ramai pelanggan.


"Apa tidak sebaiknya kita ke dokter?" Rayyan menawarkan.


"Oh tak perlu lah nak Rayyan, aku baik-baik saja" tolaknya, dia merasa baik-baik saja, dengan istirahat sehari saja akan cukup baginya. "Hanna belum datang, katanya mau nyari tempat buat magang, mungkin sebentar lagi dia datang"


Rayyan mengangguk.


"Oh ya, kamu hebat lho berani datang kesini siang hari" puji Pak Handi. Rayyan mengernyit.


"Kenapa?"


"Kan kalau siang kamu jelas kelihatan sama Ibu-ibu, bisa-bisa nanti kamu diserbu, mereka pada minta foto sama tanda tangan" Pak Handi tertawa.


Rayyan tidak berfikir sejauh itu, tapi dia juga tidak peduli dengan apa yang terjadi nantinya.


"Sebentar tak buatin minum dulu ya" Pak Handi hendak bangkit. Rayyan buru-buru meminta Pak Handi kembali duduk dengan memberikan kode kedua tangannya.


"Tak perlu repot-repot yah, terima kasih" mendengar hal itu, Pak Handi kembali duduk, dia pun memegang kepalanya yang masih terasa agak pusing. "Ke dokter saja ya yah?" Rayyan mulai khawatir.


"Tak usah" Pak Handi masih saja menolak. Rayyan yang khawatir pun menurut karena Pak Handi terus saja menolak.


"Ayah nggak tahu urusan kalian, hanya saja aku berharap urusan kalian akan selesai dengan baik" ujar Pak Handi tiba-tiba, karena dia tahu "menantunya" itu bukanlah menantu sungguhan.


"Maaf, masihkah saya boleh memanggil ayah?" Rayyan baru sadar sejak tadi dia memanggil Pak Handi dengan sebutan ayah. Mendengar hal itu Pak Handi terkekeh.


"Panggilah sampai kapanpun kamu mau" mendengar hal itu Rayyan mengangguk sambil tersenyum, ada rasa sejuk di hatinya.


"Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan ke ayah mengenai perjanjian saya dengan Hanna" Rayyan membuka percakapan serius.


"Ya...silahkan, semoga tidak ada yang tersakiti setelah ini, aku sudah tahu resiko dari apa yang dilakukan Hanna, namun bagaimanapun ini harus terselesaikan kan?" Pak Handi kembali melebarkan senyumannya.


        Setelah berbicara serius, kini mereka tertawa bersama, Pak Handi menceritakan tentang kekonyolan Hanna saat masih kecil. Rayyan yang mendengarkannya pun ikut tertawa. Hingga terdengar langkah kaki yang dia yakini itu adalah Hanna.


Dan benar saja, Hanna sudah berada di depan pintu yang sudah terbuka. Rayyan menatap Hanna yang sedang berpakaian formal. Setelah mengucap salam, Hanna masuk ke dalam dan mencium tangan ayahnya.


"Han, tolong buatkan minum untuk Rayyan, mungkin tenggorokannya sudah kering kerontang bin tandus, kita sudah mengobrol lama"


"Iya yah" Hanna menurut.


"Setelah itu, ajaklah ngobrol suamimu, ayah mau kembali istirahat"


Hanna yang sebenarnya merasa keberatan pun tak bisa menolak perintah ayahnya, dia ingin Rayyan segera pergi saja dari sini. Tapi nampaknya Rayyan masih belum ingin beranjak dari rumahnya.


Mengapa Hanna begitu tak menginginkan Rayyan ada? apa yang dia takutkan? Hanna menggeleng, membuang jauh-jauh kekhawatirannya.


Han, sadar...kamu sudah punya Bian, dan Rayyan itu mega bintang, sedangkan kamu adalah reremahan debu di bumi....