Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Kedatangan papa Dito


Karin menatap bip tagihan di tangannya dengan nanar. Ia menghela nafas berkali-kali, kemudian mengeluarkan kartu debit miliknya.


Meski rasanya berat, tapi ini adalah hukuman. Karin membayar bil makan siang dirinya bersama dengan atasannya.


"Pakai ini ya, Mbak." Ucap Karin sembari memberikan kartu debit bank swasta itu.


Kasir restoran itu menganggukkan kepalanya, ia hendak meraih kartu debit itu namun tiba-tiba saja ia di cegah.


Tangan Karin yang masih menggantung sambil memegangi debit itu tiba-tiba saja di tepis, dan tentu saja itu membuat Karin terkejut.


"Saya saja yang bayar." Ucap Aldavi dengan ketus.


Aldavi memberikan kartu dengan merek bank yang sama, bedanya tipe kartu Aldavi sudah masuk prioritas.


"Jangan, Pak. Ini kan hukuman saya, biar saya saja yang bayar semuanya." Kata Karin.


Aldavi hanya melirik gadis itu, ia tidak menyahut sama sekali. Sampai akhirnya tagihan pun selesai di bayar.


Aldavi hendak melangkah untuk kembali ke meja makan, namun Karin memanggilnya dan membuat langkahnya berhenti.


"Pak Aldavi, terima kasih ya." Ucap Karin dengan tulus.


"Dan maaf sudah merepotkan." Tambah gadis itu pelan.


Aldavi tidak berkata apapun dan langsung pergi meninggalkan Karin yang masih berdiri di tempatnya sambil terus menatapnya.


Melihat kepergian Aldavi, Karin pun pergi namun ia tidak langsung kembali ke meja melainkan ke toilet dulu.


Sementara itu di meja tempat Archie dan yang lainnya duduk tadi, Aldavi kembali kemudian duduk di tempatnya.


"Karin nya mana, Pak?" Tanya Archie mengerutkan keningnya.


"Gue nggak tahu, Archie. Mungkin saja dia ke toilet." Jawab Aldavi tanpa menatap istri temannya itu.


Kaivan memegang tangan istrinya, ia lalu mengusapnya dengan penuh kelembutan.


"Nanti juga balik, kamu takut banget dia kenapa-napa ya." Ujar Kaivan pelan.


Archie manggut-manggut. "Kasihan, Mas. Dia kan cuma anak magang, dan gajinya nggak sebesar pegawai kantor kamu." Sahut Archie menjelaskan.


"Sampai kapan dia magang di kantor lo, Kai?" Tanya Aldavi sembari meletakkan ponselnya di meja.


"Enam bulan ke depan." Jawab Kaivan, lalu menatap istrinya.


"Iya kan, Sayang?" Tanya Kaivan memastikan.


Archie menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Iya, Mas. Dia mahasiswa yang lagi libur dan mau cari pengalaman lewat program internship." Jelas Archiena.


"Lain kali pilih-pilih deh kalau mau cari anak magang, apalagi untuk posisi penting." Saran Aldavi.


"Jangan terlalu dendam sama Karin, Pak. Nanti jodoh lho." Celetuk Archie mengalihkan pembicaraan.


Kaivan tertawa mendengar ucapan istrinya, sementara Aldavi melongo. Aldavi tidak menyangka akan mendengar ini dari istrinya Kaivan.


"Jodoh? Anak kecil begitu? Heuh, yang benar-benar saja." Sahut Aldavi bergidik.


"Eh jangan salah, Pak. Yang muda-muda gitu biasanya malah membawa kebahagiaan." Kata Archie dengan bangga.


Archie lalu menatap suaminya. "Kayak aku sama mas Kaivan." Tambah Archie.


Aldavi menghela nafas, ia tidak menyangkal ucapan Archie yang mengatakan bahwa menikahi daun muda itu bisa membawa kebahagiaan. Namun jika daun muda itu bukan Karin.


"Gue sih setuju sama persepsi istri gue, jangan dendam sama Karin. Nanti lo tiba-tiba jatuh cinta sama dia." Ucap Kaivan ikut meledek Aldavi.


Aldavi tidak menyahut, ia hanya melirik Kaivan dengan tatapannya yang sinis.


Tidak lama kemudian Karin kembali dan langsung duduk di tempatnya. Ia tersenyum kepada Archie.


"Kita langsung kembali ke kantor, Mbak?" Tanya Karin.


"Kalau aku sama mas Kaivan iya, tapi kalau kamu katanya mau diajak ke pelaminan sama pak Aldavi." Jawab Archie bergurau.


Aldavi melototkan matanya, ia menatap Archie lalu bangkit dari duduknya. Sementara Karin kebingungan.


