Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Kiss You


Hanna melihat Rayyan saat mobil berhenti di depan area pemakaman yang tak asing bagi Hanna. Iya, ini adalah area makam di mana ayahnya dikebumikan. Rayyan mengambil buket bunga mawar putih dari kursi belakang mobilnya, lalu dia keluar dari mobil. Hanna yang masih mengenakan kebaya pun ikut turun.


Rayyan mengulurkan buket bunga tersebut pada Hanna, Hanna menerimanya. Mereka berjalan menuju makam Ayah Hanna. Karena masih memakai sepatu dengan hak tinggi, Hanna agak kesulitan menuju makam karena jalanan yang tidak rata.


"Hati-hati," Rayyan mengulurkan tangannya sebagai tempat berpegangan Hanna.


Mereka telah tiba di sebuah makam yang kini ditumbuhi rumput liar kecil, Hanna berjongkok di samping makam ayahnya, tangannya dengan telaten mencabuti rumput liar tersebut. Setelah bersih, Hanna meletakkan bunga mawar itu di dekat nisan ayahnya.


Hanna mengelus nisan tersebut, Hanna merasa jahat karena tidak sering berkunjung kesini, bahkan di hari ini pun dia tidak ada rencana kesini, Rayyanlah yang seolah menuntunnya. Rayyan membuka kacamata hitamnya dan berjongkok di sebelah Hanna.


"Ayah...aku membawa dia kesini di hari bahagianya, semoga dia juga bahagia," ucap Rayyan, lalu dia melihat Hanna. Hanna pun ikut tersenyum dan melihat Rayyan sekilas. Apa yang dilakukan oleh Rayyan sejak beberapa hari kemarin cukup membuatnya gila. Apa Rayyan tidak rugi waktu melakukan ini semua untuknya? Hanna kembali merasa tak pantas mendapatkan ini semua.


Hanna menunduk dan menengadahkan tangannya, dia berdoa dengan khusyu, berarap dengan sangat ayahnya bahagia di sana.


"Aku baik-baik saja ayah, dan hari ini aku wisuda, meskipun bukan menjadi wisudawan terbaik, tapi ini perjuangan kita. Hanna akan berjuang lebih keras lagi agar bisa menggapai cita-cita kita dulu," Hanna berbicara sambil mengelus nisan ayahnya.


Ayahnya ingin melihat anak-anaknya sukses dan mandiri, itulah salah satu mimpi ayahnya dan tentunya mimpinya juga.


Setelah dirasa cukup, karena sudah hampir satu jam mereka berada di sana. Hanna bangkit dibantu oleh Rayyan, dan mereka kembali ke jalan menuju mobil Rayyan.


"Terima kasih sudah mengajakku kesini," Hanna memakai sabuk pengamannya. Rayyan juga melakukan hal yang sama.


"Sudah berapa kali kamu mengatakan terima kasih? rasanya tak perlu mengatakannya, dengan seperti ini saja aku sudah senang," timpal Rayyan. Hanna melihat Rayyan tanpa mengeluarkan kalimat lagi.


Mobil kembali melaju, Hanna melihat sepatunya yang kotor karena terkena tanah merah di makam tadi.


"Hish jadi kotor deh mobilnya," Hanna meringis. Rayyan hanya tersenyum saja, dia tak akan mempermasalahkan dengan semua ini.


"Kita mampir kesini dulu," Rayyan membelokkan mobilnya ke sebuah butik.


        Melihat Hanna yang dilihat kurang nyaman dengan kebaya yang hampir seharian membalut tubuhnya, Rayyan meminta pegawai butik untuk memilihkan baju yang sekiranya cocok dan nyaman untuk Hanna.


"Nggak usah," Hanna mengibaskan tangannya saat salah satu pegawai hendak mengajak Hanna memilih baju.


"Bisa nggak satu hari ini kamu bahagia?" Rayyan berbisik di telinga Hanna. Hanna melirik ke wajah Rayyan, lalu pasrah. Sejujurnya dia juga sudah ingin berganti baju.


"Tapi bukankah kita bisa pulang,?" belum sempat Rayyan merespson, Rayyan mendorong dengan lembut tubuh Hanna agar dibawa masuk oleh salah satu pegawai agar Hanna segera berganti baju.


"Mbak...itu...aku...," Hanna ingin protes.


"Maaf kak, silahkan dipilih bajunya," pegawai itu menunjukkan koleksi baju-baju yang bagus, dan saat Hanna melihat label harganya, ludahnya tertelan berkali-kali. "Ih...nggak jadi saja mbak," Hanna berbalik.


"Maaf kak, tapi ini perintah," pegawai itu juga nampak patuh banget dengan Rayyan. "Tolong kamu kak, suatu kebanggan jika butik kami dipilih oleh Rayyan," senyumnya mengembang, sebagai rayuan untuk Hanna. Dan Hanna pun tak tega dengan wajah pegawai yang berharap itu.


