Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 35


" Hanya seperti ini ???? " kataku menatapnya.


" Kamu harus memuaskanku juga!!! kataku sambil menarik wajahnya ke dekatku.


Pria itu sedikit menahan nafasnya karena tarikanku yang secara tiba tiba.


Dan benar saja, Pria itu tertidur nyenyak dan tidak bisa menuruti permintaanku setelah beberapa kali tidak berhasil. Ingin sekali rasanya Aku menjambak rambutnya itu.


Aku bermain dan melakukannya serta menikmatinya dengan sendiri. Beberapa gerakan dan model Aku mainkan sendiri persis seperti bantal guling dirumah saat waktu itu. Bedanya ini benar benar asli yang bisa Aku lakukan langsung.


Aku melakukannya dengan beberapa jenis permainan, Hingga Aku ingin marah ternyata sexuit ini doang yang Dia bisa. Aku sungguh tak karuan, berkali kali Aku melakukan permainan itu sendiri hingga benar benar berada di titik kepuasan yang sangat puas.


Sial sekali rasanya dengan perkataanya tadi yang membuktikan bahwa Dia lebih rendah. Tidak bisa melakukan apa - apa melainkan hanya bacot dan omong kosong doang.


Melihat sikapnya yang tadi saat pertama ketemu bisa menunjukkan bahwa Dia Orang yang tinggi hati dan sombong. Bisa dikatakan Dia itu ingin Aku sanjung dan ingin Aku kagumi bahwa Aku bisa bersama Seorang Artis.


Dia mengagung agungkan profesinya yang tidak seberapa menurutku. Mungkin Dia ingin Aku menunjukkan ekspresi bahwa Aku beruntung bisa bersamanya. Ternyata Dia tidak tahu Aku seperti apa Orangnya.


Aku tersenyum sinis melihatnya yang tertidur pulas disampingku.


" Ternyata tidak selamanya punya Istri cantik dan seksi itu bisa memuaskan Suaminya. Buktinya sama seperti yang disampingku sekarang, mencari dunia luar yang mungkin bukan ini pertama kalinya. Tidak menjamin punya keluarga yang harmonis dan kelihatan baik - baik saja di TV ternyata memiliki sisi lainnya. Memang benar Kitaencari kepuasan untuk Diri Kita Sendiri. Tapi kalau sudah punya Keluarga, terkadang buat Aku terenyuh mengingat semasa hidup Papa Mama. "


Tidak tahu apa yang membuat Pria ini mencari dunia luar karena jarang bangay ada gosip tentang keluarganya. Karena biasanya dunia keartisan selalu disorot sekecil apapun itu.


Aku menunggunya untuk bangun dan ingin bertanggung jawab atas perkataanya tadi walau sebenarnya Aku tidak berharap untuk dibayar bekali lipat karena memang ini Aku hanya menyalurkan hasratku saja.


Hampir setengah jam Dia masih tertidur sehingga Aku langsing mandi dan sedikit melampiaskannya di kamar mandi.


Aku mengeluarkan emosiku disana hingga mereda dan merasa enakan. aku melakukannya hingga benar benar mencapai dititik kepuasan.


" Sama saja dong kayak Aku lagi di rumah ini. Bermain sendiri padahal ada Seseorang disini. dasar laki laki tidak jelas..... " cetusku kesal.


Tidak lama setelah Aku mandi, Dia bangun dengan mengusap matanya sambil melihatku. Dia terdiam sejenak.


" Kamu ternyata diluar dugaanku. " katanya pelan memegang tanganku dan mengeluasnya.


" Makanya jangan pernah merendakan Seseorang, Pak! " cetusku dengan penuh kekesalan.


" Kamu tidak kenal Saya ??? Wajarlah Saya bicara begitu karena kebanyakan Orang hanya ingin mendekatiku karena Aku Seorang artis. " katanya meninggikan diri.


" Iya elllahhh .... Bapak kali yang terlalu meninggikan diri hingga tidak sadar bahwa Bapak berada di posisi yang sama dengan Orang itu. Jangan terlalu meninggikan diri saat Kita berada di lingkungan Orang, Pak. Padahal dilingkungan itu Kita sama saja. Aku tahu Bapak Seorang Artis dan Aku tahu Bapak punya istri tapi itu diluar dari sini, kadi jangan Bapak agung agungkan itu!!!! Didunia seperti ini Kita sama !! " cetusku kesal meliriknya dengan sinis.


Dia langsung mati kutu dan tidak mengatakan apa apa hingga Aku langsung mengambil tasku.


" Aku hanya bercanda, Sayang.... Tapi Akan aku bayar sesuai perkataanku tadi. Aku akui, Kamu memang luar biasa. servisan Kamu membuatku tidak bisa melakukan apa apa selain hanya menikmatinya saja." katanya menunjukkan senyumnya sambil berdiri.


Tanpa berpikir panjang Aku langsung meninggalkannya dan pergi. Aku langsung naik ke lantai atas dimana Mami menunggu.


Dengan perasaan kesal dan marah, ingin sekali Aku menamparnya dengan keras tapi Aku berusaha untuk memakluminya karena mungkin hidupnya penuh drama seperti sinetron yang diperankan Dia sendiri.