
Dengan sigap, Dia langsung melepas pakaianku dan menarikku ke atas ranjang. Dia menidurkanku dan langsung mulai melakukan permainan demi permainan. Dia menggenggam tanganku erat dan mulai bermain.
Keringat yang menggantung di dagu pria itu menetes ke dadaku, kemudian mengalir di antara gunungan yang kenyal itu.
“Ah ....” Dia mengerang. Di dalam tubuhnya seolah ada api yang membara, membuat dirinya seakan ingin meledak merasakan hentakan yang Aku lakukan.
“ Kamu Siap ??? "
Aku sangat ingin membuat benda keras yang sudah menancap di dalam tubuhnya itu begerak. Dia sudah tidak tahan.
Laki-laki itu tersenyum dingin, kemudian dia dengan sekuat tenaga mendorong pinggulnya, “Sekarang Dia membantuku untuk bekerja sama."
Seiring dengan gerakan Kami, bunyi decitan pun muncul sepanjang malam di ranjang tempat Kami beraksi.
Beberapa kali Kami melakukan itu dengan sangat menikmatinya. Aku memuaskan Dia dengan caraku sendiri hingga Dia tidak bisa menolak dan hanya mengikutinya saja setelah Dia selesai memainkan gayanya.
Suara ******* memenuhi sebuah kamar hotel yang bernuansa klasik, Seorang Duda dan Aku sedang memadu kasih begitu juga di kamar sebelah sepasang Bencong menikmati indahnya malam itu.
Lelaki tampan yang Seorang Duda serta Seorang Pengusaha itu begitu mendominasi sedangkan Aku di bawahnya yang bertubuh lebih mungil darinya hanya bisa menikmati nafsu birahi lelaki itu karena Aku mempersilahkan Dia untuk bermain dulu.
“Auchhhhh!” Bibirku terus mendesah, menikmati setiap gerakan yang di lakukan oleh Dia yang sangat lincah bermain.
Sedeangkan Aku makin mempercepat ritme gerakannya, bahkan Dia sudah mulai merasakan sesuatu menyentuh kenikmatannya. Membuat tangannya refleks bergerak, sedikit meremas kuat Tubuhku.
" Jangan meremasnya dengan kuat, Sakit Sayang .... " Desisku saat tangannya itu menyentuh Dua gunungku dengan sedikit keras. Dia langsung menghentikan aktivitas panasnya sebentar, Wajah tampannya ia dekatkan ke telingaku.
“ Permainanmu mantap sekali .... Aku terlena sekali... ” Desisnya. Tangannya meraih dan menggenggam tanganku dan mulai melakukan pergerakan manja.
" I’m sorry, Baby ....Sudah membuat Kamu kewalahan, Tapi Kamu akan menikmati dan akan sangat puas ... ” bisikku.
Cengkraman tanganku semakin mengerat saat ia akan mendapatkan pelepasannya, gerakannya semakin Aku percepat, membuat Dia sedikit meringis karena gerakanku yang benar benar sangat tidak beraturan.
" Sayang ..... ” Gumam Dia sembari merem melek ketika mendapatkan pelepasannya.
Sedangkan Aku hanya bisa memejamkan mataku.
Yah Aku tidak munafik, **** benar benar sangat nikmat, apalagi melakukannya dengan seseorang yang bisa bermain dengan mantap.
Aku tidak pernah mempermasalahkan siapa siapa, Aku bahkan sangat bersyukur Dia melakukannya dengan penuh gairah dan bukan hanya ingin dipuaskan olehku tapi harus sama sama harus puas.
Aku sudah melakukan pengaman untuk diriku sendiri agar tidak akan kecolongan karena Aku hanya mau menikmatinya saja.
Aku tersenyum. Lalu memegang dadanya, dadanya benar benar berdetak tak karuan. Rasanya ribuan kupu kupu berterbangan di bagian dadanya. Dia langsung memelukku erat.
" Boleh tidak Aku mengenalmu lebih dekat dan berteman sama Kamu ??? " katanya saat Kami berbaring sambil menatap langit langit kamar itu.
" Ini Kita sudah dekat. " jawabku sambil senyum.
" Maksudku untuk kedepannya Sayang .... Atau mau tidak jadi Istri Aku ??? Atau Simpanan juga tidak apa apa. Terserah Kamu mau minta berapa yang penting Aku bisa bersama Kamu. " katanya sambil mengelus rambutku.
Aku tersenyum mendengar perkataanya. Ternyata benar yang semua Orang bilang termasuk Aku bahwa Uang bisa mengatur dan membeli segalanya.
" Kenapa Kamu diam saja Hmm ??? " tatapnya samaku.
" Maaf iya Sayang .... Bukannya menolak tapi memang Aku tidak mau menjalin hubungan dengan siapapun. Kalau Kamu lagi ingin itu, Kamu bisa telepon atau chat Mami nanti Kita bisa ketemu seperti ini. " jawabku sambil mengelus dadanya.
" Tapi Aku ingin Kamu selalu disisiku. Gimana ???? "
" Maaf iya Sayang .... Aku belum bisa. "
" Kenapa ??? apa Kamu punya pacar ???? atau hubungan lain ???? "
" No. Aku tidak punya."
" Trus ???? Terserah Kamu Sayang mau minta apa. Mau rumah ???? mobil ??? atau apa tinggal ngomong saja. "
" Aku tidak menginginkan itu semua Sayang. Aku hanya ingin hidup bebas tanpa beban apapun. "
" Kalau Kamu mau bebas, silahkan .... Aku tidak melarangnya kok ... "
" Tapi Saya gak bisa. " jawabku sambil mengecup bibirnya sembari setengah badanku diatasnya untuk memancingnya kembali agar tidak menanyakan hal itu lagi.
Aku menciumi wajahnya yang tampan sampai keleher hingga Dia resah sambil menikmatinya.
" Wah .... Kamu benar benar pemain .... "