Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Kebaikan keluarga mama Fia


Payung hitam yang mengelilingi area pemakaman menjadi pelindung para pelayat di hari pemakaman Anto yang di iringi rintikan hujan.


Hujan yang berjatuhan seakan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan keluarga mama Fia dan papa Jefry.


Anto sudah di makamkan tanpa kehadiran istrinya, sebab sampai saat ini Risa masih belum daratkan diri.


Aditya duduk di pinggiran, dimana gundukan tanah itu telah di taburi bunga 7 rupa. Pria itu menangis, memeluk batu nisan yang bertuliskan nama sang papa.


"Hiks … kenapa papa pergi meninggalkanku dan mama, apa papa tidak ingat jika kami tidak bisa hidup tanpa papa." Ucap Aditya sembari terus menumpahkan air matanya.


Baju Aditya sudah kuyup dan kotor terkena tanah merah yang digunakan untuk menutupi jasad Anto selayaknya orang beragama Islam.


Papa Jefry pun menangis melihat cucunya yang begitu terpukul. Ia menepuk bahu pria itu, lalu mengusap kepalanya pelan.


"Sabar, Nak. Ikhlaskan papa mu pergi, dia sudah tenang di alam sana." Tutur papa Jefry berusaha untuk tetap tegar.


Aditya tidak menyahut, ia malah semakin kejar menangisnya. Tangisan penuh rasa sakit dan terpukul.


"Bagaimana perasaan mama saat tahu papa sudah tiada, hiks …" ucap Aditya dengan lirih.


Mama Fia yang melihat itu lantas memeluk Aditya. Ia mendekap pria itu dengan erat dan melupakan sejenak kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya.


Aditya membalas pelukan sang oma, wanita kedua yang sangat menyayanginya setelah sang mama.


"Oma, hiks … kenapa papa pergi, kenapa papa meninggalkanku dan mama." Lirih Aditya.


Mama Fia tidak bicara, hanya mengusap punggung Aditya yang bajunya basah dan kotor.


Adinda yang ada disana tentu saja sedih, namun ia tidak memberikan simpati apapun.


Hati Adinda tidak sekuat hati Archie dan mama Fia. Sekali ia membenci, maka ia akan benar-benar membencinya terutama setelah kenyataan tentang pengkhianatan pria itu.


Adinda lebih fokus pada orang tuanya yang hadir dalam pemakaman. Mama Gita dan papa Dito ada disana, namun keduanya seakan tidak menganggap kehadiran Arinda disana.


"Mas, perut aku sakit." Cicit Archie tiba-tiba.


Archie memegangi tangan suaminya, entah mengapa perutnya tiba-tiba terasa seperti mendapatkan penekanan.


Kaivan yang mendengar itu lantas memegang kedua bahu istrinya lalu mengajaknya untuk duduk.


"Sayang, sakit? Kita duduk disini dulu ya." Ucap Kaivan dengan lembut.


Di pemakaman itu ada sebuah gubuk kecil yang ada kursinya dan Kaivan sengaja mendudukkan istrinya disana.


"Kita duduk disini ya, kita belum bisa pulang karena Aditya masih sangat terpukul." Tutur Kaivan lembut.


Archie memegang wajah suaminya. "Aku tahu kamu orang yang peduli, Mas. Tidak memikirkan tentang kesalahan Aditya, kamu tetap peduli padanya." Ucap Archie lembut.


"Kamu yang mengajari aku, Sayang." Sahut Kaivan balas mengusap wajah istrinya.


"Kamu juga tetap peduli pada Adinda, tidak memikirkan pada kesalahan yang pernah ia perbuat sama kamu." Tambah Kaivan.


Archie tersenyum lalu manggut-manggut, ia tidak banyak bicara dan malah mengusap perutnya yang sudah semakin besar.


"Mas bisa kembali kesana, perut aku sudah tidak terlalu sakit." Tutur Archie lembut.


Kaivan menggelengkan kepalanya, ia mana mungkin mau meninggalkan istrinya sendirian.


"Papa dan mama hadir, dan aku mau hubungan mereka dengan Adinda kembali baik." Ucap Archie sembari menatap kedua orang tuanya diantara kerumunan orang di pemakaman.


"Dan aku yakin kamu bisa melakukannya, kenapa? Karena kamu adalah si positif vibes." Sahut Kaivan lalu mencium kening istrinya.


Mungkin terlihat tidak pantas bermesraan di pemakaman, namun Archie tidak berbohong tentang perutnya yang sakit tadi.


Mungkin saja itu karena Archie kurang istirahat sejak kemarin. Ia membantu mengurus pemakaman Anto sekaligus menemani mama Fia di rumah sakit untuk menjaga papa Jefry.


***


Setelah pemakaman selesai dilakukan. Aditya dan papa Jefry kembali ke rumah mewah mereka. Rumah yang seharusnya di sita hari ini, namun tidak jadi.


Perusahaan papa Jefry benar-benar bangkrut dan terlilit hutang, namun Kaivan sudah membayar semua hutangnya dengan imbalan semua aset papa Jefry berada di bawa kendalinya.


Kaivan hanya mengendalikan, tapi tidak menguasainya. Kaivan hanya ingin bantu mengelola dan tetap memberikan hak keuntungan pada papa Jefry.


"Papa dan Aditya bisa menempati rumah ini selama yang kalian mau, dan papa tenang saja karena perusahaan tetap milik papa sepenuhnya, hanya saja aku yang akan bantu mengurus dan mengendalikannya." Ucap Kaivan dengan tenang dan lantang.


"Kai." Panggil papa Jefry pelan.


Kaivan menatap papa Jefry, hanya sekedar itu dan tidak menyahutinya dengan kata-kata.


