Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Malam Manis


"Serindu inikah kamu padaku,?" Rayyan membenahi sabuk pengaman Hanna, karena Hanna lupa memasangnya sendiri dengan baik. Hatinya sedang entah berantah rasanya. Antara senang dan kalut.


"Hah kamu terlalu percaya diri," ungkap Hanna sambil mengambil alih sabuk pengamannya dan membenahinya sendiri.


"Aku selalu percaya diri di hadapanmu," ungkap Rayyan sambil tersenyum. Dalam hatinya dia sangat senang dengan Hanna yang seperti ini, tidak disangkanya jika Hanna akan terlihat menangis saat bertemu dengannya, dengan sangat yakin jika Hanna begitu merindukannya. "Aku juga sangat merindukanmu," lanjut Rayyan. Hanna hanya tersenyum tipis.


Mobil melaju dengan perlahan, tanpa tahu arah dan tujuannya.


"Jika kita ke tempat ramai, maka akan dikejar banyak pewarta, dan saat ini aku lelah dan sedang tidak ingin menghadapi mereka," Rayyan nampak melihat ke arah Hanna, Hanna yang diam sejak tadi pun melihat ke arah Rayyan lalu tersenyum simpul. Dia ikut saja kemana Rayyan akan membawanya pergi.


"Jadi maukah kamu menemaniku jalan-jalan dengan mobil ini?"


"Hem...boleh," jawab Hanna singkat.


"Tapi aku sedih melihatmu seperti ini," Rayyan meraih pergelangan tangan Hanna dengan tangan kirinya. Hanna melihat Rayyan dengan mata mmebulat. "Kamu kenapa nampak kurus? kamu seminggu nggak makan,?" ledek Rayyan sambil tersenyum jahil.


Hanna menarik tangannya dan mengerucutkan bibirnya, jika saja dia mau mengungkapkannya dengan jujur, maka jawabannya adalah iya. Selama seminggu Rayyan berkutat dengan masalah ini, Hanna menjadi tak enak makan tak enak tidur dan tidak semangat untuk melakukan apapun. Ditambah dengan gosip-gosip dan ucapan jahat dari para fans Rayyan.


"His sok tahu," Hanna mengelak.


"Ok, kita beli makan drive thru saja atau kamu ingin makan di mana gitu," Rayyan menawarkan.


Hanna menggeleng, dia juga sedang tidak ingin menjadi pusat perhatian, dan tidak ingin membuat Rayyan tidak nyaman.


"Aku semingguan baik-baik saja Han, lihat badanku...Rayyan nampak memiringkan badannya ke kiri agar terlihat oleh Hanna dari arah depan. "Aku nggak apa-apa, kenapa kamu jadi begini, maaf ya sayang," gumamnya, tangan kirinya berpindah mengelus rambut Hanna dengan lembut dibarengi dengan wajahnya yang penuh senyum. Membuat Hanna menjadi semakin galau, bagaimana bisa dia akan mengatakan apa yang akan dia katakan nanti. Apa yang akan terjadi dengan Rayyan?.


Mobil berbelok ke arah konter drive thru yang dituju, Rayyan membuka kaca mobil setengah saja, lalu memesan apa yang diingkan. Dan tidak menunggu lama, makanan siap saji itu pun sudah berada di tangannya. Dia menyimpan di jok belakangnya, agar memudahkan jika akan diambil.


"Makanlah sayang, nih makan yang banyak, jangan buat aku berdosa dengan membiarkan kamu mikirin aku," gumamnya, Hanna kembali tersenyum dengan tingkah Rayyan. Hanna mengambil hamburger dan memakannya, selera makannya seolah kembali dengan kembalinya Rayyan dalam keadaan baik-baik saja.


"Apa kamu tidak takut penilaian orang tentang kamu,?" kalimat tanya itu meluncur di sela dia sedang makan. Rayyan melihat Hanna sejenak, lalu melihat ke arah jalan.


"Yang aku takutkan saat ini hanya satu, kehilangan kamu," jawabnya.


Deg


Jantung Hanna seolah berpacu, apa yang akan dia lakukan? apa dia harus mengubah keputusannya?


"Kamu sudah kehilangan banyak hal...,"


"Yang penting tidak kehilangan kamu," balas Rayyan enteng.


Hanna memegang hamburger yang masih separo itu, rasanya selera makannya kembali hilang ditelan bumi.


"Rayyan...aku...,"


"Aku kenapa lagi? aku nggak mau bahas yang jelek-jelek, yang sedih-sedih...aku mau menikmati kebersamaan ini," putusnya. Hanna mengangguk, menyesap minuman soda yang ada di tangan kirinya. Ada baiknya Rayyan memutuskan hal ini.


