
Hanna duduk di sofa ruang tamu dengan santainya, dia baru saja beberes rumah setelah seharian berkutat dengan aktivitasnya di kampus. Hanna memainkan ponselnya sambil mengecek pesan yang masuk. Sudah hampir 2 minggu dia tak melihat Rayyan berada di rumah ini. Dan sejak itu pula dia tak pernah berkomunikasi dengan Rayyan. Bahkan hanya bertegur lewat pesan.
Seorang security rumah itu mengetok pintu rumah, Hanna yang tepat berada di ruang tamu segera berdiri dan mendekati pintu. Jika Rayyan yang datang maka tak biasanya dia mengetuk pintu, biasanya langsung masuk. Hanna memegang gagang pintu dan membukanya.
"Iya, ada apa?" tanya Hanna pada security rumah.
"Ada tamu non" jawabnya sambil menunjuk seseorang dengan jempol tangannya. Hanna melihat ke arah orang yang ditunjuk, Hanna mencoba melihat dengan jelas, tapi tidak paham juga.
"Siapa? mau bertemu siapa?"
"Mau bertemu dengan Nona"
"Hah aku?" Hanna menunjuk dirinya.
"Iya" jawab security itu lagi. Daripada saling tebak tidak jelas, maka Hanna mempersilahkan security itu membawa tamu yang dimaksud. Hanna agak cemas, siapa orang yang datang. Apakah Bian? ah tidak mungkin pikirnya.
Tidak butuh waktu lama, selepas security berbicara dengan Hanna, dia segera berlari ke arah orang tersebut, dan orang itu memarkir mobilnya dan segera turun. Hanna masih berada di ambang pintu. Matanya kembali memicing, memastikan siapa orang tersebut.
"Brian..." gumamnya lirih sebelum laki-laki itu dekat dengannya.
Hanna berdiri mematung di depan pintu sekarang sambil menyiapkan wajahnya setenang mungkin, jangan sampai dia terlihat tegang atau takut. Dia sendiri tidak tahu maksud dari kedatangan Brian kemari.
"Boleh saya masuk?" tanya Brian melihat Hanna.
"Silahkan" Hanna memersilahkan. Brian melangkah dan duduk di sofa, Hanna juga duduk di sofa dengan menghadap Brian, agar dia bisa tahu bagaimana bahasa tubuh laki-laki itu.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Hanna dengan tenang, pandangan matanya nampak tenang juga, jangan sampai dia terlihat gugup.
"Apakah Rayyan di rumah?" tanya Brian sambil melirik ke arah ruang dalam, memastikan jika ada orang.
"Ada apa mencari suamiku?" Hanna tetap tenang.
Brian nampak tersenyum kecut, melihat ekspresi Brian yang demikian membuat Hanna ketar-ketir, apakah laki-laki di depannya itu sudah tahu sandiwaranya.
"Kenapa?" tanya Hanna lagi.
"Suami?" Brian berdecih.
"Iya, suamiku"
"Aku yakin suami kamu nggak ada di rumah"
"Iya, dia nggak ada di rumah, dia sedang syuting, dia kerja untuk kita" Hanna tersenyum.
"Kita?" mata Brian menyipit.
"Istriku nggak pulang sudah 3 hari ini, aku yakin dia bersama dengan Rayyan, aku yakin mereka masih berhubungan" Brian nampak geram, matanya menatap Hanna dengan tajam. Dia langsung ke arah tujuan mengapa dia datang kesini.
"Lalu buat apa mencarinya kesini? atas dasar apa menanyakan suamiku? dia sedang bekerja, dan aku yakin dia tak bersama suamiku" Hanna masih berbicara dengan tenang, meskipun hatinya mulai tidak tenang. Jangan-jangan Rayyan buat ulah lagi, karena dia kemarin sempat ditelp Kamila yang menanyakan apakah Rayyan sudah sampai rumah atau belum, Rayyan tidak bisa dihubungi.
"Aku punya keyakinan dia masih berhubungan dengan Rayyan"
Hanna terdiam, dia melihat laki-laki di depannya itu nampak frustasi. Apa yang membuat Talitha berpaling dari laki-laki di depannya itu, dia nampak sangat mencintai Talitha.
"Apakah kamu juga memiliki keyakinan yang sama?" tanya Brian dengan tegas. Hanna masih terdiam.
Tidak ada pembicaraan, suasana hening. Berkutat dengan pikiran masing-masing. Seolah dia merasakan kegusaran yang dirasakan oleh Brian.
"Aku tau suamiku orang yang setia, dan aku percaya bahwa sekarang dia sedang berada di tempat kerjanya" Hanna tersenyum, berharap ketegangannya berkurang. Karena dia tahu sekarang dia berbohong.
"Seyakin itu?" Brian kembali tersenyum kecut, dia sama sekali meremehkan ucapan Hanna. Hanna mengangguk yakin. "Aku tidak percaya. Atau jangan-jangan kamu dibayar olehnya"
Mendengar ucapan terakhir Brian, jantung Hanna semakin berdegup, keadaan ini seolah tak terkendali olehnya.
"Apakah kamu mencintainya?" pertanyaan yang menghujam pikiran Hanna itu akhirnya muncul. Hanna tertegun sesaat, menata hati dan lidahnya agar bisa bekerjasama dengan baik.
"Bagaimana aku menikah dengannya jika aku tidak mencintainya?" Hanna balik bertanya. "Anda menikahi istri anda karena anda mencintainya bukan?"
Brian terdiam setelah mendengar pertanyaan Hanna. Pikirannya kembali ke masa lalu, di mana dia memang sangat mencintai istrinya, hingga akhirnya dia akhirnya mencampakkannya. Hal itulah yang membuat Talitha berpaling darinya.
"Iya, aku mencintainya" jawab Brian dengan suara melemah. Kedua tangannya menangkup di wajahnya, nampak penyesalan.
"Aku sangat mencintainya, maka aku percaya padanya" imbuh Hanna. "Aku mencintai suamiku"
"Tolong hubungi dia" ujar Brian setelah membuka kedua tangannya. Hanna terkesiap. Ponsel yang dari tadi di tangannya tak terasa.
"Ok" kalimat itu yang meluncur. Hanna mengutuk dirinya sendiri, mengapa dia begitu mudahnya menyanggupi. Kalau nanti Rayyan tidak mengangkat panggilannya bagaimana? kalau nanti Rayyan benar-benar bersama dengan Talitha, maka tamatlah riwayatnya.
Hanna memencet sebuah nomor, yaitu nomor Rayyan. Tidak ada sahutan, karena nomor Rayyan tidak aktif.
"Apakah tidak diangkat?" Brian menyelidik. "Itu yang aku rasakan beberapa hari ini"
"Mungkin sedang berada di jalan dan dayanya habis" Hanna mencari alasan. Brian tersenyum tidak percaya, kepalanya menggeleng.
"Tidak mungkin, dan jika terbukti Rayyan ada main dengan Talitha, maka aku akan bertindak sesuai perjanjian awal dulu" ancam Brian.
Hanna kehilangan rencana kali ini, jika keadaan Rayyan tak bisa diajak kerjasama detik ini juga, bisa-bisa tamat riwayatnya. Hal ini akan merembet kemana-mana. Dia hanya berdoa dalam hati, semoga ada keajaiban.
Terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka, Hanna memandang ke arah luar, matanya hampir tak berkedip. Begitu juga dengan Brian.