
Satu jam sudah berlalu, tapi Hanna belum berhasil bertemu dengan Rayyan. Hatinya cemas, rasa bersalah menggelayut di batinnya. Apa yang terjadi?
Pengacara mendatangi Hanna yang sedang duduk menunggu tak jauh dari ruang pemeriksaan.
"Bagaimana?" Hanna bangkit dengan wajah penasaran, pengacara itu menggeleng pelan, membuat perasaan Hanna menjadi semakin tak karuan. Dari raut wajah pengacara itu, dia membaca bahwa ada yang tidak beres. "Bagaimana pak Salman,?" Hanna bertanya sekali lagi, meskipun ciut nyalinya dia harus siap mendengarkan apa yang terjadi.
"Hasil tesnya sudah keluar," Pak Salman menggantung kalimatnya. "Dan positif,"
Hanna menatap Pak Salman lalu menutup matanya, mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Hanna memijit kepalanya dengan tangan kanan. Mendengar kabar yang sama sekali tak ingin dia dengar. Ini buruk.
"Tapi ini baru tes urine saja, kita masih bisa menunggu hasil tes lainnya," imbuh Pak Salman, setidaknya ini masih melegakan perasaannya, dia masih boleh berharap bahwa tes rambut bisa negatif.
Hanna mondar-mandir di tempat tersebut, sedangkan Pak Salman berpamitan akan kembali ke kantor terlebih dahulu. Akhirnya Hanna juga kembali ke kantor, di sini pun dia tidak bisa bertemu dengan Rayyan.
Hanna kembali memesan ojek online dan kembali ke kantor, sepanjang perjalanan. Hatinya sesak, beribu penyesalan memenuhi relung hatinya. Angin menerpa wajahnya yang dengan sengaja kaca helm tidak dia turunkan. Rasanya dia ingin pulang saja, meskipun Farel sudah mengizinkannya untuk pulang, tapi Hanna tetap harus profesional dengan apa yang sedang dijalaninya sekarang.
Sesampainya di kantor, Hanna kembali menghadap layar komputernya, ternyata sudah ada tumpukan pekerjaan yang harus dikerjakan. Hanna meraih satu map dan siap mencocokkannya di data komputernya.
"Hai," sapa Rara, Hanna mendongak dan melihat ke arah pintu. Kebetulan Farel sedang tidak ada di tempat. Setelah melambaikan tangan pada Hanna, Rara bergegas masuk meskipun Hanna belum mempersilahkan.
"Sibuk,?" tanya Rara.
"Lumayan," Hanna tetap menyunggingkan senyumnya.
"Maaf ya, ini tadi aku taruh mapnya begitu saja, makanya aku kesini lagi buat laporan ini mapnya dari aku," ujar Rara sambil memainkan kukunya yang berkutek merah itu.
"Oh iya Ra, nggak apa-apa, santai saja," balas Hanna. Hanna kembali melihat deretan kolom berisi data itu.
"Han...,"
"Iya,?" Hanna melihat ke arah Rara.
"Turut sedih....dan be strong ya," ungkap Rara tulus. Hanna tahu jika Rara berbeda dari teman lainnya di sini. Hanna mengangguk pelan.
"Terima kasih Ra,"
"Kamu harus kokoh pokoknya, nggak usah dengerin apa kata mereka," Rara memasang wajah gemas, saat dia teringat betapa gunjingan orang sekantor ini cukup membuat telinganya risih. Mereka dengan entengnya menjelekkan Hanna dan menuding jika Hanna adalah biang dari semua ini. Hanna yang membuat Rayyan tercebur ke dalam dunia gelap ini.
"Iya Ra, makasih ya...," Hanna nampak sayu. Rara mengangguk.
"Kamu sudah ketemu Rayyan,?"
Hanna menggeleng, harusnya hari ini, tapi ternyata gagal lagi.
"Pasti dia butuh kamu banget,"
"Dia pasti kuat," bisik Hanna, meskipun dia sendiri tidak yakin dengan ucapannya itu.
"Han...meskipun aku baru mengenal kamu, tapi aku yakin kamu cewek yang baik, terlepas dari hebohnya di luar sana, aku percaya kamu," ungkapnya.
Hanna melihat Rara, dalam hatinya terasa adem mendengar penuturan Rara.
