Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Cerita Adinda


Kaivan harus menahan tubuh istrinya yang ingin berlari setelah mendapat telepon dari adiknya yang seperti orang menangis.


Kekhawatiran Archie semakin besar ketika mama Fia memintanya untuk datang ke rumah sakit.


Pikiran Archie kemana-mana, ia takut jika terjadi sesuatu pada Adinda ataupun ibu mertuanya.


"Sayang, tenang. Mama ataupun Adinda pasti baik-baik saja. Jangan lari-lari, ingat kamu sedang hamil." Tutur Kaivan sembari mengusap kedua bahu istrinya.


Archie tidak menyahut, wanita itu hanya diam saja dengan wajah penuh rasa khawatir.


Mereka akhirnya sampai di UGD, di sana tampak mama Fia dan Adinda sedang duduk di kursi tunggu yang berada tepat di depan unit gawat darurat itu.


"Mama, Adinda!!" Archie memanggil, kemudian lekas mendekati keduanya.


Mama Fia dan Adinda sama-sama bangkit dari duduknya ketika melihat kedatangan Archie dan Kaivan.


Mama Fia lekas memeluk menantunya, sementara Adinda malah bergerak mundur untuk menjauhi kakaknya itu.


"Ma, apa yang terjadi?" Kaivan bertanya ketika orang yang ia dan istrinya pikir sakit, justru duduk di depan kursi tunggu.


Kaivan bertanya-tanya, lantas siapa yang ada di dalam UGD itu.


Mama Fia melepaskan pelukannya, lalu menatap putranya. Ia menggenggam tangan Archie dan Kaivan bersamaan.


"Dinda yang akan memberitahu." Jawab mama Fia lalu menoleh ke belakang.


Mendengar nama adiknya, Archie lantas bergeser sedikit sehingga ia bisa melihat Adinda berdiri dengan kepala yang menunduk.


Mata Archie berkaca-kaca, ia perlahan mendekati adiknya lalu memegang bahunya dengan sedikit bergetar.


"Jangan, Mbak." Ucap Adinda tiba-tiba.


Adinda mengangkat wajahnya lalu menggelengkan kepalanya. Air matanya sudah menetes membasahi wajahnya.


"Jangan, aku mohon jangan. Aku nggak pantas dikasihani sama mbak." Ucap Adinda lagi.


"Dinda, kamu ini bicara apa sih. Apa yang terjadi?" Tanya Archie lalu memegang kedua bahu adiknya.


"Siapa yang ada di dalam, lalu dimana keluarga kamu?" Tanya Archie lagi.


Tangis Adinda semakin pecah mendengar pertanyaan dari kakaknya. Ia kembali menundukkan kepalanya, dan membiarkan air matanya tumpah membasahi wajahnya.


Melihat itu, Archie lantas memeluk adiknya. Archie juga mengusap punggung Adinda dengan penuh kasih sayang seperti biasanya.


"Hiks … maafin aku, Mbak. Aku minta maaf …" ucap Adinda dengan lirih.


"Aku sudah salah selama ini, aku bukan adik yang baik. Aku sangat menyesal, Mbak." Tambah Adinda seraya membalas pelukan kakaknya.


Archie masih diam, ia akan membiarkan adiknya itu untuk bicara. Archie membalas ucapan adiknya dengan usapan lembut.


"Hidupku hancur, Mbak. Ini semua pasti buah atas perbuatanku sama mbak dan mama papa." Ucap Adinda.


Archie melepaskan pelukannya. "Maksud kamu apa, Dinda?" Tanya Archie bingung.


Adinda tidak menjawab, wanita itu hanya menggelengkan kepalanya. Adinda seakan tidak sanggup untuk sekedar menjawab.


Archie menatap penampilan adiknya dari atas sampai ke bawah, dan ia baru menyadari sesuatu yang berbeda dari Adinda.


Archie mengulurkan tangannya untuk memegang perut Adinda. Dan benar saja, perut itu rata seperti orang yang tidak hamil.


Archie menatap adiknya lagi. "Dinda, k-kamu …" Archie menggantung ucapannya karena tidak sanggup melanjutkannya.


"Aku keguguran, Mbak. Aku kehilangan bayiku untuk selamanya." Jelas Adinda, melanjutkan dugaan kakaknya.


"APA!!" Archie terkejut.


Archie yang awalnya hanya berkaca-kaca, kini benar-benar menangis. Wanita itu menangis mendengar kenyataan adiknya.


Dengan dada yang sesak, Adinda pun bercerita tentang kecelakaannya yang membuat dirinya harus kehilangan bayi dan kesempatan untuk hamil.


Adinda pun tidak menutupi kenyataan bahwa Aditya lah yang sudah mendorongnya sehingga ia jatuh dari tangga.


