Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 264


Setelah beberapa jam kemudian, Aku minta tolong ke RR untuk mengantar Bibi pulang ke rumah. Walau Bibi sempat menolak untuk naik taxi saja tapi Aku tidak memperbolehkannya. Aku ngotot untuk diantar sama RR saja.


Mami dan RR juga tidak meng iyakan Bibi untuk pulang naik taxi karena sudah larut malam. RR langsung mengantar Bibi pulang dan nanti langsung kembali ke Rumah Sakit lagi.


Diperjalanan saat mengantar Bibi, terasa begitu hening di dalam mobil karena Bibi hanya diam saja membuat RR merasa sangat bersalah.


" Hhm ... Bibi ... Maafin RR iya, Ranti seperti itu karena RR. " kata RR melihat Bibi yang duduk disampingnya.


" Jangan minta maaf ke Bibi, Nak. Bibi tidak tau apa permasalahan Kalian seperti apa sehingga Ranti sampai mengalami seperti itu. Kamu minta maaf ke Ranti, Nak. Jangan ke Bibi. Bibi merasa tidak ada kesalahan yang Kamu lakukan makanya jangan minta maaf ke Bibi. Bibi hanya sedih dan khawatir melihat Nona Ranti. Bibi tidak mau Dia banyak pikiran dan sedih, Bibi hanya mau Dia bahagia di hidupnya. Tidak ada harapan Bibi selain melihatnya bahagia karena sudah cukup untuk Dia bersedih dulu. " jawab Bibi datar melihat RR dengan penuh harap untuk menjaga Ranti.


" Ya Bi. RR janji akan jaga Ranti dengan baik dan akan Aku jaga semampuku. Aku minta Doanya ya Bi, Supaya semuanya baik baik saja. Aku tidak berharap apapun dalam hidupku lagi kecuali Ranti, Bi. Aku tidak mau lagi menyia nyiakan waktu. Aku juga Berdoa agar Bibi panjang umur dan bisa bersama Kami. " kata RR sambil mengelus lengan Bibi.


" Terima kasih Nak karena sudah begitu tulus untuk mencintai Nona Ranti. Semoga hubungan Kalian dipermudah sama yang Diatas. " jawab Bibi.


Hampir 20 menitan, Akhirnya RR sampai di rumah untuk mengantar Bibi. RR tidak masuk dan hanya menunggu Bibi dari mobil untuk masuk ke rumah karena Dia harus langsung ke Rumah Sakit lagi.


**********


" Mami, Tolong ambilin bajuku dong di tas. " kataku sama Mami.


" Bentar iya Cin ..... Tapi gimana Kamu mau ganti bajumu itu ???? Mami takut, Panggil Suster ajah ya. " kata Mami karena takut dan ngilu melihat tanganku yang bengkak dan biru itu.


" Ya. Gak apa apa. Tolong sekalian tekan bel nya Mi, Biar Susternya datang. Aku gal tahan cium bau bajuku ini. " kataku sama Mami karena memang blouse yang Aku pake itu terkena minuman keras dan darah jadi baunya agak aneh walau sudah dibersihin Suster.


Tidak lama setelah Bibi menekan bel, Akhirnya Suster datang dan mengetuk pintu kamar.


" Ada yang Bisa Sayang bantu Kak ??? "


" Oh ya, Kak. Mari Saya bantu ya. " kata Suster itu dengan sedikit menaikkan ranjang tidur itu.


" Saya lepas dulu iya infusnya bentar biar gampang untuk melepas bajunya. Maaf ya.... " kata Susternya dengan sopan.


" Ya. " jawabku singkat.


" Aduh .... Maaf iya Sus sudah ngerepotin. Soalnya Saya ngilu melihatnya jadi tidak berani untuk membantunya. " jawab Mami sesekali memejamkan matanya sambil memegang baju piyama set.


" Iya gak apa apa, Kak. Hehehehe ... " jawab Suster sambil senyum.


" Aku pengen mandi sih sebenarnya Dok. Perasaan Saya sudah gak enak. " kataku.


" Jangan dulu ya Kak. Besok ajah ya kalau bengkak ditangannya sudah mulai mengempes dan jahitannya juga sudah kering. " kata Suster itu memberi saran.


" Ya Cin .... Udah deh jangan mandi duku, Nanti Mami bersihin muka Kamu pake tissue ya..... " kata Mami.


" Sekalian maskerin, Tolong ya Mi. " kataku melihat Mami datar.


" Ya Cintaaaaaaa .... " jawab Mami.


" Bajuku ini di gunting ajah Sus, Gak apa apa kok. " kataku yang melihat Suster itu sedikit takut juga untuk melepas lengan bajuku.


" Gak apa apa nih Kak ??? " tanya Suster itu melihatku. Mungkin karena Dia lihat merk bajuku itu yang lumayan mahal.


" Ya. Gunting ajah. Sekalian mau buang sial. " jawabku singkat.