Pemuas Nafsu

Pemuas Nafsu
Episode 154


RR selalu menjaga sikap saat Bibi disana. Dia tidak pernah memanggilku dengan panggilan Sayang. Mungkin Dia menghargaiku juga begitu dengan Bibi.


" Mi, Tolong antar Bibi pulang. Kasihan kalau sampai tidur disini. " kataku sama Mami.


" Nanti setelah Kamu makan dulu Non .... Bibi suapin iya ... ? " kata Bibi sambil mengeluarkan rantang yang dibawanya.


Aroma masakan Bibi mengisi kamar itu dengan sangat wangi.


" Wah .... Bi, Wangi sekali ..... Jadi lapar Aku tuh ... " centil Mami merengek.


" Itu banyak Nak. Bibi bawa banyak kok sekalian untuk Kalian. Hayo ambil, Tolong .... " jawab Bibi membuatku tersenyum melihat Mami.


Mami langsung mengangkat sisa rantang itu ke meja agar Mereka bisa makan disana. Sementara Aku sudah disuapin Bibi.


" Bibi udah makan belum ??? " tanyaku pelan.


" Udah udah tadi. "


" Hhhhmmmm .... Aromanya enak bangat dan wangi ini Bi. " puji RR.


" Iya. Silahkan dimakan iya .... " jawab Bibi.


" Masakan Bibi mah tidak ada yang gagal. Semua makyos tu the yoss yosss .... " sambung Mami.


" Makan iya Bi. Makan Ran .... " kata RR.


Aku mengangguk begitu juga Bibi ikutan senyum melihatku yang senyum menatap RR.


" Enak gak Non ??? " tanya Bibi.


Aku mengangguk sambil melihat Bibi. Biasanya setiap masakan Bibi pasti Aku puji karena enak.


Hari itu Aku tidak mengatakan apa apa karena memang Aku tidak mood makan dan tidak bisa merasakan itu enak apa gak.


Bibi senyum mengelus rambutku.


" Jangan sakit sakit ya ???.... Bibi khawatir sekali...! Baru kali ini Kamu sakit dan masuk RS. "


" Maaf iya Bi udah ngerepotin Bibi. "


" Iya iya .... Kamu sama sekali gak pernah ngerepotin Bibi. Bibi sangat bersyukur bisa bersama Non sampai hari ini. Bibi bahagia sekali melihat Kamu bahagia. Jangan dipikiran yang sudah sudah iya .... "


" Hhhmmm ... " Anggukku sambil meneguk air putih.


RR dan Mami hanya mendengar obrolan Kmai dan menikmati makanan yang dibawa Bibi. RR menatap Mami dan Mami mengangguk memberi isyarat agar RR diam saja.


" Mami tadi kesini naik apa Mi ??? " tanyaku sambil melihat Mami yang lagi serius menikmati gigitan daging yang ada di mulutnya.


" Naik motor Cin .... Kenapa ??? " jawabnya tersendak sendak sambil nguyah menutupi mulutnya.


" Nanti tolong antarin Bibi pulang iya, Mi. Tapi naik Taksi ajah. Sekalian Mami bawain Ipad yang ada dikamarku. Bisa gak Mi ??? " tanyaku.


" Astaga ..... Bisa dong Cinta .... Apa sih yang gak buat Kamu ???? Tapi jangan kerja dulu Cin, Kamu harus pulih dulu. Jangan pikirin pekerjaan. " cetus Mami kesal.


" Gak. Ada yang mau Aku cek ajah. "


" Emang gak bisa dari HP ??? Mesti sekali dari Ipad ???? " tatap Mami dengan sinis.


" Iya. " jawabku sambil balik menatapnya.


" Oke oke ..... Gak usah ngeliat Aku kayak gitu, Serem amat. Aku merinding ih ... " jawab Mami sambil mengelus elus tangannya.


" Gak lah .... Tadi ajah pas Kamu kesini banyak yang melihat Kamu dengan mata yang masih bengkak bangat. Dan Mereka mengira Kamu Artis loh .... Aku ajah sebagai siCentil kayak gini merasa senang mendengar ada yang bilang bahwa Aku Manager Kamu .... Hahahah .... " kata Mami dengan gayanya.


" Artis apaan .... Mata Mereka pada burem kali iya ???! " kataku merasa aneh karena bukan kali ini saja ada yang bilang Aku Artis.


" Hahaha .... Sudah biarin saja. Siapa tau jadi Artis benaran kan ???? "


" Ogah bangat. Iya udah gih, Antar Bibi. "


" Apa lagi yang mau dibawain ??? Itu doang ??? "


" Itu ajah Mi. Bajuku udah di bawa Bibi sama charger HP. Sabun juga udah sama yang lain. "


" Iya udah. Ayo Bi .... " ajak Mami serta membawa paper bag rantang itu dan termos yang sudah kosong.


" Iya udah Non, Bibi pulang dulu ya. Kamu sehat sehat iya ..... Jangan dipikirin yang tidak perlu. Iya ????? " kata Bibi mengelus kepalaku.


" Iya Bi. Hati hati iya. " kataku sambil memeluk Bibi yang berdiri di sampingku.


" Nak, Tolong jaga Non Ranti iya. " kata Bibi melihat RR.


" Baik Bi. Bibi hati hati iya .... "


" Iya iya. " kata Bibi sambil melangkah dan keluar dari kamar diikuti Mami dan pintunya di tutup kembali.


RR langsung duduk disampingku serta mengelus rambutku dan mencium keningku.


" Are You Oke Honey ??? "


" Hhmm ... " anggukku.


" Aku sangat kaget, Dengar Kamu masuk Rumah Sakit. Aku sangat khawatir.... " katanya mengelus tanganku.


" Maaf sudah membuat Kalian khawatir. " jawabku menatapnya.


Seorang Perawat mengetuk pintu dan masuk. Dia datang untuk cek infusku apakah sudah habis atau gak serta memberikan beberapa Obat buat diminum sehabis makan.


" Sus, Ada air panas gak disini ???? "


" Ada Kak. Mau mandi iya ???? "


" Iya. "


" Oh sekalian ajah Saya lepas dulu infusnya iya. Nanti habis mandi dipasang lagi. Nanti Kakak tinggal tekan bel nya ajah biar Saya nanti datang buat pasang infusnya lagi. " jawab Perawatnya sambil melepas jarum suntik yang ditanganku.


" Oh iya. Maksih iya. "


Setelah Perawat itu pergi, Aku turun dari ranjang itu dan masih sedikit pusing. RR dengan sigap memegang tanganku.


" Kamu bisa mandi ??? Mau Aku temanin ??? Badanmu masih panas Yang ... "


" Aku bisa kok sendiri. Sayang ... Tolong ambilin tas itu. " kataku manja sambil menunjuk tas yang ada di kursi dekat meja.


RR langsung mengambilkan tas itu dan memberikannya samaku.


Aku mengeluarkan baju tidur yang dibawain Bibi dengan pakaian dan perlengkapan mandi lainnya. Aku melihat tangan kiriku yang bekas suntikan infus yang masih lumayan bengkak dan sakit.


RR yang melihatku duduk di ranjang Pasien itu dan menatap tanganku langsung menggendongku.


" Hei .... Apaa apaaan ini ??? ... " kataku kaget serta memukul punggungnya.