
" Ayooo .... Mau coba gaya apa ??? " tanyanya dengan sumringah.
Kuturunkan suhu AC sehingga makin terasa dinginnya dan kutarik Dia untuk berbaring tengkurap.
Aku langsung menindikan badanku diatas bokongnya dan melebarkan milikku dengan kedua tanganku lalu menggesek gesekkan di bokongnya.
Arrggghh ,, Ini sungguh nikmat. Aku mulai liar makin cepat makin cepat hingga keluar sesuatu keluar di bokongnya dan Dia langsung dengan cepat membalikkan badannya dan memasukkannya ke dalam milikknya.
Aku berteriak nikmat dan menarik memasukkan berulang ulang dengan goyangan sambil memegang rambutku. Badanku menari nari diatasnya hingga semua milikknya masuk kedalam milikku. Aku mengintip dengan menunduk karena ternyata semuanya bisa masuk ke dalam tanpa ada yang tersisa.
Yang kelihatan hanya dua buah telur coklat saja. Perlahan kutarik kudorong kembali untuk masuk kedalam.
" Aarrrhhh sungguh nikmat sekali. Tidak ada yang bisa menggantikan kenikmatan ini. Olahraga terbaik yang pernah Aku lakukan. "
Dia mulai menjulurkan lidahnya layaknya seperti ular yang ingin menerkam mencari mangsa.
" Sayang itu enak bangat ... Mmmppss ... "
" SSSTTT ... AHH ... EHHHMMM ... AAAAHHH ..." Aku mendesah sambil menjambak rambutnya.
Tubuhku sudah mulai sangat resah dan sesekali menganggakat pinggangku dan pahaku langsung menjepit kepalanya yang masih menjilati milikku.
Aku meremas kedua gunungku dengan tanganku sendiri sambil menikmati areaku yang lagi dinikmatinya.
Untuk keberapa kalinya Kami berhenti dan ngos ngosan karena capek.
Aku dan Dia pun tidur dengan sangat pulas karena semua sudah terlepas.
Dua hari berlalu, Aku menelpon Mami untuk menanyakan bagaimana kabarnya. Tiap hari Aku selalu mengirim makanan untuknya walau Aku tidak pernah menjawab telepon dari Mami karena kerja.
Untung saja Dia sudah bisa jalan dengan normal tanpa bantuan tongkat lagi. Aku sangat senang mendengarnya.
" Bosan ah dengarnya .... Besok datang ke butik iya Mi... Kita nanti makan makan. " kataku sambil menutupnya.
Aki sudah menganggap Mami seperti Keluarga sendiri. Apalagi mendengar perjalanan hidupnya, Aku merasa sangat tersentuh dan kasihan sekali.
Disatu sisi, Aku sangat kagum sama Dia karena Dia Orangnya sangat pekerja keras dan tidak mau melihat kebelakang. Dia selalu menatap ke depan dengan penuh senyuman tanpa mengingat rasa sakit yang pernah dilaluinya di masa lalu.
Ingin sekali Aku bisa seperti Dia. Bisa melupakan semua yang telah terjadi di hidupku. Aku masih belum bisa dan masih dihantui bayangan bayangan masa lalu keluargaku.
Tidak bisa kubayangkan bagaimana Dia bisa melewatinya sampai saat ini.
Aku selalu berharap bisa terlepas dari semua bayangan masa lalu yang Aku alami di keluargaku. Tapi Aku masih belum bisa lepas dari sana.
Aku sangat rapuh di hidupku. Benar benar rapuh hingga Terkadang Aku menangis di kesendirian.
Aku ingin sekali melepas semua beban yang masih tertanam di benakku. Ingin sekali ku kubur dalam dalam agar hidupku bisa tenang dan bisa memulai hidupku yang baru tanpa dihantui oleh masa lalu itu.
Setiap kali Aku berusaha untuk melupakannya, Aku selalu terbayang bagaimana kehidupan keluargaku saat itu. Makin terlihat jelas di depan mataku apa yang terjadi.
Dikesendirianku terkadang Aku merindukan sosok Mama dan Papa dihidupku. Aku benar benar merindukan Dia di kesepianku ini.
Hidupku kini tidak berguna dan tidak bisa dibanggakan lagi. Semua sudah sirna. Duniaku sangat gelap semenjak Mereka pergi.
Sudah bertahun tahun memang kepergian Mereka tapi masih melekat dihatiku dan masih terlihat dan terdengar jelas setiap perkataan itu disaat Aku mau melupakannya.
Setiap Aku berziarah, jarak 100 meter dari kuburan itu, Aku selalu meneteskan airmataku dan langkah kakiku sangat berat kulangkahkan.
Dadaku masih terasa sesak hingga saat ini. Jantungku sangat berdebar debar setiap ziarah ke pemakaman Mereka.