Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Koki Dadakan


Mobil memasuki halaman sebuah rumah dengan gaya minimalis bercat putih, rumah yang didominasi kaca itu terlihat sangat menyenangkan bagi Hanna. Ini adalah salah satu model impian rumahnya kelak. Rayyan turun dari mobil, tanpa diminta Hanna ikut turun. Rayyan membuka pintu rumah tersebut.


"Ini rumahku," Rayyan menjelaskan sebelum Hanna berfikir yang tidak-tidak.


Sejak kapan Rayyan pindah kesini, kenapa banyak banget rumahnya. Selain rumah yang dulu mereka tempati, ada apartemen, dan kini rumah minimalis ini. Eh bukan, bukan minimalis, ternyata rumah ini luas dan mewah.


Senja pun tiba, harusnya Hanna sudah pulang saat ini.


"Aku sudah bilang sama Nayo jika kamu kesini dulu,"


Hah sejak kapan dia akrab dan bersekongkol dengan adiknya itu?


"Maaf ya mengajakmu kesini, jangan berfikir yang aneh-aneh dulu," Rayyan tidak mau Hanna berfikir aneh-aneh tentangnya, karena memang dia tinggal sendirian di sini.


"Hem...benar, hampir saja aku menelpon polisi," gumam Hanna, mereka sudah ada di sebuah ruangan seperti pantry.


Terdengar suara tawa Rayyan yang nyaring saat mendengar jawaban Hanna. Rayyan menarik kursi dan duduk tak jauh dari Hanna.


"Dapur ini belum ada yang menyentuhnya, jadi aku ingin sekali ada orang yang memasak di sini," Rayyan mengangkat kedua alisnya, Hanna bersedekap. Itu artinya secara tidak langsung dia menginginkan Hanna memasak di sini.


"Jadi...," Hanna menggantung kalimatnya.


"Yap, aku merindukan masakanmu, masakan rumahan, haaas sudah berapa lama aku tidak menikmati masakan itu," Rayyan mencoba menghitung dengan jarinya, sudah sangat lama bahkan dia tak mampu menghitungnya.


"Kenapa kamu menjadi pengangguran sekarang,?" Hanna menyela dengan pertanyaan konyol, Rayyan kembali tertawa, bagaimana bisa Hanna mengatakan dia adalah seorang pengangguran. Meskipun dia mengurangi jadwal di dunia entertainer tapi dia punya banyak bisnis.


"Iya, karena aku ingin berduaan saja sama kamu," Rayyan mengulum senyum, matanya terlihat nakal. Hanna salah tingkah, bisa saja pertanyaannya itu membuahkan gombalan buat Rayyan. Ah tidak kaget, karena Rayyan memang aktor ulung. Hanna mengibaskan tangannya, membuang rasa nervousnya.


"Ya sudah, kita lihat, ada apa saja di dalam lemari es, dan apa yang bisa aku masak buatmu," Hanna turun dari kursi, meletakkan tasnya dan berjalan meninggalkan sepatu hak tingginya agar dia leluasa, karena kakinya juga terasa sangat capek berjalan dengan sepatu seharian.


Hanna berjalan mendekat dan membuka lemari pendingin, ada banyak macam sayuran di sana. Hanna melihat isinya, lalu beralih melihat ke arah Rayyan. Tak mengapa baginya dia diajak pulang ke rumah Rayyan hanya untuk memasak untuk Rayyan, anggap saja sebagai balasan kebaikan Rayyan akhir-akhir ini padanya.


"Jadi masak apa,?" Hanna memastikan.


"Aku kangen semua masakanmu, tapi malam ini entah kenapa aku pengen makan nasi goreng buatan kamu," permintaan Rayyan sungguh sederhana.


"Hah? yang benar saja, nasi goreng? di abang depan komplek juga banyak," Hanna bernegosiasi.


"Kan aku sudah bilang, aku pengennya dapur ini ada yang pake,"


"Ya...ya...ok, tapi sebelum aku masak, aku mau ke kamar mandi dulu ya,"


Rayyan mempersilahkan.


