Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 155


Hei .... Apaa apaaan ini ??? ... " kataku kaget serta memukul punggungnya.


" Udah deh Yang, Jangan banyak ngomong. Kayak siapa ajah. Biar Aku bantu mandiin. Itu lihat tuh tanganmu ajah masih bengkak, Gimana bisa mandi dengan benar ??? Yang ada makin sakit nanti. " tatapnya serius.


" Tapi Aku bisa Yang .... " jawabku dengan penuh percaya diri.


" Kamu bisa sendiri dengan tangan seperti itu ??? yang ada nanti berdarah tuh dari bekas suntikannya. "


" Gak, Aku pelan pelan kok. Kamu tunggu di luar ajah sana. " kataku gak tetap gak mau.


" Iya udah Aku nungguin disini ajah. Aku gak mau Kamu takut kenapa napa Yang ... " katanya menatapku.


Aku langsung berusaha melepas pakaianku dan masih berusaha tapi tetap gak bisa karena tanganku sakit karena bengkak.


" Yang .... " kataku manja melihatnya yang berdiri di depan pintu sembari menatapku dengan tatapan coolnya.


" Nah tuh kan .... Bawel deh Kamu Yang .... " jawabnya senyum sambil menghampiriku.


Dia langsung membantuku untuk melepas semuanya agar Aku bisa mandi.


" Astaga ..... Badan Kamu masih panas Yang ... Yakin mau mandi ???? Cuci muka ajah iya ??? " kata RR sembari memegang punggungku yang masih panas bangat.


" Aku gak enak Yang .... Badanku terasa lengket. " jawabku manyun agar Dia ngebolehin.


" Iya udah Iya udah .... Bentaran ajah mandinya. Jangan lama lama iya. "


" Udah Kamu keluar ajah. Aku jadi bingung mau ngapain. " kataku sambil mendorong tubuhnya.


" Oke oke. Nanti kalau ada apa apa panggil Aku iya ?. Lima menit ajah mandinya. " katanya dengan tegas.


" Iya iya. Bawel deh. " kataku.


Dia langsung keluar dari kamar mandi dan menunggu di sofa kamar itu. Sementara Aku langsung menyalakan shower air panas dan mulai mandi dan menggosok badanku dengan pelan.


RR menonton TV sembari menunggu dan dengan sigap mendengar kalau Aku memanggilnya.


Dia mendengar dan selalu mengobrol denganku dari kamar. Kalau Aku tidak menjawabnya, Dia langsung mendekati kamar mandi dan mengetuk pintunya walau pintunya hanya tertutup begitu saja dan Dia tidak langsung masuk.


Saat Aku hendak memakai handuk dan melilitkan di tubuhku, Tangan kiriku bekas suntikan infus terkena kaca shower dan darahnya langsung mengalir dari bekas suntikan itu dengan lumayan deras. Ditambah lagi karena bengkak, Jadi semakin panas dan nyut nyutan. Aku panik dan mengambil tissue yang ada didekat wastafel sambil memanggil RR.


Tanganku gemetaran.


RR yang mendengar suaraku memanggilnya dengan lemas, Membuat Dia langsung berlari dan membuka pintu kamar mandi itu. Dia melihatku menaruh tanganku yang berdarah di wastafel dengan air krannya menyala.


" Sayang ..... Kenapa ???? " tanyanya panik sambil memegang tanganku yang berdarah.


Aku udah gemetaran dan tidak menjawab RR. Dia langaung mematikan kran itu dan menggendongku keluar kamar mandi saking paniknya.


Tidak lama lama, Dia langsung menekan tombol bel agar Perawatnya segera datang.


Dia menaruh tissue di samping tanganku yang berdarah tapi tidak menutupinya karena Dia tidak tahu harus ngapain. Berkali kali Dia menekan bel, Wajahnya Aku lihat sangat panik dan cemas.


