
Saat makan, Dia terkadang menyuapiku layaknya seperti pasangan kekasih. Perhatian Dia selalu membuatku bimbang.
Bimbang antara perkataanya yang memberi tahu bahwa Dia tulus samaku padahak Aku hanya ingin memuaskan hasratku sama Dia.
Aku ingin kebebasan dan tidak mau menjalin hubungan, Makanya Aku selalu menghindar dan mengalihkan permbicaraan setiap kali Dia memberi tahuku.
Bahkan ketulusan airmatanya juga belum bisa membuatku untuk menerimanya walau terkadang Aku dilema.
Tapi Aku juga memikirkan saat Dia hendak membawaku ke toko perhiasan itu, Aku malah gemetaran. Aku benar benar bingung kenapa bisa begitu.
Setelah selesai makan, Kami langsung mampir ke toko minuman untuk membeli beberapa minuman dan makanan untuk dibawa ke hotel.
Lumayan seperti ada jarak antara Aku dan Dia semenjak Dia sedikit kesal tadi. Aku juga tidak mau mengungkitnya biar Dia tenang dulu.
Marah sih tidak. Hanya ada sedikit rasa kesal dan kecewa yang Aku lihat tadi diwajahnya Dia.
Aku memang salah, disaat butuh Aku selalu mengharapkan Dia ada disampingku tapi saat Dia mengatakan perasaannya, Aku malah tidak bisa jawab.
Diperjalanan menuju ke hotel, Aku menggengam tangannya sambil nyanyi mengikuti alunan musik yang Kami dengar.
Aku sengaja nyanyi karena Dia hanya diam saja. Ternyata Dia memuji suaraku. Katanya merdu dan indah membuatku sedikit tersipu melihatnya.
Sesampai dihotel, Kami langsung turun. Seperti biasa, Dia membukakan pintu untukku. Dia langsung membawa beberapa papar bag belanjaanku dan beberapa makanan dan minuman yang Kami beli.
" Sini Aku bawain sebagian Yang .... " kataku sambil meminta.
" Aku ajah bisa kok. " jawabnya.
" Itu kan minumannya berat, Sini Aku bawain paper bag yang itu. " kataku sambil menunjuk.
" Iya udah iya udah ... Nah .... " Dia memberikannya.
Kami berjalan ke arah lift dan berdirj disana sambil menunggu.
Kami langsung masuk ke dalam lift dan Dia langsung menekan tombol lantai kamarnya. Didalan lift itu ada sepasang kekasih yang kelihatan masih sangat muda.
Mungkin Dia sudah tidak tahan. Aku hanya tersenyum dan Aku sama RR saling tatapan. Mungkin Dia juga melihat itu.
RR langsung mengedipkan matanya samaku untuk berpura pura tidak melihatnya.
Siwanita itu sudah berusaha menahan tangan Laki Laki itu tapi tetap saja masih meraba rabanya karena Dia pake Dress.
Mungkin Mereka habis dari luar dan langsung cek in kesini. Mereka duluan keluar dari lift dibanding Kami.
Disaat keluar dari lift siLaki Laki itu melingkarkan tangannya di dada Wanita itu dan meremasnya hingga Wanita itu mengeluarkan suara ******* yang terdengar oleh Kami walau hanya samar samar.
Aku langsung menatap RR dan segera menutup pintu lift.
" Kamu kenapa ??? " goda RR melihatku senyum senyum.
" Aduh .... Aku jadi malu. Kita pernah gak sih kayak gitu di depan Orang ???? " tanyaku menatapnya yang menyenderkan badannya di tembok lift itu sambil senyum menatapku.
" Gak pernah. Mau coba ???? " godanya lagi sambil main mata.
" Apa ???? Coba ajah sama yang lain. Astaga .... Aku malu ngeliatnya. Masih muda Mereka dan kayaknya masih umur belasan deh itu Yang .... " kataku.
" Iya kenapa emang, Masa Kita melarangnya?? Kan itu urusan Mereka. Kecuali Dia ganggu Kamu baru Aku langsung maju. "
" Pret. Ayooo ... " kataku sambil keluar dari lift.
" Mau coba seperti Mereka itu gak ???" godanya sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.
" Plaakkk .... "
Aku langsung melempar tangannya dan melepasnya dari pinggangku dan berjalan cepat.
" Aaauu .... Sakit Yang .... " rintihnya sambil mengejarku.
" Rasain!!!! "