"Aku janji nggak bakal ngapa-ngapain kamu Han meskipun aku ngajak kamu kesini," Rayyan memegang kunci mobilnya setelah dia memarkirkan mobilnya. Sebuah villa dengan view yang sangat cantik di depan sana, meskipun sudah malam, namun kecantikannya terlihat.


Rayyan menggandeng Hanna dan mengajak masuk ke dalam. "Aku sudah biasa pesan villa ini, dulu sempat pengen beli tapi nggak jadi," Rayyan terkekeh. Seorang pegawai sedang mengantarkan mereka ke villa yang mereka sewa. Sudah ada beberapa villa yang terisi, untung saja Rayyan masih kebagian, karena biasanya akhir pekan begini sedang ramai-ramainya pengunjung.


"Terima kasih," ucap Rayyan dengan ramah pada pegawai tersebut, tak lupa dia memberikan uang tips pada pegawai laki-laki itu.


Kini Rayyan dan Hanna sudah berada di villa tersebut, villa yang nampak luas dan nyaman itu terpampang di depan mata.


"Nggak rugi ya nyewa gini cuma berdua? enaknya rame-rame," Hanna menatap Rayyan.


"Kapan-kapan lah kita rame-rame, tapi sama siapa? lagian teman kamu ya itu-itu aja," Rayyan tertawa. Begitu juga dia, dia tidak punya banyak teman apalagi sahabat. Ada juga si Gerry, ah laki-laki itu lagi, yang membuatnya berada dalam masalah semingguan ini.


"Iya juga sih," Hanna menggaruk kepalanya.


"O ya, ini kamar kita sebelahan, nanti tidurnya beda kamar," Rayyan membuka pintu kamar yang akan ditempati oleh Hanna. Hanna mengangguk dan melihat kamar yang dia tempati.


"Nah mandilah dulu, itu ada baju ganti juga,"


"Kok bisa,?" Hanna heran.


Rayyan mengangkat kedua alisnya, apa sih yang enggak bisa dilakukan oleh Rayyan. Hanna bersedekap lalu menggelengkan kepalany, lagi-lagi jurusnya Rayyan keluar. Dia pasti sudah menyuruh orang untuk mempersiapkan semuanya.


Ya, diam-diam Rayyan meminta untuk dipersiapkan semua baju ganti untuk Hanna karena dia tahu Hanna tak akan bawa baju karena perjalanan ini mendadak.


"Untungnya besok hari libur," gumam Hanna. Mereka masih di depan pintu.


"Kalaupun besok nggak libur, aku akan menghubungi bos kamu langsung dan meminta kamu libur,"


"Ih arogan sekali,"


"Ya sudah, mandi dulu, setelah itu kita makan,"


"Makan,?" Hanna menautkan kedua alisnya. "Kan udah makan tadi, kok makan lagi,?" Hanna protes.


"Jangan protes, sudah mandi sana," Rayyan mendorong Hanna dengan pelan agar segera mandi. Begitu juga dengan dia, dia akan segera berganti baju dan bersiap makan malam. Rayyan sudah meminta pelayan untuk menyiapkan semuanya di balkon villa.


        Rayyan terlebih dahulu selesai, dia sudah menunggu Hanna di balkon yang tak jauh dari kamar mereka berdua. Dengan menggunakan kemeja warna putih dan celana warna krem, Rayyan nampak tampan. Hanna keluar kamar dengan baju yang ada di kamar, baju berwarna putih dengan kerah victoria itu nampak meskipun tubuhnya dibalut dengan cardigan rajut yang tebal untuk menepis hawa dingin.


Sebelum keluar kamar, Hanna terlebih dahulu menghubungi Nayo jika malam ini dia tidak pulang karena ada urusan dengan Rayyan.


"Rayyan berdiri menyambut kedatangan Hanna, Hanna yang memang berbeda dengan cewek lainnya itu nampak naturan, tidak ada make up tebal di wajahnya, namun terlihat cantik di matanya. Rayyan tersenyum merekah menyambutnya.


"Apakah kamu kedinginan,?" Rayyan menarik kursi untuk Hanna, hidangan makan malam memenuhi meja yang tidak begitu besar itu. Hanna menggeleng.


Hawa dingin memang berhembus, tapi pakaian yang dia kenakan cukup menghangatkan. Malam ini kontras dengan malam-malam sebelumnya, dia merasa sangat bahagia bisa bersama dengan Rayyan. Seusai makan malam, mereka menikmati pemandangan yang ada di sekitar sambil bercerita ngalor ngidul sambil sesekali tertawa.