
Hari ini Archie sudah cukup bersedih dan menangis, kini wanita itu tersenyum lebar bahkan tertawa dengan lepas karena suaminya sudah kembali hangat padanya.
Archie begitu bahagia karena Kaivan menepati ucapannya untuk membawakan Archie banyak waffle. Kini kamar rawat Archie benar-benar penuh akan makanan itu.
"Enak nggak, Sayang?" Tanya Kaivan sembari menyelipkan anak rambut istrinya ke belakang telinga.
Archie sedang asik mengunyah lantas menganggukkan kepalanya. Ia suka dengan makanan yang suaminya bawa.
Bukan hanya waffle, tapi ada croissant dan cheese cake. Malam ini tema nya full manis.
"Makan yang manis, ditemani suamiku yang manis." Celetuk Archie lalu mengusap pipi suaminya.
Kaivan tertawa mendengar ucapan istrinya. Bisaan saja Archie itu membuatnya senyum malu-malu.
Kaivan mencubit pelan dagu istrinya, kemudian mendekatkan wajahnya dan menciumi dengan gemas seluruh wajah Archie.
"Sangat menggemaskan." Ungkap Kaivan.
Archie mengelap pipinya dengan sengaja, bermaksud untuk menggoda suaminya.
"Kok di lap." Kata Kaivan melototkan matanya.
Kaivan kembali mencium kedua pipi Archie, bahkan menekannya karena gemas dan kesal.
Lagi-lagi Archie mengusap bekas ciuman dari suaminya. Hal itu membuat Kaivan mengerem, lalu menciumi wajah bahkan leher istrinya.
Archie tertawa terbahak-bahak. "mas ahh, udah!!" Tegur Archie sambil tertawa.
Mereka begitu asik bercanda sampai tidak sadar jika pintu kamar rawat yang tidak tertutup rapat itu ada orang yang berdiri di sana.
Mama Fia, datang seorang diri demi melihat menantunya. Mama Fia yang tadi ingin mengetuk pintu jadi mengurungkan niatnya karena mendengar tawa dari anak dan menantunya itu.
Mata mama Fia berkaca-kaca. "Mana mungkin mama akan merusakkan kebahagiaan kalian." Gumam mama Fia lirih.
"Permisi." Tiba-tiba suster datang dan ingin masuk ke ruang rawat Archie.
Suster itu membuka pintu kamar rawat Archie, membuat mama Fia buru-buru menyeka air matanya sebelum anak dan menantunya melaut dia menangis.
"Mama, kenapa berdiri disana. Masuklah." Kaivan melihat sang mama dan mengajaknya untuk masuk.
Mama Fia tersenyum, lalu mendekati menantunya yang melempar senyuman padanya.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Tanya mama Fia lalu mencium kening Archie.
"Aku baik, Ma." Jawab Archie.
Archie meraih tangan ibu mertuanya, kemudian menggenggamnya dengan erat. Melihat wajah mama Fia, membuatnya teringat pertengkaran kedua mertuanya semalam.
“Mama datang sendiri?” tanya Archie lalu menoleh ke belakang mama Fia guna mencari keberadaan ayah mertuanya.
Hasilnya nihil. Tidak ada papa Jefry di sana.
“Papa sedang sibuk, Sayang. Dia akan datang saat dia ingat.” Jawab mama Fia lembut.
Mama Fia mengusap rambut panjang menantunya. Ketika mendengar jika Archie masuk rumah sakit, ia langsung khawatir. Mama Fia begitu takut jika keadaan menantunya itu diakibatkan karena masalahnya dengan sang suami.
Suster yang tadi datang bersama mama Fia mengingatkan pada Archie untuk istirahat, dan hal itu tentu saja ditolak Archie meski tidak di depan susternya langsung.
“Tapi aku masih mau mengobrol dengan mama, Mas.” Kata Archie dengan sedikit manja.