"Kenapa kamu tidak bilang pada kita, Adinda?" Mama Fia menyahut setelah sejak tadi hanya mendengarkan.


"Papa Jefry mau memberitahu, tapi kak Aditya dan keluarganya melarang. Mereka takut kak Adit kembali masuk penjara." Jawab Adinda sedikit gemataran.


"Tapi dia memang pantas untuk dipenjarakan, Dinda. Dia sudah menjadi pembunuh, dia membunuh anakmu bahkan membahayakan nyawa kamu!" Archie berseru lantang.


"Kenapa kamu nggak bilang sama mbak, Dinda?" Archie kembali bertanya, namun selanjutnya ia memeluk adiknya lagi.


"Hiks … tolong aku, Mbak. Aku mau bercerai, aku mau pergi dari kak Aditya. Aku nggak sanggup lagi." Ucap Adinda.


"Kak Aditya berselingkuh, Mbak. Dia mengkhianati ku." Tambah Adinda semakin kejar menangisnya.


Archie semakin mendekap tubuh adiknya dengan erat, namun tidak sampai membuat perutnya mendapatkan tekanan.


Archie tidak terkejut dengan ucapan adiknya tentang Aditya yang selingkuh, karena ia yakin jika pria yang sudah pernah selingkuh maka akan sangat sulit untuknya berubah.


"Lalu dimana suami dan mertua kamu? Kamu juga belum menjawab, siapa yang ada di dalam." Ucap Kaivan dengan dingin.


Mungkin Archie sudah memaafkan Adinda, namun Kaivan belum. Ia adalah orang yang tidak mudah memaafkan, apalagi jika kesalahannya itu sangat fatal.


Kaivan sangat ingat apa yang Adinda lontarkan pada istrinya, bahkan sampai membuat Archie bersedih selama berhari-hari.


"Papa Jefry, dia di dalam. Papa Jefry sakit, namun kak Adit atau mertuaku tidak ada yang peduli. Beruntung aku bertemu oma Fia." Jawab Adinda pelan.


Mendengar nama papa Jefry, Kaivan langsung melangkah mendekati pintu UGD. Ia ingin menerobos masuk untuk melihat kondisi sang papa, namun ia tahu itu tidak diperbolehkan.


Kaivan sangat menyayangi papa Jefry meski dia bukan papa kandungnya. Papa Jefry adalah orang yang selalu memberinya nasehat dan pengajaran baik.


"Papa, apa yang terjadi dengan papaku?' tanya Kaivan lagi dengan menggebu-gebu.


Adinda kembali bercerita tentang perusahaan yang bangkrut, serta Aditya yang sakit HIV. Adinda bercerita semuanya tanpa di kurangi apalagi di lebih-lebihkan.


"Aditya, brengsekk. Aku akan membuatnya mendekam di penjara dan kali ini, tidak akan ada yang membela nya lagi." Ucap Kaivan penuh penekanan dan tangan terkepal.


Archie melepaskan pelukan adiknya, lalu beralih mendekati suaminya.


"Mas, tenanglah. Kamu dengar kan tadi jika Aditya sudah mendapatkan ganjarannya? Dia sakit, Mas." Ucap Archie mengingatkan.


"Selain itu, keluarganya juga akan mendapatkan masalah yang besar. Perusahaan sudah hancur, itu artinya semua kemewahan keluarga itu juga akan hilang." Tambah Archie.


"Tapi itu semua belum cukup untuk membalas perbuatan mereka, Sayang. Papa dan mama berpisah karena mereka, lalu sekarang papa sakit." Sahut Kaivan dengan perasaan marah.


Mama Fia ikut mendekat. "Kai, apa yang istrimu katakan benar, mereka akan menerima apa yang sudah mereka perbuat selama ini. Sekarang lebih baik kita fokus pada kesembuhan Jefry." Mama Fia menasehati.


Archie mengusap tangan suaminya, lalu naik ke bahu. Archie membuka tangannya dan Kaivan langsung memeluknya.


Archie sangat paham, hanya pelukannya yang bisa meredakan amarah suaminya dan Archie selalu siap memberikannya.


Adinda yang melihat pemandangan itu tentu saja ikut bahagia. Kakaknya mendapatkan kehidupan yang pantas untuk ia dapatkan.


Selama ini Archie sudah berbuat baik, dan menjadi sosok kakak yang panutan. Kebahagiaan memang pantas mengelilinginya.


"Teruslah bahagia, Mbak." Batin Adinda dengan penuh senyuman.


MINTA MAAFNYA KURANG SERIUS, NANTI KITA BUAT YANG LEBIH SAD😭


Bersambung................................