
Seperti yang Archie katakan jika dia akan datang ke rumah Aditya dan Adinda untuk menegur adiknya itu.
Archie tidak bisa diam lagi karena ini menyangkut kesehatan orang tuanya. Mungkin jika mama Fia mengizinkan nya juga, Archie akan membuat perhitungan seperti sekarang.
Archie diantar oleh suaminya untuk datang ke rumah keluarga Aditya. Archie keluar duluan dari mobil, dan lekas di susul oleh Kaivan.
Archie dan Kaivan masuk ke dalam rumah keluarga Aditya sambil bergandengan tangan.
Mereka berdua tidak melihat siapapun, rumah itu sangat sunyi dan sepi. Seperti tidak ada kehidupan, sampai akhirnya seorang asisten rumah tangga datang menghampiri mereka.
"Tuan Kaivan dan nona Archie, selamat datang." Sapa asisten rumah tangga itu dengan sopan.
Kaivan menatap wanita itu. "Dimana Aditya dan istrinya?" Tanya Kaivan dengan datar.
"Tuan dan nyonya muda berada di kamarnya, Tuan. Saya akan panggilkan, kalian silahkan duduk." Tutur asisten rumah tangga itu lagi.
Archie menggelengkan kepalanya. "Tolong panggil sekarang ya, Bi. Ada yang ingin saya sampaikan pada mereka." Pinta Archie yang sudah tidak sabar.
"Mau apa kalian kesini?" Terdengar suara dari arah tangga, nada bicaranya terkesan tidak suka melihat kedatangan Kaivan dan Archie.
Kaivan dan Archie menoleh ke asal suara, mereka melihat Risa berdiri di lantai dua dengan tangan yang terlipat di dadanya.
Kaivan menatap tajam, ia masih sangat ingat jika wanita yang selama ini ia hormati sebagai seorang kakak adalah orang yang sama dengan orang yang hampir menghancurkan pernikahannya.
Tangan Kaivan terkepal. "Kami datang bukan tanpa maksud, NYONYA RISA." Jawab Kaivan, menakan kata nyonya.
Kaivan bahkan tidak sudi untuk memanggil Risa 'mbak' lagi, apalagi untuk menganggapnya sebagai keluarga.
Risa menghela nafas, wanita itu kemudian melangkah menuruni anak tangga dan mendekati Kaivan serta Archie.
"Mau apa kalian mencari anak saya? Kami sudah tidak punya urusan dengan kalian, apalagi mama Fia dan papaku sudah bercerai." Ucap Risa dengan begitu bangga.
"Tante, kami datang itu pasti punya urusan dengan Aditya dan Adinda, jika kami tidak punya urusan dengan mereka, maka tidak mungkin kami akan kesini." Sahut Archie dengan tenang.
Risa cukup terkejut mendengar cara bicara Archie barusan, wanita itu tampak berbeda dari biasanya. Tampak dingin dan marah.
"Mereka tidak mau bertemu kalian." Kata Risa dengan angkuh.
"Tapi aku tetap mau bertemu mereka, tidak peduli mereka mau ataupun tidak." Timpal Archie dengan tegas.
"ADITYA, ADINDA!!" Kaivan berteriak kencang guna memanggil pasangan yang sama-sama selalu membuat masalah itu.
"Cukup, kalian tidak berhak membuat keributan di rumah saya. Pergi dari rumah saya sekarang!!" Usir Risa dengan tangan yang menunjuk ke arah pintu rumah.
"Anda saja bisa membuat keributan di rumah tangga saya, kenapa saya tidak bisa membuat keributan di rumah anda." Sahut Archie dengan lantang.
"Lancang! Berani sekali kamu bicara begitu kepada saya. Ini menantu yang dibanggakan oleh mama Fia? Benar-benar memuakan." Cibir Risa.
"Mama, ada apa ini?" Tiba-tiba saja Dinda datang bersama dengan suaminya dari arah lantai dua, tepatnya dari kamar mereka.
Kaivan dan Archie sama-sama mendongakkan kepalanya guna menatap keduanya.
Pasangan suami istri yang begitu serasi, mulai dari sifat dan kelakuannya.
"Turun kamu, Dinda. Mbak mau bicara sama kamu!" Tegur Archie.
Adinda menghela nafas malas. "Nggak ah, Mbak. Malas aku bicara sama Mbak." Tolak Adinda langsung.
"Dinda." Tegur Archie menekan suaranya.
"Archie, kamu tidak berhak memerintah istriku, dia bukan pembantu mu." Kata Aditya menimpali.
"Aku tidak bicara padamu, pria pengecut." Sahut Archie lantang.
"ARCHIE!!" Risa berteriak keras, merasa tidak suka mendengar cibiran Archie untuk Aditya.