" Aishhh .... Ini Perawat lama sekali!!! " gerutunya sambil mengelus kepalaku dan memegang tissue itu.


" Aku mau pake baju dulu, Yang .... " katanya lemas.


" No. Tunggu Perawatnya datang dulu Yang .... Itu tanganmu udah bengkak bangat. Kamu sih dibilangin bawel bangat. Jadinya kayak gini kan ???? " katanya marah melihatku.


Aku menatap wajahnya sudah meerah dan menahan emosinya.


" Maaf .... " kataku pelan sambil menunduk melihat tanganku.


15 Menit kemudian, Pwrawat datang dan mengetuk pintu. Dia melihat tanganku yang bercucuran darah dan tissue yang banyak darah membuatnya sedikit berlari dari depan pintu.


" Astaga .... Kenapa Kak ???? " tanyanya.


" Kenapa Suster lama sekali datangnya ???? Itu bel udah ditekan beberapa kali loh ??? " cetus RR marah.


" Maaf Pak. Tadi Saya lagi diruangan lain. " jawabnya sambil membersihkan tanganku.


" Kak tunggu bentar iya, Aku ambil alkohol sama kapas dulu, Biar bisa Aku bersihin. " kata Perawat itu lalu pergi.


" Iya iya. Makasih iya. " jawabku.


Aku yang melihat RR bertolak pinggang dan masih marah disampingku, Aku langsung mengelua tangannya dan mengedipkan mataku memberi isyarat bahwa Its oke, Aku gak apa apa. Jangan panik ....


Dia mengangguk dan menghela nafasnya dengan panjang sembari menatapku.


Perawat itu langsung membersihkan darahnya dengan alkohol dan mengkompres tanganku agar bengkaknya segera kempes.


" Kok bisa sampai berdarah gini Kak ???? " tanya Perawat itu sambil membersihkannya.


" Tadi pas mau keluar dari ruang shower itu, Tanganku ke goreng di kacanya Sus ... "


" Astaga ....Hati hati Kak. Iya udah Kakak pake baju dulu baru nanti dipasang infusnya lagi. aini udah bersih dan udah Aku kompres juga makanya diperban gitu. Mau Aku bantuin ???? Atau Kakak bisa sendiri ??? " katanya sambil memegang tempat alat alkohol dan yang lainnya.


" Biar Saya ajah yang bantu Sus. " jawab RR dengan sigap sehingga Perawat itu melempar pandangannya sama RR yang dengan menunjukkan wajah dingin dan coolnya.


Aku mengangguk sama Perawat itu sambil senyum sehingga Dia keluar dulu untuk menyimpan peralatan tadi yang dibawanya.


" Apa Saya harus tekan bell lagi nanti Sus ??? " tanya RR dengan masih nada kesalnya.


" Yang .... " kataku memegang tangannya.


" Gak usah Pak. Nanti Saya kesini sekitar 5 menit lagi. " jawab Perawat itu senyum.


" Baiklah. " angguk RR dan Perawat itu pergi.


" Yang .... I am Oke .... " kataku cemas dan manja melihatnya yang begitu kesal dan dingin terlihat dari wajahnya.


" Pelayanannya lama sekali Yang!! Percuma ini kamar VIP. " cetusnya kesal.


" Udah udah .... Aku mau pake baju, Nanti Susternya keburu kesini. " tatapku senyum melihatnya dan mengedipkan mataku.


Dia langsung mengambil tas yang berisi pakaianku dan Aku mengambil set piyama yang ada didalam.


RR membantuku untuk memakainya.


" Udah gak usah malu. Aku udah lihat itu. " kata RR saat membantuku.


" Apaan sih Yang .... " kataku manja.


" Badan Kamu masih panas loh ini. "


" Nanti bakalan sembuh Yang ...."


" Kapan ??? Masih belum ada perubahan. "


" Sabar Yang .... Sabar ... " kataku mengelus tangannya dan menyenderkan kepalaku di pinggangnya yang berdiri disampingku.