“Kamu masih punya banyak waktu untuk mengobrol dengan mama, Sayang. Sekarang waktunya untuk istirahat, kamu mengerti?” tutur Kaivan dengan lembut.
Archie menghela nafas dan akhirnya berbaring. Ia sudah kenyang makan dan memang sudah waktunya Archie untuk istirahat agar tubuhnya segera kembali vit.
Mama Fia mencium puncak kepala menantunya. “Istirahatlah, Nak. Mama kesini lagi besok ya, sekalian jemput kamu.” Ujar mama Fia.
“Iya, Ma. Mama juga istirahat dan jaga kesehatan ya.” Sahut Archie mengingatkan dengan penuh perhatian.
“Sayang, aku antar mama sampai depan ya.” Kata Kaivan lalu pergi keluar dari ruang rawat Archie bersama dengan mama Fia.
Saat Kaivan dan mama Fia sampai di luar kamar, mereka duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang rawat Archie. Ada hal yang harus mereka bicarakan tentang sesuatu yang penting.
“Mama yakin dengan keputusan mama?” tanya Kaivan dengan pelan.
“Mama harus apa, Kai? mama nggak mungkin menentang keputusan kamu.” Jawab mama Fia.
“Mama juga tidak mau kebahagiaan kamu dan Archie rusak karena Aditya dan Risa, mama nggak rela Kai.” Tambah mama Fia pelan.
“Tapi, Ma? pisah? mama sangat mencintai papa kan.” Ujar Kaivan sembari menggenggam tangan sang mama.
Mama Fia menghela nafas. “Bukan hanya papa, mama juga mencintai Risa dan Aditya. Tapi jika sikap mereka seperti ini, mama nggak membenarkan, Kai.” Jawab mama Fia dengan tenang.
Kaivan memijat pelipisnya, ia tidak menyangka jika masalahnya akan serumit ini. Seharusnya sejak awal Kaivan melenyapkan Aditya,pria itu benar-benar terus membuat masalah.
“Ma, aku berat dan tidak rela jika harus mencabut laporannya, tapi jika pernikahan mama terancam aku nggak bisa. Mungkin aku memang harus mencabut laporannya.” Ucap Kaivan begitu pelan.
Kaivan tegas, galak, emosian dan pemarah. Namun dibalik sikapnya itu, ia begitu menyayangi keluarganya, istrinya.
Mama Fia menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Kai. Mereka pasti sudah bebas dengan jaminan.” Kata mama Fia.
“Walaupun pada akhirnya mereka bebas, tapi yang terpenting bukan karena kamu yang mencabut laporannya.” Ucap mama Fia lagi.
Kaivan berlutut di depan mama Fia, menggenggam tangan sang mama dan menundukkan kepalanya.
“Maafin aku, Ma. Karena aku semua kacau, tapi aku juga tidak terima jika ada yang berusaha untuk menyakiti Archie, apalagi berusaha memisahkannya dariku.” Lirih Kaivan penuh rasa bersalah.
“Tidak perlu minta maaf, Kai. Lagipula mama sudah tua, mama pasti tetap akan bahagia asal diizinkan untuk tinggal bersama kamu dan Archie.” Tutur mama Fia sembari mengusap kepala putranya.
Tidak tahu kedepannya akan bagaimana, namun mama Fia tidak membenarkan apa yang sudah suaminya lakukan. Seharusnya mereka bisa bicara baik-baik dan pelan-pelan, bukan malah langsung meminta Kaivan untuk mencabut laporannya.
Itu terlalu tidak adil pada Kaivan dan Archie.
Keputusan mama Fia ini bukan karena ia tidak sayang dengan anak dan cucunya, ia sangat menyayangi Risa dan Aditya namun dia tidak bisa terima begitu saja tindakan mereka yang sudah melakukan kesalahan.
MAMA FIA, PELUK JAUH YA MERTUA BAIK :)
Bersambung....................................