Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Akan jatuh miskin


Adinda membenahi pakaiannya dan memasukkannya secara asal ke dalam koper miliknya.


Wanita itu sudah bertekad untuk pergi meskipun ia tidak tahu akan pergi dan tinggal di mana nantinya.


Yang jelas Adinda merasa bahwa dia harus pergi dari rumah itu. Ia tidak mau lagi berada di rumah yang memberikan rasa sesak dan tidak pernah menghargai keberadaanya.


Jika ditanya apa dia menyesal? Jawabnya ya, Adinda sangat menyesali pilihannya untuk mengkhianati sang kakak demi laki-laki yang ternyata adalah seorang pengkhianat.


Risa dan Anto memperhatikan Adinda yang sedang membenahi pakaian dengan tangan terlipat di dada dan tatapan merendahkan.


"Ma." Tiba-tiba Aditya memanggil pelan.


Risa menoleh, ia mendekati putranya yang seperti ingin bicara padanya.


"Jangan biarkan Dinda pergi, siapa yang akan mengurusku jika dia pergi." Ucap Aditya dengan sangat pelan.


"Memang mama mau mengurusku." Tambah Aditya.


Risa menatap putranya. Tentu saja ia mau mengurus Aditya, namun jika seorang diri pasti sangat merepotkan.


Risa manggut-manggut, kini ia pun beralih mendekati menantunya itu dan memegang tangannya.


"Dinda, kamu yakin mau pergi?" Nada suaranya terdengar lembut sekali.


"Lepasin, Ma." Ucap Dinda lalu menepis tangan Risa.


Risa emosi, namun ia berusaha menahannya. Ia hanya diam saja dengan tangan terkepal.


"Aku sudah sangat yakin untuk pergi dan tidak ada yang bisa mencegahku." Jawab Adinda atas pertanyaan mertuanya.


"Tapi kasihan Aditya, Dinda. Dia tidak bisa tanpa kamu, istrinya." Ucap Risa lagi dengan lembut.


"Baru sekarang mama bilang gitu? Kak Aditya tidak bisa tanpa aku tapi dia selingkuh? Mama mau membodohi ku kan." Sahut Adinda dengan lantang.


Adinda menutup resleting kopernya, lalu dirinya bangkit. Adinda sudah siap untuk pergi, namun tiba-tiba saja papa Jefry datang.


Papa Jefry mengerutkan keningnya melihat Adinda yang memegangi koper seperti orang akan pergi.


"Kamu mau kemana, Dinda?" Tanya papa Jefry.


"Pergi, Opa. Aku sudah muak, muak bukan karena kak Aditya sakit tetapi karena ternyata dia telah mengkhianatiku." Jawab Adinda.


"Jika saja dia tidak selingkuh atau membunuh anakku, aku pasti bisa menerimanya walaupun dia sakit." Tambah Adinda sambil melirik suaminya.


Papa Jefry menghela nafas. "Aku tidak bisa ikut campur soal ini, ini adalah urusan kamu sama Aditya. Tapi akan lebih baik di pikirkan lagi, Nak." Tutur papa Jefry lembut.


"Sudahlah, Pa. Biarkan saja dia pergi, lagipula mau kemana dia, orang tua dan kakaknya pasti tidak akan mau menerimanya." Kata Anto menyahut.


Papa Jefry menetap menantunya, lalu anak dan cucunya. Ia menghela nafas, lalu memberikan sebuah dokumen berwarna merah.


"Karena kebetulan kita berkumpul disini, maka sekalian saja papa kasih kalian ini." Ucap papa Jefry.


"Apa ini, Pa?" Tanya Anto, kemudian menerima dokumen dari ayah mertuanya.


Risa mendekat dan ikut membaca isi dari dokumen itu. Matanya seketika melotot membaca tulisan yang tercetak rapi diatas kertas putih itu.


"Papa, apa-apaan ini!!" Risa melototkan matanya, dan menegur sang papa.


"Seperti yang kamu baca, jika rumah dan seluruh aset yang kita miliki akan di sita pihak bank untuk melunasi hutang-hutang yang anak kalian timbulkan." Jelas papa Jefry dengan tenang.


Adinda melototkan matanya, ia sampai menutupi mulutnya sendiri ketika mendengar jika suami dan mertuanya akan jadi orang miskin.


"Opa, maksudnya kita bangkrut?" Tanya Aditya pelan.


"Ya, dan itu karena kamu." Jawab papa Jefry dengan tenang.


Risa mendekati sang papa lalu memukuli tangan ayahnya. Risa melampiaskan rasa kesal dan tidak rela nya pada papa Jefry.


"Aku nggak mau, Pa. Aku nggak mau miskin hiks … papa harus kembalikan kekayaan kita lagi!!" Ucap Risa sambil menangis.


"Papa, bagaimana semuanya bisa jadi begini? Kita akan jatuh miskin?" Tanya Anto seraya melempar dokumen itu asal.


Papa Jefry tetap berdiri tenang meski dirinya terus dipukuli oleh putrinya sendiri.


"Jangan tanya pada papa, tapi tanyakan pada anak kesayangan kalian. Ini semua adalah salahnya." Ucap papa Jefry.


"Nggak!! Papa nggak bisa salahin Aditya, selama ini papa yang urus perusahaan." Risa menyahut dengan nada lantang dan terkesan melawan.


"RISA!!!" bentak papa Jefry.


"Berani-beraninya kamu bicara begitu padaku, kau lupa jika aku adalah ayahmu hah!" Tegur papa Jefry dengan nada marah.


Risa mengerang tidak peduli, ia malah mendorong tubuh papa Jefry sampai terhempas ke belakang dan membentur pintu.


