
Jangan rindu, aku 3 hari ke depan aku nggak ada di sini, dan jangan nakal. gumam Rayyan di balik panggilan teleponnya.
Hanna duduk di kursiĀ sambil menggaruk dahinya. Dia berbicara pelan agar tidak terdengar oleh lainnya, karena dia sudah berada di ruang rapat sekarang.
"Iya" jawabnya lembut. "Ini di mana,?" tanya Hanna, agak kecewa juga karena Rayyan harus berangkat tiba-tiba.
Sudah di bandara, terlalu tergesa-gesa tadi nggak sempat ketemu, makanya itu jangan rindu.
"Iya, hati-hati ya...sama siapa,?"
Ada asisten, Gerry juga. Nggak tau tuh, nempel mulu si Gerry.
"Oh iya, hati-hati,"
Iya sayang.
Hanna mematikan panggilannya, dan menyimpan ponselnya. Panggilan sayang lagi-lagi terngiang di telinganya.
"Hanna nanti tolong bacakan susunan karyawan yang sudah kamu susun," perintah Farel pada Hanna. Mereka berada di ruang rapat bersama Pak Rafael dan beberapa karyawan yang lain. Rapat belum dimulai.
"Han," panggil Farel lagi, karena menyadari jika Hanna tak merespon panggilannya.
"Ehm...iya sayang," jawab Hanna spontan. Farel membulatkan matanya, menyadari ada yang salah. Hanna menepuk dahinya dan mencoba tersenyum penuh dengan rasa malu, rasa menyesal, dan dia ingin tenggelam saja di bumi. Karena dia benar-benar malu, kenapa ucapan sayang itu meluncur begitu saja.
Farel terkekeh, membuat Hanna semakin malu. Saat ini dia yakin wajahnya pasti seperti kepiting rebus, bahkan Pak Rafael pun ikut tertawa melihat kelakuan anak buahnya. Untung saja Pak Rafael bukan tipe pemarah, meskipun ini adalah pertemuannya dengan Pak Rafael sang pemiliki perusahaan, tapi Hanna merasa Pak Rafael adalah orang yang baik dan kebapakan.
"Hah...hahaha," Hanna tertawa garing, mencairkan rasa malunya,"
Bodoh banget sih Han kamu. Gerutunya sambil menepuk dahinya.
"Nanti saja kalau mau ayang-ayangan," bisik Farel. Benar-benar Hanna ingin kabur saja dari ruangan ini. Dan seisi ruangan kembali dipenuhi gelak tawa.
"Hah cocok tuh sama Farel, dia masih jomblo," imbuh Pak Rafael. Hanna tertawa kikuk.
Dan akhirnya sekertaris Pak Rafael memulai membuka rapat hari ini, Hanna lega. Setidaknya dia akan terbebas dari bully yang membuatnya panas dingin ini.
Rapat yang berjalan selama 2 jam akhirnya usai, Hanna merasa lega karena apa yang dipaparkan tak banyak yang menyanggah, hal ini berkat arahan dari Farel yang dengan telaten membantunya.
Hanna mengemasi map yang ada di depannya, semua sudah keluar. Hanna sengaja keluar belakangan.
"Hahh akhirnya selesai juga," Hanna keluar ruangan belakangan.
Selesai rapat, Hanna harus membuat laporan yang berkaitan dengan yang dia paparkan tadi. Masih ada waktu satu jam untuk mengerjakannya, dan dia berharap sejam cukup untuk menyelesaikannya. Agar besok tak ada lagi pekerjaan yang menumpuk. Hanna sibuk dengan komputernya hingga satu jam pun berlalu, dan akhirnya Hanna berhasil menyelesaikannya.
Hanna melongok ke luar jendela, langit mulai menggelap karena mendung menggelayut. Kiranya sebentar lagi akan turun hujan.
"Kenapa Han,?" tanya Farel yang masih asyik berada di balik layar komputer.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore, sudah saatnya jam pulang. Meskipun di luar hujan, Hanna bersiap merapikan barang bawaannya dan juga merapikan barang-barang yang ada di atas meja kerjanya, jangan sampai berantakan saat ditinggal pulang.
