Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 145


Kami berjalan melewati lorong itu.


" Mi, Ini nanti tolong bayarin biaya RS nya iya ke kasir. Dan tolong tanyain ke bagian kasirnya kalau bisa dipindahin ke ruangan pribadi Adiknya. Jangan disitu biar tenang karena pasti pada berisik karena banyak Pasien dikamar itu. Kasian juga Pasien lain kalau Kita kesana beberapa Orang sekaligus kan ??? Bayar pake ini ajah nanti. Pinnya nanti Aku chat, biar Kamu gak lupa. " kataku sambil memberikan kartuku.


" Iya sih benar Cin .... Baiklah, Nnati Aku tanyain dulu iya. Kamu memang Teman yang luar biasa baik hati deh Cin .... Dia beruntung punya Teman seperti Kamu. " kata Mami.


" Aku udah anggap Dia seperti Keluargaku sendiri, Mi. Kamu tau itu kan ??? '" tatapku melihat Mami.


" Baiklah. Tapi ini isinya berapa Cin ???? Nanti berkurang banyak kan bisa repot urusannya. " kata Mami nyegir.


" Palingan nanti Mami yang Aku penjarain. Oh iya sekalian beliin roti atau apa buat Kalian makan. Tapi tanya dulu habis ini biar bisa ganti ruangan. "


" Aish .... Kamu mah selalu membuatku ketakutan. Oke oke.... "


" Iya udah bye.... Aku jalan dulu iya. " kataku melambaikan tangan saat sudah di lobby RS itu dan berjalan ke arah parkiran.


Sementara Mami, Berjalan ke arah kantin yang berada disamping RS itu.


Aku langsung meninggalkan RS itu dan menuju kantor. Aku lihat jam tanganku sudah menunjukkan jam setengah 9 pagi.


Aku sih bisa ajah masuk jam 10 pagi karena setara Manager keatas paling lama jam 10 masuk, Tapi Aku tidak pernah sampai kantor selama kerja disini jam 10, Pasti selalu dibawah jam 10.


Apalagi Pak Steve udah disini, Bisa bisa cari masalah lagi samaku. Pasti selalu cari alasan yang sebenarnya gak ada gunanya atau gak berfaedah.


Aku sedikit melajukan mobilku dengan cepat dan sampai kantor jam 9.30. Sebelumnya tadi juga Aku udah info sama Mba Devi bahwa Aku gak telat karena masih ke RS duku karena ada Keluarga yang sakit.


Aku langsung menenteng tasku, dipadu dengan dress andalanku sama blazer dan hells.


" Tok .... "


" Tok ... "


Suara sepatuku terdengar jelas saat Aku melangkahkan kaki di gedung ber lantai 10 itu. Aku menuju lift dan menekan tombol naik untuk ke ruanganku. Aku berdiri didepan lifr itu sembari membuka Ponsel dan medsosku. Sesekali Aku membalas pesan dari teman temanku, Baik dari Grup Butik juga.


Pintu lift terbuka dan Seseorang senyum dari dalam lift itu yang tak lain adalah Pak Steve tanpa Sekretarisnya itu.


Aku membalas senyumnya dan masuk ke dalam lift. Aku hendak menekan tombol lift itu dan ternyata sudah di tekan oleh Pak Steve sebelum Aku masuk kesana.


" Ehhemm .... " Pak Steve batuk.


Aku hanya berdiri santai disampingnya dan sedikit ada jarak karena memang Kami berdua yang ada didalam lift itu. Tanpa meliriknya Aku fokus melihat Ponselku.


Aku memergoki Dia yang menatapku dari kaca lift itu. Sontak Dia menggoyangkan kakinya dan melihat jam tangannya karena kedapatan olehku. Aku tersenyum kecil dan menggelengkan kepalaku.


" Why are You smiling, Ran ???? I'm so nervous ... " katanya sambil mengangkat dagunya.


" Tidak apa apa. " jawabku santai.


" Bagaimana tidak apa apa tapi senyum ??? " tanyanya dengan logat masih belum fasih dengan bahasa indonesianya.


" Apa Bapak tidak merasa lucu juga ??? " tanyaku sambil menatapnya dan Aku langsung keluar karena pintu lift sudah terbuka tanpa menunggu jawabannya.


Setelah keluar dari dalam lift itu, Aku tersenyum melihat kelakuannya. Aku terus berjalan ke arah ruanganku yang tidak terlalu jauh dari loft itu tanpa menoleh ke belakang karena Dia mengikutiku juga dari belakang.


Aku langsung masuk keruangan dan berjalan ke ruanganku, Aku melihat Dia tersenyum berjalan lurus dan mungkin Dia mau keruang HRD karena berada diujung lantai itu.


" Kamu membuatku terpesona. Aku terpergok olehmu. "