
Aku nyengir gak jelas sambil berusaha mengambil minuman Mami dengan tidak melihat Mereka dan meneguknya
Aku perlahan melirik keduanya yang masih menatapku diam.
" Kenapa ??? kok Kalian ngeliatnya begitu bangat ??? " kataku sambil merasa sedikit aneh.
" Kamu cetus bangat tau ngomongnya ???? Kamu tau gak sih atau Kamu pernah berpikir gak sih kalau Kamu berada diposisinya Dia ??? " kata Mami dwngan tatapan serius.
" Pernah. Emang kenapa ???? Apa Aku salah ??? Iya wajarlah Aku ngomong kayak gitu karena Dia gak pernah berhenti untuk menelpon. Kalau Mami diposisiku apa yang Mami lakukan ketika Mami sudah berusaha untuk ngomong baik - baik tapi tetap ajah gak di dengar. Apa yang akan Mami lakuin ???? " kataku dengan kesal.
" Iya minimal Kamu jangan ngomong kayak gitu tadi. "
" Emang Aku ngomong apa ???? Ada yang salah atau Aku ngomong kasar ??? Aku kan ngomong maaf. I know perasaan Mami, justru karena Aku tahu makanya Aku ngomong gitu. " cetusku kesal.
" Udah .... udah .... Masalah itu doang malah diperbesar. Udah lah Dek, Kamu gak Aku bela begitu juga Mami. Mungkin menurut Kamu itu hal yang biasa tapi menurut Mami itu sudah agak kasar Dek. Tanggapan dan pendapat Orang berbeda beda Sayang .... Udah ah ... " katanya memegang tanganku.
Aku menghela nafasku dan berusaha untuk tenang. Apa Aku berkata kasar ??? atau Aku yang terlalu tidak punya perasaan ????? Pertanyaan itu selalu menghantuiku ketika Mami ngomong itu.
Wah moodku benar - benar langsung gak baik. Aku menatap Mami yang terdiam menunduk sambil melihat HPnya. Seketika perasaanku benar benar hancur melihat Mami yang tertunduk akibat bentakanku.
Aku merasa bersalah sekali telah mengatakan itu sama Mami yang membuatnya merasa sedih karena memang Aku tahu karena Dia pernah atau memang masih berhubungan dengan Pak Agus.
Aku berusaha untuk tenang dulu lalu Aku minta maaf sama Mami. Begitu juga Mami minta maaf sama Aku.
Aku berjalan sambil tanganku di pegang Dia. Aku masih diam dan tidak ngomong apa apa saat Kami menuju lantai atas.
Dia mengelus elus tanganku dengan lembut. Sampai di kamar, Aku langasng ambil chargerku dan memasukkan ke dalam tas.
" Maaf iya soal tadi Sayang .... " katanya sambil memelukku.
Aku menunduk dan terdiam sejenak dan menahan air mataku. Aku berusaha untuk menahannya untuk tidak sampai keluar.
Aku benar benar sedih sekali, disatu sisi Aku selalu berpikir apa Aku terlalu kejam mengatakan hal demikian ???? Bukankah itu hal yang biasa ???? Aku hanya mengatakan isi hatiku saja karena memang Dianya saja yang tidak pernah mendengar apa yang sudah Aku katakan.
Ketika disaat seperti ini, Aku langsung berpikir dan ingat sama Mama dan Papa. Air mataku seketika banjir tak terbendung. Aku benar benar tidak tahu apa yang terjadi sampai Aku harus menangis seperti ini. Perasaanku sangat sedih. Aku tidak tahu kenapa dan apa yang terjadi dalam diriku.
Dia tiba tiba bingung melihatku yang tiba tiba menangis di pelukannya Dia.
" Kenapa Sayang ???? " tanyanya dengan lembut sambil memutarku untuk menghadap ke Dia.
Aku berusaha menenangkan diriku. Aku tidak mau terlihat menyedihkan di depan Dia dan apalagi Dia tau akan masalah yang Aku hadapi dulu.
" Arrgghhh .... Jangan sampai Aku terlihat menyedihkan. Aku tidak mau dikasihani. " gumamku dalam hati.