"Ok, aku balik dulu ya...semangat," Rara menyemangati Hanna. Hanna mengangguk, Rara berdiri meninggalkan kursinya dan bergegas keluar dari ruangan Hanna.
Hanna kembali berkutat dengan pekerjaannya, biasanya bisa dilakukan dengan kilat, karena pikirannya sedang kalut, maka pekerjaan ini sungguh membutuhkan waktu yang lebih dan butuh fokus yang lebih pula.
Waktu berjalan cukup lamban baginya, jam pulang kurang satu jam lagi. Hanna menyerah dan menutup mapnya, akan dia kerjakan esok. Dia butuh istirahat setelah ini. Hanna menelungkupkan kepalanya di meja kerjanya hingga tidak menyadari ada yang datang.
"Kamu sakit,?" terdengar suara khas itu berada dekat dengannya, Hanna yang tidak tidur pun segera mendongak ke atas.
"Eh maaf pak," jawab Hanna saat menyadari jika Farel yang datang.
"Nggak apa-apa, kan tadi aku sudah bilang kalau sakit butuh istirahat kamu pulang saja," Farel memasukkan kedua tangan di saku celananya sambil menatap Hanna yang masih duduk anteng di kursinya.
"Pulanglah...," Farel merendahkan suaranya, agar Hanna menuruti perkataannya.
Karena jamnya juga sudah hampir mendekati jam pulang, Hanna mengangguk saja dan segera berkemas. Mematikan layar komputernya, menyimpan map kerjaan di lokernya dan segera mengecek tasnya. Dan akhirnya dia keluar dari ruangannya.
Untuk menunggu absen pulang, Hanna akan menunggu di lobby saja.
Untung hari ini tidak hujan, Hanna bisa pulang dengan nyaman tanpa harus hujan-hujanan.
Tiiiin.....
Sebuah klakson mobil mengagetkan Hanna yang berada di pinggir jalan, dia lupa jika ada sospir yang mengantar jemputnya. Hanna menepuk dahinya, tidak punya tenaga lagi untuk mendebat atau menolak. Hanna masuk ke dalam mobil dan melihat ke arah jalan dengan lesu.
"Kenapa sesedih ini,?" gumamnya. Jelas tidak ada yang menjawab, karena memang tidak ada maksud dia berbicara dengan siapa.
Jalanan yang agak rame membuat perjalanannya sedikit lama, akhirnya dia sampai di rumah hampir maghrib, benar-benar rasanya dia tidak punya tenaga. Ingin menangis tapi tidak bisa.
"Haaaan," pekik Kia yang baru saja tiba, dia mematikan motornya. Dan masih melihat mobil yang baru saja mengantar Hanna berlalu. "Diantar siapa? kamu baik-baik saja kan,?" Kia memegang kedua pundak sahabatnya itu.
Hanna mengangguk lesu.
"Buka dulu pagarnya," Kia menyuruh, Hanna mengambil tas dan merogoh tasnya mencari kunci, Kia membantu membukakan pintu pagar. Setelah pintu terbuka, Kia membuka pintu dengan lebar, menuntun motornya masuk ke dalam. Hanna sudah duduk di kursi teras.
"Han...kamu baik-baik saja kan?" Kia mengulang pertanyaannya. Kia nampak khawatir melihat Hanna yang nampak acak-cakan.
"Han...kamu nggak makan berapa hari sih? kenapa wajahmu begitu,?"
"Wajahku buruk dari dulu Ki,"
"Bukaaaan, bukan itu maksudku," Kia mengibaskan tangannya. "Wajahmu pucat, duh pokoknya kamu...ah,. Nih aku bawain makanan, karena aku tahu kamu pasti belum sempat makan,"
Kia meletakkan bungkusan di dalam kresek putih itu di atas meja yang ada di sampingnya. Sebelum sampai rumah Hanna dia menyempatkan membeli makanan untuk Hanna.
"Terima kasih Ki," sahut Hanna lesu. Hanna menerawang melihat jalanan di depan rumahnya. Kia membiarkan Hanna untuk berdiam diri menenangkan pikirannya.
"Han...sana masuk mandi dulu, nanti aku sampai malam di sini," ujar Kia. Hanna mengangguk dan masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri. Kia dengan pengertian membawa tasnya dan juga makanan yang dia beli tadi masuk ke dalam rumah, mempersiapkan makan malam untuk mereka.