
Setelah beberapa jam setelah makan dan habis mandi, Kami pun pergi kerumah sakit sekaligus membawa oleh olehnya.
Sampai di Lobby RS, Aku langsung menelpo Anna dan tidak memberi tahu kalau Aku sudah kembali dari Bangkok dan berada di depan RSnya. Hari ini Dia ada jadwal jaga dan Dia baru sampai di RS juga karena sift siang.
Aku coba untuk menelpon Angel tapi tidak diangkat sama sekali. Aku langsung keluar mobil sama Mami dan masuk ke RS itu. Aku langsung menghampiri Satpam dan menanyakan untuk ruang rawat inap.
Satpam itu menanyakan kamar nomor berapa tapi karena Aku tidak tahu nomor kamarnya, Satpam mengarahkan Aku untuk bertanya terlebih dahulu ke petugas atau perawat yang bertugas di ruang administrasi.
Kami pun langsung kesana dan menanyakan ruangan kamar Adiknya Angel itu. Perawat itupun memberi tahunya dan dan mengantar Kami.
" Sus ... Gimana perkembangan pasien sampai saat ini ???? " tanyaku sembari berjalan bersamanya diikuti oleh Mami sembari menenteng paper bag nya.
" Sudah mulai mendingan Mba. Sudah mulai bisa berkativitas tanpa dibantu, Jadi kemungkinan beberapa hari lagi sudah boleh pulang. " jawabnya.
" Syukurlah. Eh btw, Deposit yang kemarin Aku kirim gimana ???? masih cukup kan ???? " tanyaku melihatnya.
" Masih Mba. Oh iya kata Petigas yang lain, Beberapa hari yang lalu setelah Mba melakukan pembayaran dan deposit, Kakaknya Pasien marah marah di ruang Administrasi. "
" Kenapa ???? "
" Iya karena Mba sudah bayar. Padahal Dia sudah memberi tahu semua petugas untuk tidak menerima pembayaran atas nama pasien kecuali Dia. "
" Oalahh ..... Pantasan saja Dia tidak pernah menjawab telepon dari Saya. "
" Mungkin Dia merasa tidak enak mungkin Cin ... " sambung Mami.
" Iya sih. Aku tau perasaannya. Semoga Dia ada disana iya ... "
Sampai di depan kamar Pasien, Suster langsung pergi dan Aku mengintipnya dari luar serta mengetuk pintu. Kami masuk dan melihat beberapa pasien juga yang ada di kamar itu.
Kasurnya tepat di pojok ruangan dan Aku langsung menghampirinya dan ternyata Dia masih tidur dan Angel tidak ada disana.
" Sssttt .... Dia masih tidur. Duduk ajah dulu. " bisikku pelan sama Mami.
Aku belum melihat semua kondisinya karena Dia memakai selimut dan masih tidur lelap.
Aku berjalan keluar perlahan dan melihat sekeliling ruang rawat inap itu meninggalkan Mami dikamar itu.
Aku menelpon Anna dan duduk di kursi yang ada di depan ruangan itu.
" Halo Ann .... Kamu lagi sibuk ???? " kataku.
" Kenapa Ran ???? Aku lagi diruangan pasien nih, Lagi ngecek beberapa pasien. "
" Oh... Oke oke. Nanti Aku telepon lagi iya. Aku lagi di RS Kamu, hehehe .... " jawabku.
" Oh iya ???? Kamu udah balik ???? Okeoke... Nanti Aku telepon setelah habis ini iya. " jawab Anna dengan senang karena kedengaran sangat bersemangat.
Aku menghela nafasku dan mematikan HPku.
" Halo Jel ..... Apa kabar ???? Sori iya tidak ngasih tau Kamu masalah biaya RS itu. Aku minta maaf bangat sama Kamu. Tapi Aku iklas kok ngebantu Kamu karena Aku sudah menganggap Kamu dan Adik Kamu sebagai keluargaku sendiri. Tolong jangan salah paham iya. Kamu lagi dimana ???? Lagi kerja iya ???? Maaf iya buat Kamu merasa tidak enak, tapi percayalah Aku sudah menganggap Kamu lebih dari teman. Kamu tahu Aku kan ???? Aku sangat khawatir sama Kamu dan Adik Kamu. " isi pesanku sama Angel.
" Terima kasih banyak Ran sudah bantu Aku dan Adikku. Tapi Aku bakal melunasinya dan mencicilnya iya, Aku bisa kok membayarnya jadi jangan terlalu anggap Aku gak bisa ngapa ngapain. " balasnya.
Aku memang tidak memberi tahu Dia bahwa Aku langsung membayar tagihan RS nya makanya mungkin Dia berpikir bahwa Aku seakan akan menunjukkan bahwa Aku kaya atau punya uang banyak padahal tidak seperti itu.
Aku bisa mengerti kenapa Dia berpikir seperti itu. Aku bisa mengerti bahwa pertama kali Dia menelponku hanya untuk berbagi cerita bahwa hari itu Dia lagi ada musibah dan bukan minta pertolongan atau bantuan dana.
Tapi Aku langsung inisiatif sendiri untuk membayarnya. Makanya dari situ mungkin Dia berpikir bahwa Aku menilainya beda padahal Aku sangat iklas untuk membantunya.
Aku benar benar mengerti perasaannya saat itu dan saat ini Semoga setelah bertemu dan mengatakan niat baikku secara perlahan Dia mengerti dan tidak mengira hal buruk atau hal lain.
Aku juga berharap semoga Adiknya tidak ada masalah kenapa kenapa karena Aku tadi melihat lehernya yang dipasang alat itu sehingga Aku sedikit takut ada kenapa kenapa. Tapi semoga pikiranku itu hanya karena khawatir saja.