Tanpa kesulitan Hanna menemukan toilet rumah Rayyan, Hanna membasuh wajahnya dan mencuci tangannya. Kemudian dia kembali ke dapur, Rayyan sudah tak ada di sana, dia sedang berganti baju.


Hanna menyiapkan bumbu yang akan dia gunakan untuk nasi gorengnya, dan juga beberapa sayuran yang akan digunakannya. Dia mencucinya dengan bersih. Hanna memperhatikan dapur modern milik Rayyan, sungguh dapur yang mewah baginya. Fasilitasnya juga sangat mewah.


Hanna sudah selesai mencuci, giliran dia menghaluskan bumbu. Hanna tersenyum kecil saat melihat sebuah cobek berada di salah satu rak. Bisa-bisanya Rayyan menyiapkan alat tradisional itu di dapurnya.


"Karena aku tahu kamu suka memakai itu untuk menghaluskan bumbu," suara Rayyan membuatnya tersentak kaget, karena derap langkah kakinya tak terdengar. Tiba-tiba saja muncul seperti hantu.


"Iya, karena aku termasuk orang kuno sih," Hanna menjawab.


"Bukan juga, karena rasanya beda. Maka dari itu aku menyiapkannya khusus buat kamu." Rayyan kembali melemparkan rayuan, maksudnya apa coba. Kan ini rumah dia.


"Apakah aku harus melamar jadi asisten rumah tangga saja di sini,?" Hanna mulai menghaluskan bumbu.


"Hum....ditolak," Rayyan menjawab tegas, dia berdiri tak jauh dari Hanna. Melihat Hanna menyiapkan bumbu tersebut. "Karena yang punya rumah inginnya kamu yang menjadi nyonya disini," nah kan lagi Rayyan kembali membobardirnya dengan rayuan entah berantah.


"Minggir, ini minyaknya panas, nanti kalau sampe kamu kena berabe," sengaja Hanna tidak meladeni gombalan Rayyan. Rayyan tak peduli, dia masih saja berdiri di dekat Hanna dan melihat Hanna memasak. Sungguh hal yang sangat dia rindukan. Bisa mleihat Hanna memasak lagi untuknya.


"Jangan sering-sering, dan lagian ini aku anggap sebagai balas budi, ya...meskipun cuma ini yang bisa aku lakukan buat kamu, setelah ini aku kerja, jadi nggak ada waktu." imbuh Hanna.


Rayyan mengangguk, mencoba mengerti. Meskipun hatinya tak ikhlas.


Nasi goreng buatan Hanna sudah jadi, Hanna menatanya dia atas piring. Sungguh masakan yang sangat sederhana.


"Dari baunya sudah menggoda," puji Rayyan. Hanna meletakkan di meja makan. Sebelum menikmati makan malamnya, Hanna meminta izin untuk menunaikan ibadah sholat terlebih dahulu.


        Rayyan juga baru saja kembali ke kamarnya, dan mereka berdua sudah berada di meja makan. Hampir mirip sebagai pasangan suami istri. Dan mereka mulai makan, nampak wajah Rayyan puas menikmati masakan Hanna yang menurutnya tak pernah gagal, selalu enak dan selalu mengingatkannya pada Ibunya.


"Terima kasih." ucap Rayyan setelah dia menghabiskan seporsi nasi gorengnya itu.


"Mau nambah,?"


Rayyan menggeleng, cukup. Sebenarnya enak pengen nambah, hanya saja sudah tak muat. Hanna ingin bergegas membereskan piring kotor dan mencucinya.


"Han.... tunggu, duduklah di sana, aku mau ngomong sesuatu."


Rayyan mencegah Hanna, Hanna pun kembali duduk.


Rayyan menatap Hanna serius, membuat Hanna yang sedari tadi santai menjadi kikuk.


"Han...sebaiknya kita menikah saja,"


Sepertinya dunia sedang berhenti berputar.