
Hhhmmm ...... " gumamku dalam hati.
Apa karena Orang Orang disini sudah tahu sehingga Dia mengalihkan itu dengan kinerja Dia ???? Aku bertanya tanya dalam hati hingga Agus melambaikan tangannya di wajahku hingga Aku sedikit kaget.
" Eh ... Sori sori. " jawabku menggelengkan kepalaku sembari memejamkan mataku.
" Kamu sehat ??? " tanyanya mendekat menatapku.
" Yes. " jawabku sedikit memggerakkan tubuhku.
Aku langsung membuka Ipad yang Aku bawa dan menunjukkan ke Dia hasil desain yang Aku mau untuk diproduksi.
" Bisa ditampilin di layar monitor gak ?? Biar enak lihatnya secara detail. " kataku melihatnya yang menarik kursinya agar lebih dekat denganku.
" Ehhemm .... Hhmm, Tunggu adina datang iya soalnya Aku kurang tahu. " jawabnya terbata bata.
Aku melihat ada kabel dimeja dan langsung Aku coba untuk menyambungkannya ke layar monitor itu sehingga membuat Dia tersenyum tipis melihatku.
" Nah bisa. " kataku melihatnya yang menatapku dengan bertopang dagu.
" Hhmm ... " angguknya.
Aku langsung menjelaskan lebih detail dan rinci untuk setiap desain produk yang Aku mau. Aku mau benar benar rapih sesuai yang sudah Aku buat dan mau.
Setelah semua oke dan deal, Akhirnya Dia memberi tahu Sekretarisnya untuk segera tahap sample setelah mengirim desainnya ke Dia.
Tidak lama setelah meeting itu selesai, Akhirnya Aku langsung mengajak Pak Agus ke bagian Produksi untuk melihat sample yang sempat tertunda itu. Aku juga sudah DP untuk produksi barang itu. Jadi setelah Barang sampai di Butik, Baru Aku langsung Payment untuk pelunasannya.
Untuk sample yang akan segera diproduksi juga Aku langsung DP setelah tagihan dikirim ke Butik nanti.
Karena Aku masih mempercayakan untuk bagian Produksi hanya dan masih ke Kantornya Pak Agus yang ter the best.
Ada sih beberapa vendor yang juga bekerja sama denganku. Tapi belum sebaik dan seterpercaya kantornya Pak Agus.
Karena menurutku kalau dikantor Pak Agus ini benar benar tahu sedetail yang Aku mau. Dan Aku benar benar puas setiap order barang sama Mereka.
Tidak pernah ragu karena setelah produksi sample, Mereka menunggu kliennya dulu untuk melihat dan mengecek sample itu sudah sesuai atau tidak.
Hampir dua jam di bagian produksi, Akhirnya kelar juga dan pesananku siap diproduksi sebanyak 500 pcs dan desain kedua akan segera proses sample.
Keluar dari bagian produksi, Aku langsung pamit pulang sama Pak Agus. Dia langsung mengantarku kelobby.
" Aku benar benar salut dan terpesona sama Kamu Ran ... " katanya di dalam lift sembari bersandar di dalam lift itu menatapku yang bersidiri tegak.
" Why ??? " lirikku senyum.
" Kamu masih muda tapi sudah pintar bangat bisnis. Aku sangat mengapresiasi itu. "
" Aku cek data data klien kantor dong ..... And You termuda diantara Mereka. " katanya menatapku dari kaca lift itu.
" Gak ada kerjaan kali iya Bapak makanya sempat ngecek data data Klien .... " ejekku sedikit senyum.
" Iya begitulah. Semenjak Kamu mengabaikanku, Aku patah hati sekali. Jadi pas Aku mikirin Kamu, Aku tiba tiba ajah kepikiran ngecek data Kamu karena Aku penasaran kenapa Kamu selalu menolak saat Aku ajak makan atau hang out. Apalagi pas Aku ungkapin perasaanku, Kamu langsung menolaknya tanpa berpikir. Apalagi Papa sangat menyukai Kamu dan sangat senang pas tahu kalau Aku mendekati Kamu. Makanya pernah terpikir olehku kenapa ini Cewek songong sekali. Hahaha .... " jelasnya sambil geleng geleng.
" Hahaha ... " Aku hanya tertawa.
" As You know, Papa selalu memperingatkan Aku untuk tidak memaksa Kamu jika Kamu menolakku. Aku bahkan baru pertama kali ini ditolak sama Wanita. Aku menertawakan diriku sendiri. Why dan Why ..... Pertanyaan itu yang selalu membayangiku. Tapi pelan pelan, Aku harus melupakan itu sehingga Aku bisa melangkah jauh kedepan dan tidak membuat Kamu untuk menjaga jarak apalagi untuk memutus hubungan kerja. " jelasnya dengan sedikit sedih dan tegar.
Aku melihat Dia sebenarnya sosok yang baik. Hanya saja Dia masih kurang dewasa untuk menyikapi dan mengambil keputusan.
" Papa Kamu sudah menganggap Aku sebagai Anaknya begitu juga Aku. " kataku senyum.
Aku merasa Dia lagi memikirkan sesuatu. Seperti ada yang dipendam dan tidak tahu bercerita sama siapa.
" Are You Oke ??? " lirikku.
" Yeah .... Hanya saja Aku sedikit kecapean. "
" Jika Kamu merasa capek, Istirahatlah. Karena Kita juga butuh ketenangan jiwa dan pikiran. Jangan menjadikan pekerjaan sebagai alasan agar bisa terhindar atau melupakan yang ada dipikiran Kamu. No, Itu salah besar. "
Dia menatapku dengan mata berkaca kaca.
Aku berjalan keluar karena sudah sampai di lobby.
" Kamu lebih dewasa dibanding Aku. " jawabnya mengikuti dan berjalan bersamaku.
" Dewasa kan bukan ditentukan dari umur toh ????? ...... "
" Kayaknya Kamu bisa teman bertukar pikiran deh Ran ... Maksudku, Aku ingin menerima saran dari Kamu. " jawabnya spontan karena Aku langsung menatapnya.
" Boleh boleh .... Eh gimana kabar Papa Kamu ??? Aku udah lama gak ketemu sama Dia. Oh iya sampaikan terima kasohku sama Papa Kamu iya untuk kiriman parcelnya. "
" Seriusan Ran .... Boleh dong Kita sharing sembari nongkrong ???? Baik, Nanti Aku sampaikan sama Papa. " katanya sumringah.
" Boleh .... Atur ajah waktumu. " jawabku senyum.
" Okedeh.... Aku tunggu iya, Kamu hati hati iya .... See you soon ..... " kata Pak Agus saat Aku naik ke taksi.
" Bye... "
Aku melihat dari raut wajahnya ada sesuatu yang Dia pendam. Mungkin Dia tidak tahu harus cerita sama siapa.
Atau mungkihkah gosipan OB tadi ?????????