"OPA!!!" Adinda memekik terkejut kemudian lekas menolong kakek suaminya itu.


Adinda membantu papa Jefry untuk bangkit, namun sangat sulit. Entah mengapa papa Jefry susah untuk menggerakkan kakinya.


"Kita ke rumah sakit ya, Opa." Sahut Adinda dengan cemas.


"Ma, Pa. Ayo kita bawa opa ke rumah sakit, dia sakit." Ajak Adinda.


"Rumah sakit? Siapa yang mau bayar, kita ini sudah miskin." Sahut Risa tidak peduli.


"Mama keterlaluan. Ini itu papanya mama, tapi mama tega?" Tanya Adinda sambil geleng-geleng kepala.


"Jangan berani-beraninya kamu menasehatiku, Dinda. Jika kamu ingin menolongnya, maka tolong saja sendiri. Masalah hidupku sudah banyak!!" Sahut Risa dengan bentakan.


"Papa, tolong bantu opa." Pinta Adinda pada ayah mertuanya.


"Tidak, terima dengan. Kamu tolong saja sendiri." Balas Anto menolak.


Papa Jefry masih mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya. Ia kemudian menatap anak dan menantunya.


"K-kalian benar-benar tidak tahu terima kasih." Ucap papa Jefry.


"Hidup kalian akan semakin sulit, dan itu pasti." Tambah papa Jefry.


"Papa menyumpahi anak sendiri? Papa benar-benar keterlaluan!!" Ujar Risa dengan mata yang melotot.


Sementara Aditya hanya diam saja, ia tidak berdaya untuk sekedar berbicara keras. Rasa sakit di tenggorokannya membuat dia kesulitan bicara.


Dan lagi, jika dia sehat pun belum tentu ia akan menolong kakeknya itu. Kakek yang selalu membandingkan dirinya dengan anak tirinya.


Akhirnya Adinda pun membantu papa Jefry sendiri. Wanita itu memapah keluar papa Jefry lalu berteriak memanggil pelayan agar membantunya.


Risa dan Anto mengekor sampai ke lantai bawah.


"Jika ada yang membantu mereka, maka aku akan memecat kalian." Ucap Risa dengan lantang.


Langkah Adinda terhenti, begitupula papa Jefry dan kedua asisten rumah tangga yang membantu.


"Nyonya, tapi tuan besar kesakitan." Ucap salah satu asisten yang membantu.


"Biarkan saja, itu adalah karma karena selama ini dia lebih menyayangi anak tirinya. Dia lebih menyayangi Kaivan daripada aku, anak kandungnya." Sahut Risa dengan mata berkaca-kaca karena marah.


Papa Jefry menatapnya dengan tidak menyangka. Apa yang Risa katakan barusan seketika menghancurkan pengorbanannya untuk membebaskan dirinya dan Aditya.


Dia sampai harus bercerai dengan istrinya sendiri demi bisa membebaskan mereka, tapi apa yang Risa katakan barusan benar-benar merobek perasaan papa Jefry.


"Ayo kita keluar, Opa." Ajak Adinda tanpa mau berbicara lebih banyak dengan ibu mertuanya.


Bukan hanya dilarang dibantu oleh para asisten rumah tangga, tetapi Adinda juga dilarang untuk menggunakan mobil agar bisa membawa papa Jefry ke rumah sakit.


"Terkutuk lah kamu, Risa." Ucap papa Jefry di tengah rasa sakitnya.


"Sudah, Opa. Kita naik taksi saja, opa masih bisa jalan kan?" Tanya Adinda dengan mata berkaca-kaca.


Adinda teringat pada sang papa yang sudah ia lawan waktu itu. Ia menyesal telah menjadi anak durhaka, dan sekarang walaupun bukan ayah kandungnya Adinda akan berusaha untuk membawa papa Jefry ke rumah sakit.


Adinda tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.


Ketika mereka sudah hampir sampai ke jalan raya, papa Jefry tiba-tiba jatuh terduduk di tanah.


"Opa!!" Pekik Adinda lalu ikut duduk.


"Aku tidak kuat, Dinda. Sakit sekali …" kata papa Jefry.


Papa Jefry menggenggam tangan Adinda. "Tolong, Nak. Jika kamu bertemu Archie, Kaivan dan juga Fia. Sampaikan permintaan maaf ku pada mereka." Pinta papa Jefry.


"Nggak, Opa. Opa akan bicara pada mereka sendiri, opa pasti akan baik-baik saja." Kata Adinda dengan yakin.


"Tidak, aku sudah tidak kuat lagi. Pergilah, Nak. Tinggalkan saja aku di sini." Ucap papa Jefry.


Jalanan komplek saat itu sangat sepi, tidak ada kendaraan yang lewat di sana. Bodohnya lagi, Adinda lupa membawa tas selempang berisi ponselnya.


"Opa tunggu disini, aku akan mencari bantuan." Ucap Adinda lalu berlari ke arah jalan raya.


Ketika melewati pos satpam, tidak ada siapapun juga disana karena memang ia memilih jalan belakang dan bukan jalan utama dari perumahan itu.


Adinda melambaikan tangannya tanda bahwa ia meminta pertolongan, namun tidak ada yang bisa membantunya.


Adinda pun nekat berdiri di jalanan dengan kedua tangan terbuka lebar. Dinda tidak peduli jika ia akan di tabrak.


Sampai akhirnya ada sebuah mobil yang berhenti, dan si pemilik mobil langsung memanggil nama Dinda.


"Dinda!!" Panggil orang itu seraya menghampiri Dinda.


PAPA JEFRY KASIAN AMAT YAKK😭😭


Bersambung.................................