"Kenapa kamu baik pada papa? Sekarang papa bukan lagi suami mama kamu." Ucap papa Jefry pelan.


"Seperti yang mama katakan jika hubungan kalian saja yang berakhir. Aku tetap anak papa, dan sudah sepatutnya aku membantu kalian." Jelas Kaivan tanpa menatap papa Jefry.


"Jika om menolong opa karena dia adalah papa nya om, lalu bagaimana denganku? Aku selama ini sudah berbuat jahat, bahkan membuat om harus terpaksa menikahi Archie." Ucap Aditya tiba-tiba.


"Saya menikahi Archie bukan atas keterpaksaan, saya menikahinya karena saya mencintainya." Sahut Kaivan lantang.


"Saya juga tidak pernah menolong kamu, tapi papa Jefry lah yang sudah menolong kamu. Berterima kasih lah padanya, bukan malah bersikap durhaka dan kurang ajar." Tambah Kaivan penuh sindiran.


Aditya menundukkan kepalanya, ia sangat tahu dan paham jika ucapan Kaivan adalah sindiran yang begitu tajam dan pedas.


"Biaya rumah sakit Risa pun sudah Kaivan urus, kalian tidak perlu memikirkannya." Ucap mama Fia memberitahu.


"Terima kasih banyak, Fia. Terima kasih sudah mau menolong kami." Ucap papa Jefry sembari menyatukan kedua tangannya.


Mama Fia dengan cepat menurunkan tangan papa Jefry yang memberikan gerakan permohonan.


"Aku tidak pernah menolong kamu, Jef. Kaivan dan Archie yang melakukannya." Ujar mama Fia.


"Kamu memang ibu yang baik, didikan mu tidak ada yang gagal." Puji papa Jefry dengan penuh rasa kagum.


Mama Fia tidak membalas, ia hanya tersenyum mendengar pujian dari mantan suaminya.


Mama Fia tidak mengajari Kaivan untuk menolong papa Jefry dan keluarganya, tetapi ini pure kemauan Kaivan dan Archie.


"Dan untuk urusan kamu dengan Adinda, kalian selesaikan secepatnya setelah mbak Risa sadar." Ucap Kaivan tiba-tiba.


Mendengar ucapan Kaivan, Aditya lantas menatap Adinda yang berdiri di samping Archie. Wanita itu sejak tadi hanya diam, bahkan tidak menatapnya sedikitpun.


"Dinda." Panggil Aditya pelan.


"Aku sudah mengajukan berkas perceraian kita, Kak. Saat suratnya sampai, aku harap kakak akan mau menandatangani nya." Ucap Adinda langsung, tentu tanpa menatap Aditya.


"Apa tidak ada kesempatan untukku, Dinda? Apa kamu benar-benar mau berpisah denganku?" Tanya Aditya.


"Tidak ada, aku tidak siap menerima kenyataan bahwa kakak sudah berselingkuh. Dan keputusanku sudah bulat, bahwa aku mau kita bercerai." Jawab Adinda tenang.


Adinda lalu memberanikan diri untuk menatap wajah Aditya.


"Aku ingin kita bercerai karena kakak selingkuh, selebihnya tidak ada alasan lain. Bahkan kakak sakit pun aku masih bisa menerimanya jika kakak tidak berkhianat." Ucap Adinda sembari mengatur nafasnya.


Aditya hanya diam saja, ia tidak tahu harus bagaimana. Adinda ingin bercerai, dan yang harus ia lakukan ada mengabulkannya.


Selama ini Aditya sadar bahwa ia sudah menjadi pria yang jahat dan menyakiti kakak beradik sekaligus.


Pertama Archie, lalu Adinda. Aditya menyakiti mereka dengan pengkhianatan.


"Aku minta maaf, aku minta maaf pada kalian semua. Terutama Archie dan Adinda, tolong maafkan aku." Ucap Aditya menundukkan kepalanya.


Adinda membuang muka, sementara Archie tetap menatap Aditya.


"Aku sudah maafin kamu, Dit. Mulailah hidup yang lebih baik, meski tanpa Adinda." Kata Archie pelan.


Aditya menatap Archie, lalu menatap Kaivan yang begitu setia merangkul bahunya, seakan takut jika Archie diambil orang.


"Terima kasih, Archie. Kamu memang wanita yang baik." Bisik Aditya, namun masih bisa di dengar oleh semua orang.


Kaivan mengambil nafas lalu menatapnya papa Jefry dan Aditya.


"Kalian istirahatlah, kami harus pergi." Ucap Kaivan.


Kakek dan cucu itu mengangguk mendengar penuturan Kaivan. Keduanya pergi setelah Kaivan dan keluarganya pergi.


"Aku akan tinggal dimana, Mbak?" Tanya Adinda pelan.


"Mbak akan antar kamu ke rumah mama papa, Dinda. Disana rumah kamu." Jawab Archie.


"Aku takut mama dan papa tidak mau menerima dan memaafkan ku." Lirih Adinda menundukkan kepalanya.


"Kamu kenal papa dan mama, mereka bukan orang seperti itu. Selama kamu tulus meminta maaf, mereka pasti akan memaafkan kamu, karena kamu tetaplah anak mereka." Sahut Archie dengan yakin.


Adinda menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Ia pun akhirnya mengangguk pelan.


Adinda harus menemui kedua orang tuanya dan meminta maaf, bukan takut dan terus lari.


Adinda bersalah, sekalipun ia harus menjatuhkan harga dirinya demi sebuah maaf, maka ai harus melakukannya.


SEKARANG LIKE SAMA KOMEN AGAK BERKURANG, KALIAN MARAH YA KARENA AKU UP NYA LAMA😭😭


Bersambung.....................................