
Seperti yang Kaivan ucapkan jika Archie tidak harus bekerja keras karena ada yang membantunya. Kini wanita itu hanya duduk dan mengetik sesuatu di laptopnya tanpa sibuk kesana kemari.
Orang yang membantu Archie adalah anak magang titipan HRD yang usianya di bawah Archie, baru 19 tahun.
Anaknya begitu ceria dan cekatan, membuat Archie senang untuk bekerja dengannya walaupun baru satu hari.
"Karin, jadi sekarang semester dua ya?" Tanya Archie sambil mengetik sesuatu di laptopnya.
"Iya, Mbak. Sebentar lagi semester tiga." Jawab gadis bernama Karin itu dengan penuh senyuman.
"Mbak sudah lama bekerja disini?" Tanya Karin sembari menyusun kertas-kertas.
"Belum, aku baru beberapa bulan." Jawab Archie lalu menatap Karin yang terdiam.
"Kenapa tiba-tiba diam?" Tanya Archie mengerutkan keningnya.
"Lagi mikirin nanti mau makan apa, Mbak." Jawab Karin cekikikan pelan.
Archie ikut tertawa, sepertinya hari-harinya akan sangat ceria dengan kehadiran Karin. Selain suaminya, kini gadis itu yang akan membuat Archie sering tertawa.
"Makan soto enak sih, pakai sambal yang banyak." Archie menyahut.
"Eh iya, Mbak. Waktu aku fotokopi berkas-berkas, banyak karyawan yang bisik-bisik sambil lihatin aku. Penampilanku terlalu norak atau gimana, Mbak?" Tanya Karin tiba-tiba.
Archie terdiam, ia lalu menatap Karin diakhiri helaan nafas. Archie tentu tahu alasan mengapa karyawan bisik-bisik sambil menatap Karin, itu pasti karena gadis itu akan bekerja dengannya.
"Kamu cantik kok, kata siapa norak. Mungkin mereka bisik-bisik karena kamu cantik." Jawab Archie.
Karin tersenyum malu-malu mendengar pujian dari Archie. Gadis itu lalu meraih tas dan memakai parfum.
Ketika Karin menyemprotkan parfum, Archie seketika mual. Wanita itu bangkit dari duduknya dengan tergesa-gesa.
Archie berlari bersama dengan Kaivan yang keluar dari ruangannya. Pria itu tentu saja melihat istrinya yang berlari sambil menutup mulutnya.
"Archie." Panggil Kaivan, namun Archie tidak mendengarnya.
Kaivan lalu mendekati meja kerja Archie dimana ada Karin yang planga-plongo. Pria itu mengetuk meja kerja istrinya, membuat Karin tersadar.
"Ada apa dengan Archie?" Tanya Kaivan dengan wajah datar, namun tetap terlihat keemasannya.
"Saya tidak tahu, Pak. Tiba-tiba saja mbak Archie lari, saya saja kaget." Jawab Karin dengan jujur.
Kaivan terdiam sesaat, selanjutnya dia menatap Karin kembali.
"Saat Archie kembali, tolong suruh dia ke ruangan saya ya." Kata Kaivan lalu pergi tanpa menunggu jawaban Karin.
Karin hanya manggut-manggut, walaupun Kaivan tidak melihat. Kening gadis itu mengkerut, merasa bingung melihat atasannya itu sangat cemas.
"Apa mbak Archie sama pak Kaivan punya hubungan, kayak drakor gitu." Gumam Karin bertanya-tanya sambil tersenyum.
"Tapi cocok sih mereka, aku pasti dukung kalau memang mereka pacaran. Bisa nonton real romansa kantor." Tambah gadis itu cekikikan.
Sementara itu di kamar mandi, Archie tampak mual dan muntah setelah mencium aroma parfum Karin. Seperti biasa Archie akan sensitif dengan aroma sesuatu.
Archie yang mual-mual tentu saja dilihat oleh beberapa karyawan yang masuk ke dalam toilet itu.
"Kenapa, Bu?" Tanya salah satu wanita yang masuk.
Archie tidak langsung menjawab, dia mencuci mulutnya dan menyeka nya dengan tisu.
"Saya nggak apa-apa kok." Jawab Archie dengan senyuman.
Nafas Archie tampak terengah-engah karena terus muntah tadi. Tubuhnya kembali lemas.
"Hamil ya, Bu?" Yang lainnya berbicara dengan nada ketus.