"Mbak, bercanda saja." Ucap Karin malu dan gugup.


Kaivan hanya terkekeh melihat sahabatnya itu yang langsung pergi. Kaivan ikut bangkit dari duduknya.


"Ayo kita kembali ke kantor." Ajak Kaivan, tentu hanya mengajak Archie saja.


"Iya, Mas." Sahut Archie lalu ikut bangkit.


"Awas ada barang yang ketinggalan, Karin. Ayo kita pergi." Ajak Archie lalu lekas melangkah di samping suaminya.


Sementara Karin melangkah di belakang pasangan suami istri itu sambil terus berperang dengan pikirannya.


"Pak Aldavi marah bukan karena aku kan ya." Gumam Karin pelan.


***


Ketika mereka baru saja sampai di kantor, ternyata Kaivan sudah ditunggu oleh seseorang.


Archie senang melihat siapa yang datang ke kantornya, itu adalah sang papa.


"Papa!!!" Archie langsung memeluk tubuh papa Dito dengan erat.


Kaivan sendiri langsung mencium punggung tangan mertuanya, lalu lekas mengajaknya masuk ke dalam ruangannya.


Archie menyusul, ia terpaksa meninggalkan Karin sendiri lagi dulu selagi dia bicara pada ayah dan mertuanya.


Kini di ruangan Kaivan, papa Dito duduk di depan anak dan menantunya dengan tatapan yang cukup serius.


"Ada apa, Pa?" Tanya Archie lembut.


Papa Dito menghela nafas. "Papa kesini ada urusan sama kalian berdua, ini soal mama kamu." Jawab papa Dito sambil menatap Archie.


"Mama, ada apa dengan mama? Mama baik-baik saja kan?" Tanya Archie.


Papa Dito menggelengkan kepalanya, ia sebenarnya sudah lama ingin memberitahu ini kepada Archie, namun istrinya terus saja melarang.


Papa Dito kebetulan sedang lewat sehingga ia pun memutuskan untuk mampir kesana.


"Mama kamu sakit, Archie. Sejak Adinda pulang ke rumah, mama kamu stress." Ucap papa Dito.


"Tapi sekarang Dinda sudah kembali ke rumah suaminya kan, Pa." Kata Kaivan menyahuti.


"Iya, tapi sebelumnya tepatnya saat Aditya di penjara. Adinda pernah mengancam mama kamu bahwa dia akan bunuh diri jika mama tidak berhasil membujuk kamu untuk membebaskan Aditya." Ujar papa Dito.


"Maksudnya Dinda nyuruh mama membujuk aku, Pa? Lalu dia mengancam akan bunuh diri?" Tanya Archie menyimpulkan.


Papa Dito menganggukkan kepalanya.


"Mama kamu stress, dia bingung karena kalian berdua adalah putri kami. Dia sampai sakit-sakitan karena memikirkan sikap Dinda." Jawab papa Dito.


Papa Dito menundukkan kepalanya, ia benar-benar sedih jika mengingat putri keduanya begitu berbeda. Papa Dito merasa bahwa ia gagal mendidik anaknya.


Archie pun lekas memeluk sang papa, ia bisa merasakan kesedihan ayahnya itu.


"Kenapa papa tidak cerita pada kami?" Tanya Kaivan.


"Mama kalian melarang, mama tidak mau Archie sampai kepikiran." Jawab papa Dito.


Archie menggelengkan kepalanya, ia lalu menyeka air matanya dengan sedikit kasar.


"Nggak, Pa. Kali ini sikap Dinda nggak akan aku biarkan, aku akan bicara padanya." Ucap Archie.


Jika sudah menyangkut orang tuanya, maka Archie tidak akan tinggal diam. Kini waktunya dia menunjukkan posisinya sebagai seorang kakak.


Archie benar-benar tidak menyangka jika Dinda akan menggunakan kelemahan mama Gita untuk kebahagiaanya sendiri.


Dinda tentu tahu jika mama Gita sangat menyayangi kedua putrinya, tapi Dinda dengan tidak tahu malunya malah mengancam akan bunuh diri.


"Sikap Dinda dan Aditya sudah sangat keterlaluan, mereka bukan hanya menghancurkan pernikahan mama Fia dan papa Jefry, tapi juga membuat kesehatan mama menurun." Ucap Archie dengan nafas yang memburu.


"Aku nggak bisa diam terus, aku harus bicara pada Adinda." Tambah Archie.


Kaivan menatap istrinya, ia tentu akan mendukung jika memang Archie mau menegur sikap adiknya. Memang sudah sepatutnya Archie menegur Adinda sejak lama.


WAHHH ADINDA SAMA KAYAK SUAMINYA. DEFINISI JODOH CERMINAN DIRI 😪


Bersambung....................................