Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 112


Selesai makan, Pak Andrew menerima telepon dari klien atau mungkin Temannya sehingga Pak Andrew meninggalkan tempat itu duluan.


Karena menurutku tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi, Aku juga minta pamit untuk pulang. Saat Aku hendak pergi, Pak Steve tiba tiba minta nomorku dan katanya biar bisa nanya desain dan project selanjutnya walau sebenarnya bisa ditanya melalui Sekretarisnya.


Tapi biar gak lama, Aku langsung memberinya dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Padahal kan Dia gak ada hubungannya dengan Perusahaan disini karena Pak Andrew hanya mengajaknya untuk keliling ke bagian Produksi karena Dia hanya menemani dan sekalian berlibur doang kesini. Tapi cengkuneknya banyak sekali.


Aku langsung melajukan mobilku dan segera meninggalkan tempat itu.


Dua Anak Pemilik Perusahaan yang Saya kenal tapi semuanya tidak adapun yang menarik perhatian Saya. Iya Pak Steve lumayang lah dibanding Pak Agus. Hanya saja Pak Steve membuat Saya malas dari segi Kejudesan Dia. Padahal pas baru melihat Dia datang bersama Pak Andrew, Aku melihatnya sangat berwibawa dan cool bangat.


Ditambah lagi karena Orang Luar iya pasti rapih dan putih serta bersih membuatku sedikit menatapnya dari kejauhan sebelum berbicara langsung dengannya.


Tapi akhirnya zonk. Tidak seperti dugaanku. Ingin sekali rasanya punya Teman Orang luar atau yang punya pengalaman dalam berbisnis biar pengalaman Saya makin bertambah dan makin tahu seluk beluk ranah pasar.


RR sangat ramah dan mau mendengarkan keluhanku sih, Tapi Aku tidak mau berbagi pengalaman atau menanyakan terkait bisnis bisnis pekerjaan karena menurutku Kami hanya sebatas rekan untuk memuaskan hasrat saja.


Walau Aku selalu merasakan kenyamanan saat bersamanya, Tapi Aku tidak mau menaruh hati dan menjalin hubungan dengannya. Cukup hanya untuk saling bercinta saja.


Walau terkadang Aku memikirkan dan merindukannya bukan berarti Aku menyukai atau mencintainya melainkan hanya saja ingin memuaskan hasratku saja.


Aku langsung mandi dan tiduran di masur setelah sampai di rumah. Aku memejamkan mataku diatas kasurku dan tiba tiba ponselku berdering. Aku mengambilnya sambil membuka mataku dan melihat panggilan masuk dari RR.


" Halooo .... " kataku dengan suara sedikit kecil.


" Halo Sayang .... Apa kabar ???? Kamu sakit ???? kok suara Kamu kayak beda ???? "


" Hhmm .... Gak. Aku hanya kecapean saja. "


" Oalah .... Apa Aku menganggu istirahatmu ???? "


" No. No. Kamu tidak sibuk ???? "


" Me too Sayang .... Aku merindukan semua yang ada padamu. " jawabku dengan sedikit suara pelan dan mendesah.


" Sabar iya Sayang .... Dalam waktu dekat Aku akan kesana. "


" Aku udah gak sabar .... " suaraku makin mendesah.


" Kamu mau melakukannya dengan vidio call ???? "


" No. Aku gak mau. Aku mau secara langsung. Aku tidak menyukai itu. " cetusku.


" Iya iya. Sabar iya Sayang ... Aku juga udah gak sabar mau masukin punyaku ini, Ingin mengemut milikmu juga. Arrghhh .... Aku jadi naik nafsu nih .... "


" Me too Sayang .... Aku ingin merasakan sodokanmu. Aaaaaa ..... Aaaaa .... " desahku mulai memegang kedua gunung kembarku.


" Sayang.... Ayooo melakukannya secara Online. Aku idah gak tahan... "


" Gak mau. Gimana rasanya ??? jangan aneh aneh deh, Udah buruan kesini. Kamu akan mencicipinya sampai puas. " kataku.


" Oke oke. Dalam waktu dekat iya. I love You. "


" Love You too. Udah iya, Aku makin mendesah nanti mendengar suaramu. "


" Iya iya.... Muaacchh ."


Aku sudah tidak tahan dan langsung mengambil guling andalanku dan melakukannya.


" Aargghhh .... Aawwww .... Aaaaa .... Aaaauuuu .... " desahku sambil menonton porno itu sehingga makin membuatku bergairah.


Aku melakukannya hingga puas dan puas. Walau tidak senikmat bersama Orang tapi minimal bisa mengurangi kesangeanku.


Dalam permainan itu, Aku selalu menyebutkan nama RR untuk cepat datang. Agar Aku bisa puas dan nikmat.