Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Pertengkaran


Seorang wanita tampak duduk di ruang tamu sambil celingak-celinguk. Tangannya mengusap perut, menanti kedatangan suaminya.


Adinda, wanita itu adalah adik Archie. Saat ini Dinda sedang menunggu kepulangan suaminya yang tak kunjung datang padahal jam sudah menunjukkan pukul 9.


1 jam lalu Adinda sudah menghubungi suaminya, dan Aditya mengatakan akan segera pulang, namun sampai sekarang tidak kunjung datang.


"Kak Adit sebenarnya kemana, apa dia nggak kasihan sama aku yang lagi ngidam ini." Ucap Adinda pelan.


Ketika Adinda masih menunggu kepulangan suaminya, tiba-tiba ibu mertuanya datang menghampirinya.


"Kenapa kamu belum tidur?" Tanya Risa dengan kening mengkerut.


"Aku nunggu kak Aditya, Ma. Ada makanan yang aku titipkan sama dia, aku lagi pengen makan itu." Jawab Adinda.


Adinda senang mendengar ibu mertuanya peduli padanya. Selama ia menikah dengan Aditya, jarang-jarang Risa mau perhatian.


"Jangan suka tidur malam, tidak baik bagi kesehatan. Jika kesehatan kamu terganggu, nanti biaya pemeriksaan nya semakin besar." Ucap Risa lagi dengan sinis.


Seketika senyuman di wajah Adinda hilang mendengar ucapan ibu mertuanya. Dinda pikir Risa peduli, namun ternyata tetap saja uang yang dipikirkannya.


"Maaf, Ma." Balas Adinda menundukkan kepalanya.


"Lagipula sekarang kan kamu hamil, kenapa tidak berhenti kuliah. Kasihan anak saya mencari uang untuk biayain kamu." Ucap Risa menyindir.


"Orang tua kamu kan sudah tidak mau membiayai, mereka tidak mau bertanggung jawab lagi." Tambah Risa semakin ketus.


"Ma, bukan tidak mau bertanggung jawab tapi karena aku sudah menikah jadi kebutuhanku sudah sepatutnya di penuhi oleh kak Adit." Sahut Adinda.


"Tapi Aditya juga putra rumah ini, dia harus memenuhi kebutuhan kami. Hidupnya bukan tentang kamu saja." Kata Risa lalu pergi meninggalkan menantunya begitu saja.


Sepeninggalan Risa, Adinda tanpa sadar menangis. Wanita itu merasa sedikit sakit hati dengan ucapan mertuanya. Namun ia bisa apa, Adinda hanya bisa pasrah.


Tidak lama kemudian Aditya pulang dengan jas dan tas yang ditenteng di tangannya. Ia menatap istrinya yang sedang menangis.


"Kenapa kamu?" Tanya Aditya mengerutkan keningnya, tidak ada rasa khawatir sama sekali.


"Aku nggak mau tinggalkan disini, kita pindah ya." Ajak Adinda tiba-tiba.


"Apa-apaan sih kamu, tiba-tiba minta pindah." Sahut Aditya lalu melenggang pergi begitu saja meninggalkan istrinya.


Adinda lekas menyusul, wanita itu mengekori suaminya sampai ke kamar mereka.


"Aku nggak kuat dengar setiap omongan mama, aku mau pindah, Kak." Ucap Adinda lagi sambil memegangi tangan suaminya.


"Kamu pikir pindah rumah, biaya rumah dan kebutuhan lain itu murah? Aku harus penuhi kebutuhan rumah ini, biaya kuliah dan cek up kandungan kamu. Sekarang minta pindah rumah? Otak kamu dimana!!" Aditya bicara dengan nada sedikit ketus.


"Suami pulang malah diajak ribut, nggak berguna banget kamu." Tambah pria itu semakin meninggikan nada bicaranya.


Adinda terkejut bukan main mendengar suara bentakan suaminya, ia tidak bermaksud untuk mengajak ribut sama sekali, dia hanya ingin mengeluarkan keluh kesahnya.


"Aku nggak maksud untuk mengajak ribut, Kak. Tapi aku benar-benar ingin pindah." Sahut Adinda menjelaskan.


"Aku ingin seperti mbak Archie yang tinggal pisah dengan mertua, om Kaivan pun memberikan rumah yang nyaman." Tambah Adinda malah semakin membuat Aditya marah.