"Anak pak Kaivan ya? Maaf ya, Bu. Dengar-dengar ibu kan punya hubungan sama pak Kaivan, bisa jadi kan …" wanita itu kembali bicara, namun menggantung.
Archie tidak bisa menyangkal, ia kan memang memiliki hubungan dengan Kaivan, bahkan saat ini dia hamil anak pria itu.
"Saya permisi." Ucap Archie tanpa mau menjawab pertanyaan para wanita tadi.
Archie hampir keluar, namun karyawan tadi kembali bicara yang membuat Archie harus banyak-banyak sabar.
"Awas, Bu. Nanti pak Kaivan nggak mau tanggung jawab." Celetuk wanita tadi.
Archie melangkahkan kakinya kembali menuju meja. Ketika dia sampai di sana, Karin langsung bangkit dari duduknya.
"Mbak, mbak nggak apa-apa?" Tanya Karin.
"Aku kaget waktu mbak lari." Tambah Karin dengan wajah cemas.
"Nggak apa-apa kok, Karin." Jawab Archie dengan senyuman manis.
"Oh ya, Mbak. Tadi pak Kaivan minta mbak ke ruangannya." Ujar Karin menyampaikan pesan dari Kaivan.
"Begitu ya, mungkin butuh dokumen ini." Sahut Archie beralasan.
Archie membawa sebuah dokumen, lalu lekas masuk ke dalam ruangan Kaivan.
"Sayang …" Kaivan bangkit dari duduknya, lalu melangkah mendekati istrinya.
Archie tersenyum, ia meletakan dokumen itu di meja kemudian masuk ke dalam pelukan suaminya yang sudah membuka kedua tangan sejak tadi.
"Kamu mual lagi ya, anak kecil tadi bilang kamu mual." Ucap Kaivan sembari mengusap punggung istrinya.
"Anak kecil mana?" Tanya Archie mendongakkan kepalanya dengan ekspresi wajah bingung.
"Itu anak magang, kan masih kecil." Jawab Kaivan asal-asalan.
Archie terkekeh, ia menarik hidung mancung suaminya dengan gemas.
"Bukan Karin yang kecil, tapi mas yang ketuaan." Timpal Archie semakin keras tertawa.
"Eh, saya bukan tua. Saya ini matang. Mapan, tampan dan panjang." Kata Kaivan dengan bangga.
"Apanya yang panjang?" Tanya Archie dengan polos.
"Masa nggak tahu, kan suka buat kamu menjerit-jerit. Ahh mashh …" celetuk Kaivan, menirukan suara Archie ketika sedang olahraga.
Mendengar itu, sontak Archie melototkan matanya. Ia mencubit bibir suaminya yang asal saja bicaranya.
"Mulutnya." Tegur Archie melototkan matanya.
"Mulutnya kenapa?" Tanya Kaivan mengangkat sebelah alisnya.
"Minta cium." Jawab Archie lalu mencium bibir suaminya.
Kaivan memegang pinggang Archie dan membalas ciuman yang istrinya berikan. Archie yang memulai, namun Kaivan yang mendominasi.
Setelah beberapa saat, Archie pun keluar dari ruangan Kaivan dan kembali ke meja kerjanya.
"Jadi makan siang pakai soto?" Tanya Archie sembari membenarkan posisi duduknya.
"Ayo saja, Mbak." Jawab Karin mengangguk kecil.
"Mbak, aku boleh tanya nggak?" Tanya Karin pelan.
"Silahkan." Jawab Archie mempersilahkan.
"Tadi pak Kaivan khawatir banget sama mbak, mbak pacaran sama pak Kaivan?" Tanya Karin pelan dan ragu-ragu.
"Hust, kata siapa kamu? Aku sama pak Kaivan nggak pacaran." Jawab Archie.
"Tapi suami istri." Tambah Archie dalam hati.
"Yahh, kecewa aku. Aku pikir bisa lihat real life romansa kantor." Sahut Karin menekuk wajahnya.
Archie hanya tersenyum, sepertinya Karin memang gadis yang menyenangkan dan polos.
"Aku cocok memang sama pak Kaivan?" Tanya Archie tak kalah berbisik.
"Banget, Mbak. Kayak drakor, dracin gitu deh." Jawab Karin dengan cepat.
Archie semakin tertawa mendengar jawaban Karin barusan.
GOSIP BAKAL MAKIN PANAS NIHH🙄
Bersambung.......................................