Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Manja


Hanna tergopoh-gopoh keluar dari dapur, dia sedang mengiris sayur bahan masak nanti sore. Dia segera ke arah sumber suara, di mana tadi dia mendengar suara keras seperti benda yang menabrak sesuatu.


"Brengs*k kamu! set*n kamu! terima ini hah!" laki-laki itu memukul Rayyan membabi buta\, Hanna berteriak histeris hingga akhirnya satpam mendengar dan menuju tempat yang sama\, yaitu ruang tamu. Satpam tersebut hendak menangkap laki-laki yang memukul Rayyan\, hanya saja Rayyan memberikan kode untuk membiarkan dan menyuruh satpam tersebut pergi.


"Sudah keluar saja, biar ini aku selesaikan" ungkap Rayyan sambil mencoba bangkit. Tangannya memegang bibirnya yang mungkin tadi kena tonjok Brian.


Hanna melihat dua laki-laki itu saling berhadapan dengan tatapan mata yang sama-sama marah, tetapi Brian jauh lebih memendam amarah. Brian menatap Rayyan dengan tatapan ingin menerkam. Hanna masih mematung tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tidak ingin ada pembantaian di rumah ini. Sedangkan dia tidak tahu apa duduk masalahnya.


"Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Brian dengan marah.


"Melakukan apa?" Rayyan bingung dengan apa yang dia dengar. Brian masih menahan amarahnya. Padahal tangannya terasa gatal ingin memukul Rayyan. Sedangkan Rayyan sama sekali tak mengetahui apa yang dimaksud oleh Brian.


Hanna melangkahkan kaki ke belakang, berniat meninggalkan dua laki-laki yang tengah bersitegang itu. Hingga akhirnya dia benar-benar berjarak dan tidak memperlihatkan wajahnya di kedua laki-laki itu.


Rayyan nampak berantakan, begitu juga dengan Brian. Rayyan terduduk di lantai, matanya menatap Brian dengan datar. Brian yang tak kalah berantakan masih berdiri dengan amarahnya.


"Kenapa kamu menghamili istriku?" tanya Brian dengan tegas.


"Hah?" Rayyan menyipitkan mata.


"Jangan pura-pura beg* kamu!" Brian menunjuk Rayyan, matanya kembali berkilat marah. Rayyan tertawa kecil, entah menertawakan Brian atau kebodohan mereka berdua.


"Atas dasar apa kamu menuduhku melakukannya?" Rayyan balik bertanya, senyumnya masih mengembang, meskipun bibirnya terasa sakit tapi dia menahannya. "Jika aku mau, aku bisa membuat delik aduan atas tuduhanmu yang tidak berdasar, dari kamu memukulku, dan dari fitnah yang kamu layangkan" Rayyan membela diri.


"Aku sudah tahu semuanya, bahwa kamu memiliki hubungan dengan Talitha, jika tebakanku benar, Hanna adalah korban dari sandiwaramu selama ini" Brian tersenyum sinis, dia duduk di atas sofa, menghadap Rayyan yang tengah duduk di lantai. Rayyan terdiam, merasa gengsi jika dia harus mengatakan dia memang memiliki hubungan dengan Talitha.


"Jadi apa lagi yang akan kamu tutupi?" Brian memojokkan Rayyan. "Kamu terlalu cemen jadi laki-laki, merebut dia dengan cara yang licik seperti ini"


"Aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan, Brian!"


Sayup-sayup terdengar percakapan dari ruang tamu, sedangkan Hanna kembali ke dapur melanjutkan aktivitasnya dengan perasaan cemas. Apa yang akan terjadi di depan sana. Tapi jika didengar saat ini, situasi aman karena hanya percakapan, tidak ada suara barang jatuh.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Hanna, dia tidak bisa menebak.


Hingga terdengar suara kursi yang ditarik, Hanna tersentak. Dia menoleh ke arah suara tersebut, dilihatnya Rayyan yang masih berantakan, tangannya mencoba menyisir rambutnya. Hanna memperhatikan dari posisinya yang dekat dengan kompor, dia ragu untuk mendekat. Tapi dari tempatnya dia melihat dekat sudut bibir Rayyan terluka, bekas pukulan Brian.


Hanna mengambil air hangat dan juga handuk kecil yang tersimpan di lemari yang tak jauh dari dapur. Hanna meletakkan baskom di atas meja, mengambil handuk kecil tersebut dan memerasnya perlahan. Tanpa menunggu persetujuan dari Rayyan, Hanna menempelkan handuk tersebut ke luka Rayyan. Rayyan meringis kecil.


"Sakit?" Hanna sengaja menyentil Rayyan, laki-laki itu nampak menatap Hanna sebal. Hanna menahan tawanya. Ini seperti mimpi, bisa-bisanya dia bisa dekat dengan wajah yang selama ini hanya bisa dia lihat lewat poster. Wajah itu di depannya langsung. Wajah yang nampak selalu sempurna tanpa cela itu ternyata menyimpan banyak drama dalam hidupnya. Hanna menghela nafas panjang.


"Jika begini saja sakit, kenapa harus menyakiti dirimu lebih dari ini?" Hanna kembali mengoceh, dia menurunkan handuknya dan kembali mencelupkan ke air hangat. Lalu kembali menempelkannya di luka Rayyan. Rayyan melihat ke arah Hanna.


"Sial" batin Rayyan, seolah sedang dikuliti oleh gadis asing di depannya ini.


"Kamu berhak bahagia, Rayyan" Hanna memungkasi kompresannya pada Rayyan, dia mengambil baskom yang berisi air hangat dan membawanya ke arah tempat cuci piring dan membuang airnya. "Masakan sudah siap, jika ingin makan makanlah" Hanna mengelap tangannya yang basah dan bersiap meninggalkan Rayyan.


"Ehm" Rayyan berdehem, membuat Hanna urung melangkah pergi. Rayyan diam sambil menatap Hanna. Hanna mengernyitkan keningnya.


"Apa?" tanya Hanna. "Oh minum?" Hanna mengambilkan minum untuk Rayyan tanpa diminta. Setelah mengambilkan minum, Rayyan masih terdiam, Hanna tak peduli dan akan segera pergi lagi.


"Ehm..." Deheman Rayyan semakin keras.


"Apa lagi?" Hanna kembali menoleh.


"Aku nggak bisa makan"


Hanna kembali mengernyitkan dahinya, "Maksudnya?" Hanna menyipitkan mata.


Rayyan memberikan kode manja pada Hanna, Hanna mendelik, bisa-bisanya laki-laki itu bersikap seperti itu.


"Jangan sampai kamu aku laporin pasal penelantaran suami" Rayyan tersenyum.


"Mana ada seperti itu?" Hanna mencak-mencak, dia masih kekeh tidak mau menuruti apa yang diinginkan Rayyan.


"Ambilin dan suapin, temani aku makan di sini, malam ini" pinta Rayyan. Dia tidak peduli seberapa Hanna terkejut dan heran dengan sikapnya, hanya saja sekarang dia ingin seperti ini. Ingin melegakan hatinya yang sedang tak menentu. Dia butuh teman, butuh teman yang bisa mendengarkan keluh batinnya yang sedang luka.