
Sampai di kamar, Aku langsung cuci muka dan bersih bersih dulu serta ganti pakaian. Aku langsung naik ke kasur untuk istirahat dulu karena memang Aku benar benar capek.
RR juga ikutan langsung mandi setelah Aku selesai.
" Kamu mau langsung tidur Sayang ??? " tanyanya sambil mendekatiku yang lagi bercermin di depan meja rias dan memelukku dari belakang.
" Iya. Aku ngantuk. " jawabku melihatnya di cermin.
" Muuuach .... Aku mandi bentar ya ... " kata RR sambil mencium kepalaku lembut dan berjalan ke kamar mandi.
Aku meletakkan ponselku di meja kerja samping meja riasku. Dan Aku langsung merentangkan tubuhku dikasur empukku yang sudah beberapa hari Aku tinggal.
Emang benar yang dibilang Orang Orang lebih nyaman tidur di rumah sendiri mau senyaman apapun diluaran sana. Tidak sampai beberapa lama, Aku sudah tertidur pules.
Aku bahkan tidak tau kalau RR sudah selesai mandi dan bahkan sudah turun untuk makan, Baru naik lagi bersama Mami. Mami tiduran di sofa sambil nonton sementara RR lagi kerja dimeja kerjaku.
Aku benar benar tidur pules dan bangun bangun sudah sore menjelang mangrib. Itupun Aku dibangunin RR.
" Sayang .... Bangun udah mangrib. " bisiknya pelan sambil mengelus pipiku lembut.
Aku perlahan membuka mataku dan melihat RR yang memandangiku membuatku memejamkan mataku kembali dan bermanja manja memeluk lengannya dengan tangan kiriku karena tangan kananku masih belum bisa bebas dan jemari tanganku juga masih sesikit biru dan agak bengkak. Karena info dari Dokter memang agak lama bengkak serta birunya hilang karena itu bagian sensitif. Berbeda dengan lenganku yang dijahit sudah kering, Hanya saja tidak diperbolehkan untuk mengangkat barang atau apapun yang berat berat dulu.
" Aku masih ngantuk, Sayang .... " kataku pelan.
" Nanti lanjut lagi tidurnya, ya .... Soalnya ini, Udah mangrib Sayang, Dan Kamu juga belum makan siang loh .... Mandi dulu yuk, Biar segar. " ajak RR.
" Bangunin Mami dong, Aku mau minta tolong sama Mami untuk keramasin rambutku dulu. " kataku memeluk lengannya RR.
" Ngapain Mami ??? Kan ada Aku, Sayang !!! " jawabnya melotot melihatku.
" Ih, ngeliatnya jangan gitu .... " kataku pelan.
" Ya habisnya Kamu ngomongnya begitu, Masa ada Aku tapi harus minta tolong sama Mami sih ??? Kamu ada ada ajah deh !!! " cetus RR sedikit kesal.
" Aku gak mau ngebebanin Kamu terus, Sayang ..... Bukannya Aku gak menghargai Kamu !!! " kataku melihatnya.
" Kan Aku gak pernah bilang, Kalau Kamu beban buat Aku. Emang Aku pernah bilang gitu ???? Hah, Sayang ???!!! " tatapnya melihatku membuatku membuang pandanganku darinya dan memilih untuk memejamkan mataku.
" Kamu kan seperti ini karena Aku. Aku harus bertanggung jawab dong .... Tolong jangan pernah ngomong begitu lagi, ya ..... Kamu sangat berharga buat Aku, Sayang .... Jangan pernah berpikir seperti itu. " kata RR masih melihatku walau Aku sudah tidak melihatnya.
Mungkin RR kesal ditambah selama dari kejadian itu hingga pulang kerumah, Aku hanya diam saja saat Dia bicara atau mengatakan apapun itu. Aku mengabaikan Dia. Mungkin emosi dan rasa kesalnya juga memuncak. Wajar saja Dia kesal karena bagaimanapun rasa kesabaran Seseorang itu ada batasnya karena Memang Dia sudah minta maaf atas semua yang terjadi sama Aku. Dan Dia benar benar bertanggung jawab, Hanya saja, Aku masih tidak mau bicara.
" Iya. Aku dengar ..... " kataku pelan dan sedikit merasa sedih. Tidak tau kenapa, Akhir akhir ini Aku gampang sekali sedih. Tidak seperti biasanya. Apalagi kalau RR yang mengomeli atau suaranya sedikit keras, itu membuat hatiku langsung terenyuh.
" Trus kalau dengar kok gak jawab sih ???? " tanya RR sambil mengelus rambutku dan malah membuatku makin merasa sedih.
" Karena nada suara Kamu. Aku gak suka. Maksud Aku bukan seperti yang Kamu pikirkan, Sayang .... Kamunya langsung bicara seperti itu !!! Tolonglah, Aku gak mau berdebat hanya karena masalah sepele. Kalau Aku ada salah langsung to the point ajah, Sayang .... Jangan hal kecil begini jadi dibuat masalah ...." kataku melihatnya dengan mataku yang sudah berkaca kaca.
" Aku hanya nanya doang, Sayang .... " jawab RR sambil mengusap butiran air mataku yang hampir jatuh.
" Tapi Aku gak suka nada bicara Kamu itu. Aku capek !!! Aku udah berusaha jadi yang terbaik buat Kamu. Tolonglah ..... " kataku menahan airmataku.
" Maafin Aku, ya ... Mungkin nada suaraku yang membuat Kamu merasa tidak enak, Aku minta maaf. Tapi Aku benaran hanya nanya kok dan emang, ya. Aku sedikit kesal karena Aku ada disamping Kamu tapi malah Kamu mau minta tolong sama Mami. "
" Karena Aku gak enak hanya karena keramasin rambut, Aku nyuruh Kamu. "
" Tolong jangan merasa tidak enak. Aku akan melakukan apapun sama Kamu selagi Aku bisa. "
" Udah deh ah .... Gak usah dibahas lagi. " kataku sambil beranjak dari kasurku tapi tangan RR menahanku.
" Aku mau mandi. " kataku datar menolehnya.
" Aku bantuin ya, Sayang .... " katanya senyum.
" Terserah Kamu deh. Kalau Aku nolak pasti Kamu ngedumel panjang kali lebar. Aku pasrah, karena tubuhku milikmu. " jawabku melihatnya seperti Orang lemas dan tidak berdaya dan hanya bisa pasrah membuat Dia tersenyum dan berdiri lalu memelukku.
" I Love You .... " bisiknya ditelingaku.
" Aku sudah bosan mendengar itu. " kataku datar melihatnya setelah Dia menatapku dan memegang pundakku dengan kedua tangannya.
Dia langsung mengecup bibirku dan ********** lembut membuatku memejamkan mataku dan memegang pinggang RR.
" EHEEEMMMM ..... Aish ..... " Mami berdehem melihat Kami yang sedang bercumbu dari balin sofa.
RR tersipu malu melihat Mami yang menyaksikannya.