
Archie berusaha memasang wajah tidak sedih ketika suaminya harus pergi keluar kota selama 1 Minggu. Ada pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan di sana.
Karena Karin sedang sakit, dan Archie sudah hamil besar, Kaivan pun akhirnya memutuskan untuk pergi sendirian.
Archie memasang wajah tidak sedih bukan karena ia tidak sedih ditinggal Kaivan, ia hanya tidak mau membuat suaminya berat untuk pergi.
"Sini peluk dulu, aku pasti nanti kangen sama mami." Pinta Kaivan sambil membuka kedua tangannya.
Archie tersenyum, ia pun lekas masuk ke dalam pelukan suaminya dan membalas dekapannya tanpa membuat perutnya tertekan.
"Jangan lama-lama ya, pulang kalau pekerjaannya sudah selesai." Pinta Archie dengan manja.
"Iya, Sayang. Aku juga mau nya cepat-cepat biar bisa sering tengok baby melon." Sahut Kaivan sembari mengusap punggung istrinya.
Archie berdecak, sementara Kaivan malah tertawa sambil menciumi kening istrinya dengan gemas.
"Duhh, berasa pengantin baru terus ya, Bi." Sindir mama Fia sambil menahan tawa.
Mendengar itu, lantas Archie dan Kaivan menoleh ke asal suara tanpa mau melepaskan pelukan mereka.
"Kan seminggu, Ma. Seminggu itu lama lhoo …" ujar Kaivan mengingatkan.
Mama Fia mendengus. "Kamu lupa? Dulu kamu tuh biasa pergi berbulan-bulan sampai nggak pulang. Sekarang saja seminggu kata kamu lama." Timpal mama Fia.
"Beda situasi, Ma. Sekarang ada istri, ada calon anak yang nunggu." Kata Kaivan lalu menatap istrinya lagi.
"Kalau mau apa-apa tetap bilang sama aku ya, nanti aku pesanin. Aku mau, walaupun kita jauh aku bisa tetap penuhi keinginan kamu." Pinta Kaivan sembari merapikan rambut istrinya.
Archie tersenyum begitu manis. Senyuman yang selalu membuat Kaivan jatuh cinta setiap hari pada istrinya itu.
"Iya, mas Kaivan sayang. Aku kalau mau apa-apa pasti bilang ke kamu, kan kamu suami aku yang ganteng." Sahut Archie disertai pujian untuk membuat suaminya bahagia.
Kaivan menangkup wajah cantik istrinya, ia hendak menciumi istrinya itu namun sebuah deheman dari mama Fia menghentikannya.
"Nggak apa-apa, Nyonya besar. Saya suka kalau lihat tuan dan nyonya muda mesra-mesraan." Celetuk bi Sari membuat mereka semua tertawa.
Kaivan mengecup bibir istrinya singkat. Di kamar tadi sudah puas, bukan hanya puas mencium tapi puas di atas ranjang juga.
Archie kan istri pengertian, dia tahu suaminya butuh sebelum pergi selama satu Minggu tanpa dirinya.
Archie dan mama Fia mengantar Kaivan sampai kedepan rumah. Dia sudah ditunggu oleh sopir pribadi mama Fia yang akan mengantar sampai ke bandara.
"Hati-hati, Mas. Jangan sampai telat makan." Ucap Archie mengingatkan.
"Iya, Sayang." Balas Kaivan.
Kaivan mencium punggung tangan ibunya, lalu memeluknya.
"Titip Archie ya, Ma. Jangan dimarahi kalo salah, nanti dia nangis." Ucap Kaivan sembari meledek.
Mama Fia tertawa. "Mama nggak mungkin marahin Archie, dia kan kesayangan mama." Balas mama Fia sembari merangkul bahu menantunya.
"Baiklah, aku berangkat ya. Jaga diri kalian baik-baik." Tutur Kaivan.
Kaivan pun masuk ke dalam mobil dan tidak lupa melambaikan tangannya sebelum pergi.
Awalnya mereka ingin mengantar sampai ke bandara, namun Kaivan tidak mengizinkan karena sejak kemarin Archie mengeluh perutnya kram terus.
"Masuk yuk, Sayang. Kamu belum minum susu kan, mama sudah minta bibi buatin." Ajak mama Fia.
"Iya, Ma." Archie pun masuk ke dalam rumah bersama dengan ibu mertuanya.
Sementara itu di tempat lain. Di kost Karin, gadis itu tampak duduk di teras dengan kaki yang diluruskan.
Kakinya sudah tidak terlalu sakit semenjak di pijat oleh Davi kemarin malam. Astaga iya, malam itu ketika Davi berteduh di rumahnya.
"Untung nggak ada setan ya, dan si dokter buru-buru pulang. Kalau nggak, bisa berabe urusannya." Gumam Karin ketika membayangkan yang tidak-tidak.
Karin lalu mengambil ponselnya. Ia melihat pesan email dari atasannya, Kaivan.
Kaivan meminta salinan file yang sebelumnya sudah Karin kirim, sehingga ia tidak perlu repot mencari karena tinggal di forward ulang.
"Kasihan sih sama pak Kaivan, tapi mau gimana lagi." Gumam Karin.
Karin sebenarnya bisa saja ikut dengan Kaivan keluar kota, namun Archie melarang dan memintanya untuk tetap istirahat sampai benar-benar pulih.
"Mbak Archie memang baik banget." Ucap Karin lagi.
Sedang enak-enaknya duduk, tiba-tiba saja ada yang datang ke kost nya dengan mengendarai mobil.
Banyak anak kost lain yang menatap ke arah mobil terutama Karin karena mobil itu berhenti tepat di depan gadis itu.
Tidak lama kemudian, seorang pria keluar dan langsung menghampiri Karin.
"Lahh, pak Davi. Anda ngapain?" Tanya Karin kebingungan.
"Seharusnya kamu tahu kenapa saya kesini." Jawab Aldavi sembari ikut duduk di teras kost Karin.
"Mau ngapelin saya." Ucap Karin dengan entengnya.
"Bukan." Sahut Aldavi ketus.
"Saya kesini atas permintaan mama saya seperti biasanya, dan saya mau kamu cepat siap-siap." Pinta Aldavi.
Karin mengerutkan keningnya. "Kenapa? Saya belum siap nikah, Pak." Ucap Karin.
"Ck, bukan itu. Cepat siap-siap karena saya akan antar kamu pulang ke rumah orang tua kamu." Kata Aldavi.
"Belum apa-apa anda sudah mau memulangkan saya ke rumah orang tua saya, Dok?" Tanya Karin heboh.
"Karin." Tegur Aldavi melototkan matanya.
"Kemarin kamu cerita ke mama saya kalau kamu mau pulang ke rumah orang tua kamu setelah sembuh kan, dan hari ini saya datang untuk mengantar kamu." Jelas Aldavi dengan gregetan.
"Hah?! Oh gitu, bentar Dok saya siap-siap dulu." Pinta Karin lalu buru-buru masuk ke dalam kostnya.
Aldavi membuang nafasnya kasar. Entah bagaimana bisa sang mama menyukai gadis seperti Karin, meski Aldavi akui dia cantik tapi sayangnya cukup lamban.
Bersambung.................................