
Karin sudah diperbolehkan pulang ke rumah oleh Aldavi. Gadis itu tentu saja pulang sendiri karena ia menolak untuk memberitahu keluarganya tentang dirinya yang berada di rumah sakit.
Tidak banyak barang yang Karin bawa, karena gadis itu benar-benar sendirian. Namun ketika Karin siap untuk pulang, tiba-tiba saja ada yang datang.
Mama Dewiya dan papa Firman datang untuk menjenguk sekaligus mengucapkan terima kasih pada Karin yang sudah berbuat baik sekali.
"Karin." Mama Dewiya mendekati Karin dan langsung memeluknya dari belakang.
Karin membalas pelukan mama Dewiya dengan tidak kalah erat. Ia cukup merindukan pelukan seorang ibu karena dirinya sudah lama tidak bertemu dengan ibu kandungnya.
Semenjak merantau dan magang di kantor, Karin tidak kembali ke rumah kedua orang tuanya. Ia terlalu nyaman tinggal sendiri di kost dan fokus merintis karir di perusahaan besar milik Kaivan Arsangga.
Karin menghela nafasnya, kemudian melepaskan pelukannya. Ia memasang wajah penuh senyuman ke arah mama Dewiya.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" Tanya mama Dewiya dengan lembut.
Mama Dewiya mengusap wajah Karin dengan lembut, kemudian mencium kepalanya dengan penuh kasih sayang dan cinta.
"Aku baik, Tante. Aku baik-baik saja, dan lagipula luka ku tidak terlalu parah. Tante jangan khawatir." Jawab Karin memberitahu.
Karin bilang tidak terlalu parah dan itu memang benar. Dia hanya terluka di bagian kaki, dan untuk sementara waktu Karin tidak bisa berjalan lama.
"Bagaimana mungkin Tante tidak khawatir, Karin. Tante lihat sendiri bagaimana kamu tertimpa balok di tengah api yang sangat besar. Tante takut sekali." Ujar mama Dewiya.
Karin memegang tangan mama Dewiya lalu menggenggamnya dengan erat. Bukan hanya itu Karin bahkan menciumnya dengan sopan.
"Dokter Davi sudah menyelamatkan saya, Tante. Kita semua juga harus berterima kasih padanya, dia mempertaruhkan nyawanya demi saya." Sahut Karin memberitahu.
Gerakan Karin itu bersamaan dengan Aldavi yang datang untuk melihat kedua orang tuanya yang sengaja datang untuk Karin.
Aldavi melihat bagaimana Karin begitu menghormati ibunya, dan itu membuat jantung Aldavi berdetak tidak karuan. Ia sampai harus memegangi dadanya.
Papa Firman menyadari kehadiran putranya, ia pun mendekat lalu menepuk bahu putranya dengan lembut.
"Kamu sudah menyelamatkan, Boy. Kalau begitu kami juga harus berterima kasih padamu." Ucap papa Firman dengan penuh senyuman.
Aldavi menatap Karin lalu melempar senyuman pada gadis itu, dan Karin membalasnya dengan senyuman tidak kalah lebar.
"Terima kasih sudah menyelamatkan Karin ya, Davi." Ucap mama Dewiya lalu memeluk putranya.
Aldavi membalas pelukan sang mama. Aldavi ingat bagaimana khawatirnya dia pada Karin kemarin dan kini semuanya sudah baik-baik saja, Karin sudah boleh untuk pulang.
"Karin sudah baik-baik saja, dia boleh pulang. Mama jangan khawatir dan menangis lagi ya. Aku tidak bisa melihat mama seperti itu." Tutur Aldavi dengan lembut.
Mama Dewiya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia tersenyum lalu menarik tangan Aldavi untuk mendekati Karin.
"Karin, Tante minta maaf jika pertanyaan Tante ini membuat kamu syok. Tapi apa benar jika Aldavi sudah bicara soal 3 bulan itu?" Tanya mama Dewiya.
"Sudah, Tante. Dan aku sudah setuju. Kami akan sama-sama menjalankan kesepakatan ini dengan sebaik mungkin dan melihat bagaimana kedepannya nanti." Jawab Karin dengan suara yang begitu lembut.
Mama Dewiya sangat senang, ia kembali memeluk Karin dengan sangat erat. Entah apa yang membuat dirinya begini, namun mama Dewiya benar-benar sangat menyayangi Karin walaupun mereka baru saja bertemu.
"Mama senang sekali kamu mau mencoba untuk menjalin hubungan dengan Davi, Nak. Mama berdoa semoga kamu dan Aldavi bisa selamanya bersama." Ungkap mama Dewiya.
Karin menatap Aldavi, begitupun sebaliknya. Aldavi tersenyum lebar, sementara Karin tersenyum tipis saja.
Papa Firman mendekati putranya, lalu menepuk bahunya dengan memasang wajah yang seperti orang meledek.
"Jadi punya pacar sekarang?" Tanya papa Firman berbisik-bisik.
