Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 56


Hari itu Aku benar benar menemani Mami satu harian.


Malamnya baru Aku pulang setelah Dia merasa agak baikan dan bisa berjalan pelan menggunakan tongkat.


Aku menyuruhnya untuk tidak banyak bergerak dulu agar lukanya cepat kering apalagi itu luka di kaki.


Aku membelikan beberapa stok makanan dari online untuk stok Mami agar Dia tidak terlalu capek turun ke bawah untuk beli beberapa makanan dan minuman.


Aku merasa kasihan melihat Dia yang tidak punya Keluarga. Sama sih kayak Aku tapi minimal masih ada Orang rumah yang Aku dapati setiap Aku pulang.


Setiap hari selama Mami sakit, Aku selalu mengirim makanan untuknya hingga Dia setiap hari mengucapkan terima kasih kepadaku.


Hari kelima Priaku masih disini. Setelah Aku tidak merespon chat dan teleponnya, Hari ini Aku mendatangi hotelnya setelah pulang kerja.


Aku langsung naik ke atas dan menekan bel kamarnya. hampir lima kali Aku tekan bel baru Dia buka dan ternyata Aku melihat wajahnya yang sangat pucat dan lemas. Aku sontak kaget melihatnya dengan tatapan sayu diwajahnya dan berusaha untuk senyum.


Aku langsung buru buru memegang tangannya dan memapah ke sofa.


" Ada apa ??? " tanyaku panik sambil memegang keningnya yang sangat panas.


Dia hanya senyum melihatku dan memegang tanganku.


" Ke dokter yuk .... " kataku sambil berdiri menarik tangannya.


" Gak usah. Aku udah minum obat, nanti juga akan turun panasnya. " jawabnya dengan masih melontarkan senyumnya.


" Jangan senyum senyum!! Kenapa diam disini ajah ??? ayo ke dokter. " katalu makin panik dan marah karena masih senyum.


" Aku udah minum obat.'' sambil mengarahkan matanya ke meja yang ada beberapa obat.


" Aisshh!!! "


" Aku hanya alergi debu. " katanya menatapku.


" Hah ??? Alergi debu apaan ???? " bentakku yang melihat wajahnya sedikit merah dan panas.


" Hehehe .... Aku sangat senang Kamu khawatir. Ini bentar lagi udah hilang kok, Aku lupa karin bawa obatnya dari sana makanya sampai agak parah begini. "


Aku langsung melihat obat yang ada dimeja dan membacanya dan ternyata benar, Dia alergi debu dan kotor. Pantas saja Dia sangat bersih.


Aku melirik ke arahnya dengan masih kesal dan marah. Kenapa Dia tidak memberi tahuku ????


" Tolong 3 menit ajah. Tetap seperti ini. " bisiknya hingga Aku bisa merasakan sedikit panasnya.


Aku langsung berbalik badan dan melihat wajahnya yang memerah dan segera menariknya ke atas ranjang.


" Tiduran dulu. " cetusku sambil mendorongnya.


" Arrrgghhh..... Pasti Kamu makin tidak menyukaiku karena sudah mengetahui bahwa Aku penyakit alergi begini. " katanya sambil berbaring.


" Udah diam deh. Masih ajah bawel. " cetusku antara kesal dan khawatir.


Dia lansgung menarikku dan mencium bibirku dengan lembut. Dia langsung melingkarkan tangannya di leherku.


" Apa Kamu hanya punya gairah nafsu saja untukku ???? Apa tidak ada cinta yang tulus sedikitpun untukku ???? Bagaimana dan apa yang harus Aku lakukan agar bisa menaklukkan hatimu, agar Kamu bisa melihat tulusnya hatiku ???? " katanya sambil menempelkan keningnya di keningku.


Aku terdiam dan tidak bisa menjawab. Aku hanya merasakan rasa panas yang dari wajahnya Dia. Aku meliriknya yang mengusap matanya dengan tangannya.


" Arrrgggghh .... Aku kedapatan lagi untuk kedua kalinya menangis untukmu. " katanya senyum sembari mengusap matanya.


Aku menatapnya dan memegang tangannya.


" Jangan terlalu berharap. Aku tidak mau menjalin hubungan. Yang Aku punya untukmu hanya gairah kepuasan saja. Tidak lebih dari itu. Jadi tolong jangan membuatku merasa bersalah. " jawabku menatapnya.


" Hanya itukah ??? " katanya dengan sedikit gugup ditambah airmatanya mengalir.


Aku pun mengangguk sambil mengusap airmatanya.


Dia langsung melingkarkan tangannya di leherku dan dengan cepat Dia mendaratkan ciuman dan kecupan di bibirku. Dia mengemutnya dengan cepat dan sesekali Dia mencium leherku dengan sangat cepat.


Dia makin liar, salah satu tangannya memegang leherku dan satunya lagi membuka pakaianku.


Dia melakukannya dengan sedikit amarah yang terlihat jelas di wajahnya.


Aku membiarkannya melakukannya agar Dia merasa puas.


Dia mendorongku di atas ranjang untuk posisi tidur dan dengan sigap Dia berada di atasku.


Dia mulai meraba semua dengan tangannta yang semakin liar membuatku semakin merasa terangsang dan menjerit.


" Hah .... Arrhh ... Huhh ... " desahku sambil menjambak rambutnya.