Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 161


Tidak lama kemudian, Pintu kamar diketuk dari luar dan Mami dengan sigap berjalan kearah pintu dan membukanya.


Tidak lain dan tidak asing, Aku bisa tau siapa yang datang karena aroma parfumnya yang khas dan wangi. RR berjalan masuk dengan santai dengan pakaian celana jeans dipadu kaos oblong dan jakcet membuat Dia sangat berkarismatik sekali.


Pak Steve tidak menoleh kearah pintu untuk mengetahui siapa yang datang. Dia membelakangi pintu dan masih menatapku berdiri.


Sementara Aku masih duduk dan membuka ponselku karena Perawat itu masih mencari urat nadiku untuk jarum infusnya.


RR langsung menatap kearahku dan penasaran siapa yang berdiri disampingku itu.


" Halo Cin .... " sapa Mami karena merasa canggung melihat RR yang menatap ke arahku.


Aku melihat kearahnya dan senyum.


RR berjalan ke arah sofa dan meletakkan paper bag yang dibawanya sambil menyapa Sekretarisnya Pak Steve.


" Halo .... " sapanya.


" Halo juga. " jawab Sekretaris Pak Steve sehingga Pak Steve membalikkan badannya dan melihat RR yang berjalan kearah Kami.


Pak Steve sedikit bingung dan melihat kearahku kembali. Dari raut wajahnya Dia ingin Aku memberi tahu bahwa itu hanay Temanku saja.


Aku memilih senyum membalas tatapan Pak Steve itu membuat Sekretarisnya juga jadi canggung.


" Halo ... Atasannya Ranti iya ??? " kata RR dengan senyum.


" Eehh ... Eehhhemmm .... Halo juga .... Iya Saya Atasannya Dia. " jawab Pak Steve agak cangging dan menjabat tangan RR.


" Oh ... Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menjenguknya. " kata RR dengan tegas tapi santai.


" Hhmm .... Iya. Saya selalu meluangkan waktu untuk menjenguk setiap Staff Saya yang sakit dan bukan hanya Ranti saja. Kebetulan Dia sebagai Manager Desain di kantor, Jadi tidak enak jika tidak menjenguknya. " jawab Pak Steve dengan senyum dan berusaha berwibawa juga sehingga Mami dan Sekretarisnya saling tatap tatapan.


Aku hanya mendengar obrolan Mereka dan melihat ponselku berusaha menahan senyumku.


" Oh .... Syukurlah Ranti punya Atasan yang pengertian. Hayo silahkan duduk. " kata RR mempersilahkan Pak Steve untuk duduk di sofa karena masih berdiri di sampingku.


" Oh iya .... " jawab Pak Steve sambil melirikku dan berjalan ke arah sofa.


RR mendekatiku dan memegang keningku untuk mengecek apakah Aku masih demam atau tidak.


RR mengelus kepalaku lembut yang masih dililit handuk lalu berjalan ke arah sofa.


" Jangan kelamaan digituin kepalanya, Nanti masuk angin. Mau dibantu ngeringin ???? " kata RR memutar tubuhnya kearahku.


Pak Steve langsung kaget dan sedikit cemburu terlihat jelas dari raut wajahnya. Taoi Dia berusaha tenang karena Dia berpikir bahwa RR bisa saja Sepupu atau Kaluargaku.


" Silahkan dinikmati. " kata Mami lembut.


Setiap Orang yang datang menjengukku, Selalu disajikan minuman. Makanya seperti Orang yang tidak sakit dan seolah rumah sakit menjadi rumahku. Karena tidak berlaku untuk jam besuk karena Aku berada di kamar VIP.


Mereka mengobrol berdua karena Mami dan Sekretarisnya duduk didekat Bed ku.


Sesekali Kami bertiga saling tatap tatapan dan menahan ketawa mendengar Mereka.


Pak Steve memuji kinerjaku sementara RR hanya meng iyakan dan sesekali memujiku juga dengan santai membuat Pak Steve makin jelous.


" Mi, Tolong tanyain Perawatnya dong, Aku lapar .... Tumben jam segini belum datang juga makanannya. " kataku agak keras menghentikan pembicaraan Mereka karena selalu sibuk memujiku dari segi Masing Masing Mereka, Terlebih Pak Steve yang terlalu berlebihan.


" Oke oke. " kata Mami dan Sekretarisnya tersenyum melihatku. Mungkin Dia mengerti apa maksudku juga.


Tidak lama kemudian, Mami membawa Makananku dan segelas jus Terong Belanda yang sudah disiapkan Perawat.


" Sabar iya .... " kataku melihat Ekspresi Sekretarisnya yang sudah bosan dan sedikit kesal melihat Pak Steve yang kurang kerjaan.


" Tau nih Mba .... Apakah Laki Laki kalau bucin seperti ini ???? " tanyanya melihatku sembari mengerutkan keningnya.


" Mungkin masa puber di hari tuanya mungkin Mba. wkwkwk .... " kataku ketawa membuat Pam Steve melihatku.


" Astaga .... Serius Mba, Baru kali ini Aku melihat Dia seperti ini. Sudah tiga tahun jadi sekretarisnya dan baru kali ini Aku melihat Dia seperti Orang bodoh. Iya Bodoh karena cinta. " katanya menggelengkan kepalanya sembari melihat Boss nya itu.


" Mau makan dulu gak Bro ??? Ini ada makanan Saya bawain tadi. " tanya RR karena melihat Mami meletakkan makananku dimeja sampingku.


" Oh gak gak .... Ini Saya mau balik soalnya masih ada urusan dengan clien. " jawabnya sambil berdiri.


" Oh gitu .... Biar sekalian makan bareng, Soalnya Saya mau nyuapin Ranti sekalian. " kata RR membuatnya semakin cemburu.


Entah RR sengaja melakukannya atau tidak. Dia mengatakannya dengan santai membuatku tidak bisa berkata apa apa.


" Cepat sembuh iya Ran .... Biar bisa segera kembali ke kantor. Banyak yang perlu Saya bahas dengan Kamu. " katanya menghampiriku.


" Iya Pak, Terima kasih. " jawabku senyum dan merasa geli.


" Iya sudah Kita balik dulu. Cepat sembuh iya .... " katanya sambil memegang lengan tanganku lalu melepasnya.


" Hayo Mba. Broo, Balik dulu iya. " tatapnya melihat RR dengan senyum karena RR melihatku karena Pak Steve memegang tanganku.


" Iya iya. Hati hati. " jawab RR dan mengantar ke arah pintu.