"Pria yang hanya bisa memutarbalikkan fakta demi keselamatan sendiri, bahkan dengan seenaknya dia merengek pada Adinda. Apa itu bukan pengecut namanya." Tambah Archie menjelaskan.
Adinda mengepalkan tangannya, ia lekas turun kemudian mendekati Archie. Jari telunjuk wanita itu langsung melayang di depan wajah Archie.
"Jaga bicara mbak, aku tidak suka mendengar kalimat itu dari mbak!" Tegur Adinda dengan mata yang melotot.
Archie menepis tangan adiknya itu, kemudian ganti mencekal nya dengan sedikit kasar.
"Awww … sakit, Mbak!!" Ucap Adinda meringis.
"Sakit? Ini pertama kalinya mbak buat kamu kesakitan, Dinda. Tapi apa kamu pernah hitung berapa kali kamu menyakiti mbak, hah!" Sahut Archie.
"Mbak selama ini sabar sama sikap kamu, tapi sekarang tidak lagi. Apalagi kamu sudah membuat mama sakit." Tambah Archie lalu menepis tangan adiknya kasar.
Aditya juga turun kemudian mendekati Archie, namun buru-buru Kaivan menarik baju pria itu dan mendorongnya agar tidak terlalu dekat dengan istrinya.
"Om, katakan pada istri om ini untuk menjaga sikapnya. Berani sekali dia membuat istriku kesakitan." Ucap Aditya.
"Diam, saya mendukung apapun yang akan istri saya lakukan." Sahut Kaivan.
Sementara Adinda mengusap tangannya yang terasa sakit usai di cekal oleh kakaknya.
"Maksud mbak apa sih, mbak nggak bisa tuduh aku sembarangan." Ujar Dinda sambil masih meringis.
"Kamu saja bisa menuduh mbak yang tidak-tidak, termasuk tuduhan jika mbak menggoda suami kamu, padahal dalam mimpi pun mbak tidak sudi melakukannya." Sahut Archie.
"Sekarang jawab pertanyaan mbak, apa maksud kamu mengancam untuk bunuh diri jika mbak tidak mau membebaskan suami kamu heuh?" Tanya Archie dengan nafas sedikit terengah-engah.
Adinda terkejut, ia pikir kakaknya itu tidak akan tahu tentang ini. Tapi dia salah, saat ini Archie sudah tahu.
Wajah Adinda berubah takut, ia lalu melirik suaminya yang juga tampak tidak berani menyahut karena tatapan Kaivan.
"Ya karena … karena aku tahu jika mama hanya sayang sama mbak." Jawab Adinda sedikit terbata.
Archie berdecak lelah, ia memegangi keningnya kemudian geleng-geleng kepala. Ia tidak menyangka jika adiknya akan memiliki pikiran sepicik itu.
"Kamu sudah gila, Dinda. Sangat gila. Mama sangat menyayangi kamu, tuduhan kamu terhadap mama itu tidak berdasar." Ujar Archie.
"Mama sakit karena dia khawatir memikirkan kamu yang menikahi pria tidak benar, mama sangat menyayangi kamu." Tambah Archie geram sambil menunjuk-nunjuk Adinda.
Adinda menggelengkan kepalanya. "Mbak bohong, mama atau papa tidak pernah menyayangiku. Hanya mbak anak mereka, aku bukan siapa-siapa." Sahut Adinda mengelak.
"Selama ini aku benci sama mbak, bahkan di bandingkan apapun di dunia ini, mbak yang paling aku benci. Aku benci!!" Tambah Adinda.
Adinda menyeka sudut matanya yang hampir mengeluarkan air mata, ia kemudian melangkah mendekati Archie.
"Jika mbak ingin tahu, rasa benciku sudah tidak terhingga bahkan untuk orang tua mbak sekalipun. Itulah alasan kenapa aku merebut kak Aditya, karena aku membenci mbak, aku nggak mau mbak bahagia." Ucap Adinda lagi sedikit berteriak.
"DINDA!!" Archie langsung melayangkan tamparan di wajah adiknya.
Adinda hampir saja terhuyung, namun buru-buru di tangkap oleh Aditya.
"Kamu keterlaluan, selama ini mbak sangat menyayangi kamu. Bukan hanya mbak, tapi juga orang tua kita. Tapi ini balasan kamu? Kamu balas kasih sayang kami dengan kebencian?" Tanya Archie pelan.
Adinda menangis, ia memegangi pipinya yang terasa begitu panas bahkan memerah. Wanita itu kemudian menatap kakaknya lagi.
"Iya, aku benci. Aku benci pada kalian, dan aku mau kalian menderita terutama mama dan mbak." Jawab Adinda.
"DINDA!!!"
DINDA, ISTIGHFAR YUK BARENG-BARENG 😭
Bersambung.....................................