Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 105


Aku langsung turun dan masuk ke Butik dan melihat Bibi disana ikut bantu bantu packing juga.


" Halo Bu ... " sapa para Karyawanku.


" Halo .... "


" Mau langsung jalan gak Bi ?? " tanyaku.


" Boleh Non, Biar gak kemalaman nanti pulang ya. '' jawab Bibi menyelesaikan packingannya.


Aku langsung masuk dan menyapa Manager Butikku yang lagi asyik cek cek laporan.


" Halo Bu .... " sapaku sambil membuka pintu ruangannya.


" Halo Bu .... Baru datang Bu ???? Makasih iya oleh olehnya ..... " jawabnya sembari berdiri.


" Sama sama. Iya Aku abru nyampe dan mau langsung pergi lagi.au bawa Bibi cek up dulu. "


" Oh iya iya .... Hati hati Bu. " jawabnya sambil menghampiriku dan Kamipun keluar dari ruangan itu menuju ke depan.


Setelah Bibi menyelesaikan packingannya, Kami langsung pergi ke RS dan sesampainya disana, Aku langsung ambil antrian untuk pasien non bpjs.


Tidak lama kemudian, Kami dipanggil dan segera masuk ke ruang periksa. Memang Kami agak cepat dipanggil karena peserta Non BPJS, Berbeda dengan yang pake BPJS antriannya masih panjang.


Di ruangan bersama dokter, Bibi menjelaskan semua tentang kesehatannya dan Dokter langsung memeriksanya yang dikeluhkan Bibi.


" Ibu tidak apa apa. Itu memang wajar karena sudah memasuki masa tua. Tapi Aku akan memberi Ibu resep vitamin sama susu yang menguatkan tulang sendi iya. " kata Dokternya memberi penjelasan.


Akupun lega dan bersyukur bahwa Bibi tidak kenapa kenapa. Memang Bibi sudah separuh baya. Tapi tidak kelihatan memang. Dokternya saja tadi masih mengira bahwa Bibi masih umur sekitar 35 an ke atas.


Memang Aku akui, Bibi memang pintar merawat diri. Bahkan bisa dibilang lebih rutin untuk maskeran dan luluran atau apapun itu yang berbaur merawat tubuh baik dari luar maupun dari dalam dibanding Aku.


Setelah vitamin serta susunya udah di kasih, Kami langsung pulang kerumah. Diperjalanan Mami menelpon untuk menanyakan apakah Aku datang ke rumah sakit atau gak.


Aku bilang iya datang tapi setelah antar Bibi pulang dulu dan setelah mandi dulu.


Setelah sampai di rumah dan habis mandi, Aku langsung ke rumah sakit tempat adiknya Angel dirawat. Di perjalanan, Aku mampir dulu ke toko roti untuk dibawain ke Rumah Sakit.


Disana, Kami cerita cerita berbagi pengalaman yang positif satu sama lain. Hingga tidak teras dua jam sudah disana dan Kami ijin pulang sama Angel.


" Enak juga ngobrol sama Adiknya Angel iya... " kata Mami diperjalanan.


" Kenapa emang ??? "


" Iya Dia terbuka sekali Cin .... Dia cerita pengalaman bahkan kehidupannya yang hampir sama denganku. Aku tidak menyangka ternyata Mereka berdua mempunyai keluarga dari Mama sama Papanya tapi tidak menganggap Mereka sebagai Keluarganya semenjak kedua Orang tuanya meninggal.


" Iya. "


" Aku salut juga untuk perjuangan Angel sama Adiknya itu. "


" Iya, Dia sayang bangat sama Adiknya itu. Dia berjuang sekali sama Adiknya itu supaya bisa sekolah dan bahkan sampai kuliah saat ini. "


" Iya Aku salut sekali dan terenyuh mendengar Adiknya cerita tadi, Matanya berkaca kaca. Dia bahkan mengatakan ternyata Orang lain bisa menganggap Kita seperti Keluarga Sendiri dibanding Keluarga Kita. "


" Emang begitu kan jaman sekarang. Sudah tidak heran lagi untuk hal seperti itu. Makanya terkadang berpikir lebih baik tidak punya keluarga dari pada punya yang sifatnya kayak gitu. Bahkan lebih parahnya ada saat Kita senang dan menghilang kayak setan saat Kita lagi butuh. "


" Iya betul itu Cin. "


" Makanya Mi, Terkadang Aku sebelum bergaul sama Orang terlebih Aku menilai dulu Orangnya kayak gimana. Karena kalau Aku sudah sayang, Aku bakal menganggap seperti keluarga sendiri. Iya Mami bisa menilai sendirilah. "


" Iya Aku sudah tahu kalau itu. "