Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Keputusan


Tampak seorang pria tidak henti memukul-mukul jeruji besi dihadapannya. Teriakan dengan maksud itu berhasil menyita perhatian beberapa polisi yang ada di sana.


Ya, orang itu adalah Aditya. Dia belum diproses lebih lanjut dan masih berada di balik jeruji kantor polisi setempat usai di laporkan atas kasus pencemaran nama baik.


Bukan hanya Aditya, tapi Risa yang sel nya ada di sebelah Aditya pun sama menyita perhatiannya. Ibu dan anak, yang berbarengan masuk ke dalam sel akibat perbuatannya sendiri.


"Pak, lepaskan saya. Saya tidak bersalah, apa yang om Kaivan dan Archie katakan itu bohong. Saya tidak pernah mencemari nama baiknya." Ucap Aditya pada polisi penjaga.


Aditya mengeluarkan tangannya melalui celah sel, berusaha menjangkau si polisi agar mau membebaskannya.


"Pak, saya mohon. Istri saya sedang hamil, dia membutuhkan saya di sampingnya." Pinta Aditya lagi sambil menyatukan kedua tangannya memohon.


"Heh diam! Saat melakukan kejahatan dengan mencemarkan nama baik orang, apa kau tidak berpikir jika istrimu sedang hamil." Sahut si polisi dengan wajah datar.


"Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab." Tambahnya lantang.


Amarah Aditya seketika tersulit, ia mengeluarkan kedua tangannya kemudian mencengkram baju si polisi yang tadi bicara padanya.


"Kurang ajar!! Apa kau tidak tahu siapa aku! Aku Aditya Putra Kenandar! Papa dan kakekku pasti tidak akan membiarkan aku diam disini." Teriak Aditya dengan penuh rasa kesal.


Risa yang melihat anaknya emosi sontak bangun dari duduknya, ia mendekati sel samping yang menempel dengan sel putranya.


"Adit, lepaskan dia. Kamu jangan gila, kita bisa bertambah dalam masalah!!" Tegur Risa dengan panik.


"Tidak, Ma. Dia membuatku emosi." Tolak Aditya menggelengkan kepalanya.


"ADITYA!!" Suara itu terdengar begitu tegas dari arah depan Aditya.


Aditya lantas menoleh, ia melepaskan cengkraman di baju si polisi lalu menatap penuh senyuman pada kakek dan neneknya.


"Oma, Opa. Aku tahu kalian akan datang dan membebaskan kami." Ucap Aditya dengan bahagia.


"Mama, Papa. Akhirnya kalian datang, tolong bebaskan kami dari sini." Pinta Risa dengan senyuman yang tidak kalah lebar.


Papa Jefry dan mama Fia saling pandang untuk sesaat, namun selanjutnya mama Fia memutuskan pandangan keduanya dan memilih mendekati sel Aditya.


"Oma …" panggil Aditya.


"Kamu seharusnya bisa menerima keadaan ini, karena kamu sendiri yang menciptakannya. Bukan malah mengadu pada istrimu itu yang justru memaki Archie habis-habisan." Ucap mama Fia dengan wajah yang memberikan ekspresi tidak suka.


"Kamu yang menyebarkan gosip, tapi kamu malah memfitnah Archie. Kamu itu bukan anak-anak." Tambah mama Fia tegas.


Risa terkejut mendengar ucapan ibu tirinya itu, ia lalu menatap sang papa yang juga sedang menatapnya.


"Oma, maksud oma?" Tanya Aditya mengerutkan keningnya dengan rasa terkejut.


"Ma, ini hanya masalah kecil. Kita bisa bicara baik-baik." Ucap Risa dengan senyuman yang gemetar.


"Dan kamu, Risa. Seharusnya kamu bisa mencontohkan yang baik kepada putramu, tapi tidak. Kejahatan mu bahkan lebih darinya." Ucap mama Fia.


"Sebenarnya apa niatmu, apa tujuanmu ingin memisahkan Archie dan Kaivan heumm?" Tanya mama Fia.


Wajah Risa terasa panas mendengar ucapan mama Fia, ia menundukkan kepalanya tanpa berani menatap ibunya itu.


"Ma … aku …" Risa mendadak seperti orang gagu.


"Setelah dikhianati putramu, apa itu belum cukup sampai-sampai kamu mau membuat Archie kembali menderita? Sebenarnya Archie salah apa sama keluargamu, Risa?" Tanya mama Fia lagi.


"Cukup, Ma." Papa Jefry angkat bicara dan menegur istrinya.


Mama Fia berhenti bicara, ia tidak membalik badan agar bisa menatap suaminya. Mama Fia tetap pada posisinya.


"Aku akan membebaskan mereka dengan jaminan, kasus mereka tidak terlalu berat dan ini bukan kriminal besar." Ucap papa Jefry tegas.


"Terserah, tapi satu yang papa harus ingat. Jangan pernah berani menemui Kaivan atau menemui mama." Sahut mama Fia.


Aditya dan Risa semakin bingung mendengar ucapan mama Fia dan papa Jefry yang sedang berseteru. Tentu mereka tahu alasannya.


"Ma, kita sudah bicara hal ini. Wajar aku membela anak dan cucuku." Kata papa Jefry.


Mama Fia membalik badan. "lalu apa aku nggak wajar jika membela anak dan menantuku?" Tanya mama Fia balik.


"Papa sangat ingin membebaskan mereka kan? Maka silahkan saja, tapi katakan pada mereka berdua untuk menjauh dari Kaivan dan Archie, atau mereka mau habis di tangan Kaivan." Ucap mama Fia lagi.


Mama Fia lalu menatap Aditya dan Risa bergantian.


"Dan kalian, nikmati kebebasan kalian tapi ingat jika Kaivan tidak mungkin begitu saja membiarkan kalian bebas." Ucap mama Fia lalu melangkah pergi.


"Ma, kita harus bicara dulu." Papa Jefry mencegah dengan memegang tangan istrinya.


Mama Fia menepis tangan suaminya. Sejujurnya ia tidak mau melakukan ini, ia sangat mencintai suaminya yang juga mencintainya.


Tapi sebagai seorang ibu, mama Fia tidak mau melukai perasaan anaknya, terlebih lagi anaknya telah melakukan sesuatu yang benar.


"Aku nggak mau jadi orang egois, Mas. Apa yang Kaivan lakukan itu sudah benar, tapi kamu malah membela yang salah. Sejak dulu kamu tahu, aku tidak suka orang yang melindungi kesalahan." Ucap mama Fia lalu benar-benar pergi sana.


Risa dan Aditya saling memandang, mereka tadi masih bingung namun selanjutnya mereka paham jika papa Jefry dan mama Fia saling bertolak belakang tentang kasus ini.


Mama Fia yang membela Archie dan Kaivan, sedangkan papa Jefry yang membela mereka, Aditya dan Risa.


BUKAN SALAH AKU, TAPI SALAH ADITYA. AWAS YA NYALAHIN AKU😭😭


Bersambung.................................