Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 157


Keesokan harinya, Aku terbangun jam 5 pagi dan melihat RR tidur disampingku dikursi. Aku merasa kasihan sama Dia karena Dia benar benar sigap menjagaku sementara Mami tidur disofa itu.


" Yang .... " kataku pelan sambil mengelus pundaknya.


" Hhhmmm ... Hah ??? Kenapa Yang ??? " katanya langsung bangun dengan wajah dan tangannya yang penuh bekas gambar gambar tiang bed ku.


" Kamu tidur disofa ajah Yang .... Tuh lihat muka Kamu bekas ini semua. " kataku sambil menunjuk bed ku.


Dia langsung ngecek panasku dan menaruh tangannya di keningku. Dia sangat lega terlihat dari wajahnya. Dia mengelus rambutku dan melihat Mami yang masih tidur disofa.


" Kamu gak tidur lagi ???? '' tanyanya sambil melihat jam yang masih jam 5 an.


" Aku gak ngantuk lagi Yang .... Kebanyakan tidur kayaknya Aku. Aku mau mandi dulu. " jawabnya senyum.


" Jangan mandi dulu. Tunggu Perawat atu Dokternya kesini ya.... Itu tanganmu masih diperban. Nanti tunggu di cek dulu, Ya ???? " katanya menatapku.


" Iya iya. " Anggukku.


Dia mengecup keningku dan mengelus tanganku dengan lembut lalu tiduran disampingku.


" Kamu tidur disofa ajah Yang .... Hhmm ???? Sakit loh lehermu kayak gitu tidur ?. '' kataku mengelus rambutnya.


" Aku mau disamping Kamu. " jawabnya santai sambil memegang tanganku yang diinfus.


" Gimana proyek Kamu itu Yang, Udah kelar belum ???? "


" Belum. Mungkin 4 hari lagi, Baru kelar semua. "


" Kamu gak kesana lagi ???? "


" Gak. Udah ada Partner yang lain disana mengawasi. "


" Maaf iya sudah merepotkan Kamu. " kataku merasa gak enak karena selalu ada disampingku.


" Kamu gak pernah merepotkanku, Yang .... Jangan ngomong gitu. " jawabnya menatapku.


Aku hanya senyum melihatnya yang begitu baik samaku.


" Udah Kamu tidur disana ajah Yang ... Hayoo ... " kataku sambil memegang tangannya biar Dia tidur disofa samping Mami.


Aku hanya senyum melihatnya. Dia langsung tidur disofa samping Mami sementara Aku mengambil Ponsel yang disampingku.


Aku membaca balasan pesan grup kantorku. semua mendoakanku untuk segera sembuh dan menanyakan Aku dirawat di Rumah Sakit mana.


Aku sangat berterima kasih sama Mereka semua karena kebaikannya selama Aku bergabung di perusahaan itu.


Manager Butikku yang tahu Aku sakit langsung mengirim pesan dan Parcel buah yang dibawa Mami semalam. Begitu juga Karyawan Karyawanku memberi doa doa baik untukku.


Seperti biasa di setiap Rumah Sakit, Dokter keliling seperti biasanya untuk cek pasien bersama Asistennya dan Perawat yang bertugas.


" Panasnya udah turun dan sudah mulai enakan kan ??? Sudah terlihat dari wajahnya yang bersinar. " kata Dokternya setelah cek semua suhu badanku.


" Iya sudah mulai baikan, Dok. Semoga hari ini bisa pulang iya, Bosan juga tiduran mulu. " kataku sambil sedikit ketawa melihat Dokternya yang sudah separuh baya.


" Jangan langsung pulang pikirannya, Sehat dulu. Kan ditemani Pacarnya tuh ... Hehehe .... " goda Dokter itu sambil melirik RR dan Mami.


" Hahaha ... Dokter bisa ajah. Eh, Ini tanganku yang diperban udah bisa dilepas gak ??? " tanyaku sambil mengangkat tanganku.


" Sini, Aku buka dulu. Ini yang semalam kata Perawatnya berdarah dan bengkak kan ??? makanya dikompres dan diperban ??? "


" Iya. "


" Udah gak apa apa ini. Hanya tinggal biru dan sedikit bengkak lagi. Itu pengaruh dari bekas suntikannya ajah. Udah gak usah diperban lagi. " kata Dokter itu melepas perbannya.


" Syukurlah .... Makasih Dok .... " jawabku merasa lega.


" Tinggal nunggu panasnya turun iya. Nanti tolong diberikan Obat anti biotik juga iya. " kata Dokter itu melihat Perawat dan Asistennya.


" Baik Dok. "


" Ini infusnya boleh dilepas dulu gak, Dok ??? Soalnya mau mandi dulu. "


" Boleh boleh. Nanti tolong lepas iya Sus... "


" Baik. "


" Iya udah. Kamu cepat sehat iya. Kita tinggal dulu. " kata Dokter itu lalu pergi diikuti Asistennya sementara sang Perawat masih dikamar untuk melepas Infusku.