Akhirnya Hanna memilih atasan  dan bawahan yang kasual, sebuah atasa kaos dan rok circle warna biru navy. Hanna juga sekalian ingin dibongkar tatanan rambutnya dan kembali ke style biasanya. Yaitu kuncir kuda dan poni tengah.


Tak lama, Hanna sudah keluar dari ruangan. Rayyan yang menunggunya di loby terlihat sedang mengobrol di telpon. Hanna menunggu hingga Rayyan selesai berbicara, dia berdiri saja. Dan akhirnya Rayyan menyadari jika Hanna sudah menunggunya.


"Iya, nanti aku hubungi lagi," Rayyan memutuskan perbincangan.


"Sudah siap,?" tanya Rayyan. Hanna mengangguk.


        Perjalanan selanjutnya adalah makan di salah satu restoran.


"Sengaja,"


"Maksudnya,?" Hanna masih belum paham.


"Sudah aku sewa," Rayyan terkekeh. Alunan musik dari piano terdengar merdu. "Perlukah aku nyanyi untukmu,?" Rayyan kembali tersenyum.


Hanna menggeleng, "Sudah cukup, aku merasa overdosis dengan kebaikanmu," Hanna terkekeh. Rayyan menaikkan alisnya ke atas. Makanan yang mereka pesan sudah mulai datang, ini sudah lewat jam makan siang tetapi juga belum masuk jam makan malam.


"Maaf membuatmu kelaparan, jadi makanlah dengan baik," bisik Rayyan. Tangannya mulai memegang sendok dan garpu, mereka pun mulai mengisi perut yang sama-sama lapar.


"Sudah lama aku nggak tahu tentang kabarmu,"


Hanna menatap Rayyan, dan mata mereka beradu. Ini adalah salah satu hal yang tidak disukai Hanna, karena dia tidak bisa mengendalikan jantungnya dengan baik.


"Semoga kamu baik-baik saja, dan aku harap setelah ini kamu tak akan menjauh lagi," Rayyan melanjutkan kata-katanya. "Kita berteman kan,?" Rayyan bertanya.


"Berteman,?" Hanna mengulang bagian itu. Rayyan mengangguk.


"Jadi sesama teman, kita tidak boleh saling menghilang, setuju,?" Rayyan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Hanna. Hanna yang ragu pun mengulurkan tangannya pula menyambut salam Rayyan.


Hanya teman?


Hanna merasa ada yang mengganjal di hatinya, ah iya hanya ini. Dan dia tidak boleh baper karenanya. Bisa jadi setelah ini akan keluar berita tentang Rayyan dengan pacarnya. Hanna tak boleh berharap banyak.


        Hanna nampak terlelap di mobil, dia merasa sangat lelah hari ini. Rayyan tak tega membangunkan Hanna, hingga mobil berhenti di depan pagar rumah Hanna. Rayyan menunggu hingga Hanna terbangun dengan sendirinya.


"Eh sudah sampai,?" Hanna mengucek matanya, Rayyan mengangguk.


"Kamu kelihatan capek banget, aku nggak berani membangunkan," bisik Rayyan. Hanna mencelos, kenapa hanya itu yang dilakukan Rayyan.


Ah dasar, lalu harus apa? aku iya aku minta digendong sama Rayyan? sadar Han sadar, kita berteman.


Hanna sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Han...," panggil Rayyan.


Hanna menoleh, mata mereka kembali beradu. Meskipun sudah seharian Rayyan dengan pakaian itu, tapi kenapa pesonanya sama sekali tidak memudar. Kenapa mata Hanna masih menangkap aura itu masih sama. Dan semakin terasa memabukkan.


Jantung Hanna berdegup kencang, Rayyan semakin mendekat. Wajah  mereka hanya berjarak sangat dekat, dan akhirnya bibir mereka saling bertemu. Entah setan apa yang sedang membius Hanna. Dia merasa tidak sadar dengan apa yang dilakukannya, dan dia pun tak bisa menolak.


Hanna memejamkan matanya dan menarik dirinya, mengatur nafasnya yang tersengal. Rayyan pun menarik nafas dan membuang pandangannya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, apakah Hanna akan marah dan menjauhinya.


"Terima kasih atas semuanya, aku masuk dulu," Hanna terlihat sangat kikuk, karena melihat Hanna bersikap seperti itu. Rayyan pun ikut-ikutan merasa kikuk.


"Oh iya...eh...sebentar," Rayyan menahan langkah Hanna yang sudah keluar dari mobilnya. Seusai menutup pintu mobil.


"Lihat," rayyan menunjuk ke suatu arah.


Hanna melihat dengan seksama, matanya berkaca-kaca dan hampir tumpah. Tangan Hanna masih memegang buket bunga raksasa dari Rayyan dan juga totebag berisi baju wisudanya yang tadi. Hanna masih terpaku di posisinya, air matanya kini tak terbendung. Akhir-akhir ini dia sering tiba-tiba melankolis seperti ini. Terlebih saat dihadapkan pada situasi seperti ini.