"Mau pulang? masih hujan di luar," sahut Farel, Hanna mengangguk, matanya melihat ke luar jendela. Dan nampak hujan semakin deras.
"Iya pak, saya menunggu di luar saja, mari pak," Hanna sudah selesai merapikan mejanya, tangannya menyambar tasnya dan segera keluar, Farel melihat Hanna keluar. Farel pun mematikan komputernya yang sejak tadi dipakai main game itu.
Hanna berjalan menuju lobby kantor, ada beberapa pegawai yang masih di sana, mungkin tujuannya sama, menunggu hujan reda. Hanna duduk di sebuah kursi menghadap ke jendela kaca, di sana dia bebas melihat hujan turun. Di luaran sana, ada beberapa pegawai yang menunggu taksi online, ada juga yang dijemput dengan mobil pribadi.
Hanna mengeluarkan ponselnya, mengecek mungkin saja ada pesan masuk. Satu per satu karyawan mulai meninggalkan kantor. Hanna melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, sudah hampir jam 5. Dan hujan masih anteng.
"Ok, kalau aku pulang sekarang maka akan kehujanan dan basah semua," Hanna bergumam pada dirinya sendiri.
"Masih di sini,?" Hanna mendongak, dan dilihatnya Farel sedang berdiri di hadapannya.
"Oh iya Pak, nunggu hujan reda,"
"Mau bareng,?" tawar Farel. Buru-buru Hanna menggeleng sambil menggerakkan tangannya, pertanda dia menolak.
"Terima kasih pak, saya nunggu hujan reda saja, lagian saya bawa motor,"
"Tinggal saja di sini, besok baru bawa pulang,"
"Tidak pak, nggak apa-apa," Hanna masih kekeh menunggu hujan reda.
"Mau sampai kapan, ini sudah sore lho, dan biasanya sepi, kamu nggak takut,?" Farel masih berdiri di sana, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Memang jika sore kantor akan sepi karena sudah kembali ke rumah masing-masing karyawannya.
Hanna celingukan, memang sudah mulai pulang karyawan yang ada di sini.
"Nanti saya nunggu di luar saja pak,"
"Nggak takut ada hantu,?" bisik Farel.
Hanna membulatkan matanya, "Hantu? hantu Pak,?"
Farel mengangguk. Hanna tergelak, "Saya tidak takut hantu pak," jawabnya enteng. Hanna lebih takut dia lapar dibandingkan hantu. Pernah suatu saat setelah ibunya meninggal, saat itu rumahnya diperdebatkan. Dan akhirnya dia, ayahnya, dan juga Nayo harus keluar dari rumah. Mereka tinggal di sebuah bangunan kosong yang terkenal angker. Tidak merasa takut sedikitpun, yang dia takutkan adalah melihat adiknya kelaparan saat itu.
"Nggak apa-apa pak, bapak duluan saja," bisik Hanna dengan wajah lucunya.
"Atau kamu sedang menunggu ayang,?" Farel berdehem.
"Oh tidak pak...itu, ehm maaf tadi itu saya...ehm," Hanna mencoba merangkai kata-kata, tapi tidak berhasil.
"Sudahlah, ayo pulang bareng, nanti aku jelaskan sama ayang kamu jika aku mengantarmu bukan karena ada maksud lain, hanya saja di sini malam tidak baik, nanti takutnya kenapa-napa, dan lihatlah hujan masih sangat deras di luar sana," putus Farel. Akhirnya Hanna ikut saran Farel, dengan kikuk dia ikut naik ke mobil Farel untuk pulang.
Dan hujan memang sedang asyik-asyiknya membasahi bumi, sepanjang perjalanan Hanna hanya diam saja, Hanya sesekali menimpali pembicaraan Farel, bukannya jutek. Karena Hanna merasa kikuk saja harus duduk satu mobil dengan atasannya. Tiba-tiba dia merasa rindu dengan Rayyan yang biasanya ada di sampingnya menyetir.