Aldavi terkekeh. "Belum, Pa. Masih proses, menurut papa gimana?" Tanya Aldavi tak kalah berbisik.
"Yakin dia pasti mau, secara kamu tampan seperti papa." Jawab papa Firman dengan bangga.
Aldavi tergelak, dan suaranya itu sukses membuat Karin dan mama Dewiya menatapnya dengan bingung.
Aldavi tersadar. Ia langsung menghentikan tawanya dan memasang wajah datar lagi, tidak lupa ia berdehem untuk menetralisir ekspresi wajahnya.
"Karin pulang sama siapa?" Tanya mama Dewiya.
Mama Dewiya menggelengkan kepalanya. Ia menoleh ke belakang dan menatap putranya yang sedang terdiam.
"Davi, antar Karin pulang ya. Kasihan, dia tidak mau keluarganya khawatir." Tutur mama Dewiya.
Aldavi menatap Karin sesaat, lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas permintaan sang mama.
"Baiklah, Ma. Aku akan mengantar Karin dan memastikan dia sampai ke rumah dengan selamat." Balas Aldavi yakin.
"Memang harus begitu, Davi. Dia kan pasien dan calon pacarmu, jadi kamu harus memastikan keselamatannya." Ujar papa Firman sembari mengedipkan sebelah matanya.
Karin tersenyum mendengar ucapan ayahnya Aldavi. Tiba-tiba saja papa Firman mendekati Karin.
"Terima kasih sudah menyelamatkan istri saya ya, Karin." Ucap papa Firman.
"Iya, Om. Sama-sama." Balas Karin manggut-manggut.
Setelah di rasa cukup, mama Dewiya dan papa Firman pun pulang. Aldavi tentu saja tetap berada di sana untuk mengantar Karin pulang ke rumahnya.
Kebetulan hari ini Aldavi libur praktek, sehingga ia benar-benar bisa jika harus mengantar Karin sampai ke rumahnya.
Karin yang tidak bisa jalan sepenuhnya harus memakai kursi roda untuk bantu berjalan. Tentu Aldavi yang mendorongnya.
Ketika Aldavi sudah sampai di depan lift, ternyata lift sangat ramai dan penuh alhasil Aldavi membawa Karin untuk lewat tangga.
"Dok, tangga? Saya harus jalan?" Tanya Karin dengan tatapan was-was.
Aldavi tidak menjawab. Ia malah menggendong gadis itu ala bridal style dan membuat Karin terkejut bukan main.
Karin yang takut jatuh pun langsung melingkarkan tangannya di leher Aldavi yang kokoh dan wangi. Gadis itu sampai melototkan matanya saking terkejutnya.
Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, terutama suster di sana yang sudah pasti mengenal sosok Aldavi.
Mereka semua bisik-bisik, namun Karin tidak bisa mendengarnya karena jarak yang terlalu jauh.
"Dok, anda yakin?" Tanya Karin memastikan.
"Banyak orang melihat kita, terutama rekan kerja anda." Tambah Karin memberitahu.
Aldavi tidak langsung menjawab. Dia menuruni satu persatu anak tangga untuk sampai di lobby rumah sakit.
Ruang rawat Karin berada di lantai 3, makanya Aldavi pikir tidak ada salahnya jika dia menggendong gadis itu sampai ke lobby daripada menunggu lift yang sedang ramai.
Aldavi sadar jika banyak mata yang menatapnya, namun ia berusaha untuk tidak peduli.
Aldavi hanya ingin menolong Karin dan lekas mengantar gadis itu pulang ke rumahnya saja. Tidak ada maksud untuk tebar pesona apalagi mempermalukan Karin seperti kemarin.
"Dokter, saya mungkin bisa jalan sendiri. Anda bisa lelah jika mendorong saya terlalu lama." Ucap Karin pelan.
"Tidak sama sekali, Karin. Tubuhmu sangat ringan, bahkan lebih ringan dari kapas." Sahut Aldavi tidak kalah pelan.
"Apa!! Saya tidak seringan itu, Dok." Ujar Karin tidak terima dengan pengakuan dari Aldavi.
Aldavi terkekeh, ia tidak bicara apapun dan melanjutkan langkahnya untuk sampai di lobby.
Sampai di lobby. Makin banyak pasang mata yang memperhatikan mereka di sana dan sudah pasti mayoritas adalah rekan kerja Aldavi.
"Dokter Davi keren banget …"
"Mau juga di gendong sama dokter matang itu …"
Begitulah bisikan yang bisa Karin dengar. Karin kini tahu jika pria yang menggendongnya saat ini termasuk favorit rekan kerjanya di rumah sakit.
Wajar saja jika Aldavi di kagumi, pria itu sangat tampan. Karin saja sempat terpesona.
DONE UNTUK HARI INI YA BESTI, MAKASIH SUDAH MEMBACA CERITA INI. KITA LANJUT BESOK YAWW🤗
Bersambung..............................................