"Om Kaivan itu pengusaha besar, dia punya banyak uang. Jangan samakan aku dengan dia, Adinda!!" Bentak Aditya lagi.


"Lagipula kamu ingin seperti Archie? Lihat diri kamu dan dia, sangat jauh berbeda. Archie sangat berguna, bahkan di saat suaminya sudah memenuhi kebutuhannya pun dia tetap bekerja. Sedangkan kamu? Lihat diri kamu." Tambah Aditya bahkan sampai merendahkan istrinya.


Adinda menangis mendengar ucapan Aditya yang membandingkan dirinya dengan Archie.


"BERANI KAMU!!" Aditya mengangkat tangannya dan siap memikul, namun tidak jadi karena ia masih bisa menahannya.


Adinda memekik ketakutan, selama ini ia tidak pernah merasakan kekerasan fisik dari keluarganya. Ini pertama kalinya ia merasakan seseorang mengangkat tangan padanya.


"Benar-benar nggak berguna, aku menyesal nikah dengan kamu dan meninggalkan Archie yang jauh lebih baik dari sisi mana saja." Ucap Aditya lalu masuk ke dalam kamar mandi sambil membanting pintu.


Adinda merasa sakit hati, tubuhnya perlahan merosot sampai terduduk di lantai. Suaminya mengatakan menyesal telah menikahinya, tidak ada kalimat yang lebih menyakitkan dari ini.


"Hiks … mama … papa." Lirih Adinda memanggil orang tuanya.


Adinda perlahan bangkit dari duduknya, dia berbaring diatas ranjang dengan air mata yang terus berderai. Bahkan makanan yang ia inginkan pun tidak dibelikan oleh suaminya.


Adinda sedang sangat menginginkan martabak manis, hanya itu saja tapi suaminya tidak mau memenuhinya.


Sementara itu di tempat lain, di rumah Archie dan Kaivan. Sepasang suami istri itu sedang bersiap-siap untuk pergi lusa. Mereka menyiapkan pakaian dan barang apa saja yang akan di bawa.


Sengaja menyiapkannya sekarang karena besok jadwal mereka sangat padat, bahkan ada jamuan makan malam dengan rekan Kaivan yang memberikan Archie hadiah.


Archie sibuk memindahkan beberapa baju di lemari ke dalam koper, namun gerakannya harus berhenti tiba-tiba ketika merasakan sebuah pelukan dari belakang.


"Sayang …" panggil Kaivan dengan lembut.


Archie tersenyum, ia membiarkan tubuhnya di peluk sang suami yang entah mengapa sangat manja malam ini.


"Apa, Mas?" Sahut Archie tidak kalah lembut.


"Hadiah dari istri rekan kerja saya nggak mau di coba?" Tanya Kaivan berbisik.


Mendadak tubuh Archie gugup dan merinding. Archie yakin suaminya sudah melihat hadiah itu, makanya Kaivan memintanya untuk mencoba.


"Malu." Cicit Archie tersenyum dengan wajah yang mendadak merah.


"Kok malu? Kan saya suami kamu, saya penasaran mau lihat." Ujar Kaivan sembari mengusap lengan Archie yang terasa begitu halus.


Archie membalik badan, menatap suaminya yang memiliki wajah begitu tampan. Archie mengusap rahang pria itu, lalu menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, tapi aku selesaikan ini semua dulu ya. Aku–" ucapan Archie terhenti ketika Kaivan langsung mengambil alih untuk merapikan koper.


Kaivan melakukannya dengan cepat, bahkan dalam sekejap semua barang-barang itu telah rapi.


"Sudah, Sayang." Ucap Kaivan penuh senyuman.


"Nggak sabar banget sih, Mas." Kata Archie sambil tertawa.


"Soalnya saya yakin kamu pasti cantik banget." Sahut Kaivan lalu menarik tangan istrinya menuju walk in closet.


"Saya tunggu ya." Ucap Kaivan.


Archie menganggukkan kepalanya, dia pun masuk sementara Kaivan menunggu di kamar. Archie harus pakai lingerie, baru membayangkannya saja wajah Archie sudah terasa panas.


"Nggak apa-apa deh, demi suami apa sih yang nggak." Celetuk Archie sambil senyum-senyum sendiri.


DUA PASANGAN YANG BERBEDA KONDISI YA ☺️


Bersambung.....................................