
Seperti yang Kaivan katakan tadi jika dia akan mengajak istrinya untuk ke rumah Aditya. Kaivan tidak mau membuang waktu untuk memberikan pelajaran pada pria itu.
Kaivan dan Archie pamit setelah makan malam dengan mama Fia dan papa Jefry.
"Kalian mau kemana memang?" Tanya mama Fia.
"Keluar, Ma. Archie menginginkan sesuatu dan aku juga ada urusan." Jawab Kaivan.
Mama Fia lalu menatap menantunya. "Yaudah, jika Archie yang menginginkan maka pergilah, jangan sampai anak kalian ileran nanti." Tutur mama Fia.
"Iya, Ma. Kalau begitu aku sama mas Kaivan pergi dulu ya." Pamit Archie sembari mencium punggung tangan ibu mertuanya.
"Jangan pulang malam-malam ya, Kai. Kasihan Archie, ibu hamil tidak boleh terlalu lama kena angin malam." Kata papa Jefry memberi pesan.
"Baik, Pa." Sahut Kaivan.
Setalah berpamitan, Archie dan Kaivan pun pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai mobil.
Kaivan mengendarai dengan kecepatan yang sedang. Sebisa mungkin ia melakukannya sebab ia tahu ada istrinya, padahal ia sangat ingin meninggikan kecepatannya agar cepat sampai di rumah Aditya.
"Mas, perut aku usap-usap dong." Pinta Archie lalu meraih tangan suaminya yang sedang menganggur.
Kaivan tersenyum, ia pun mengusap perut istrinya dengan lembut. Kaivan memang belum mengusapnya sejak tadi.
"Bagaimana anak papi hari ini, membuat mami nya mual lagi tidak?" Tanya Kaivan.
"Enak saja, anak aku nggak pernah buat mual. Yang ada kamu yang suka buat aku mual, Mas." Jawab Archie dengan cepat.
"Kok aku? Aku kan sudah ganti parfum sesuai keinginan kamu." Sahut Kaivan mengerutkan keningnya.
Mendengar itu Archie lantas mendekat, ia langsung mengendus aroma tubuh suaminya. Benar memang, aromanya begitu wangi.
"Eumm, wangi banget mas Kaivan." Ucap Archie lalu semakin menciumi tubuh suaminya.
Kaivan terkekeh. "Cium nya nanti saja, Sayang. Malam ini kan jatah aku." Tukas Kaivan.
Archie menjauhkan diri. "Iya deh, Mas." Sahut Archie mengangguk.
Kaivan senang karena perjalanan ini bisa diiringi senyuman bersama istrinya, walaupun Kaivan tahu setelah sampai di rumah Aditya nanti, amarahnya akan kembali tersulut.
Setelah perjalanan beberapa menit, akhirnya Archie dan Kaivan pun sampai di rumah Aditya.
Kaivan keluar duluan, disusul oleh Archie yang melangkah cepat di samping suaminya. Archie menggenggam tangan Kaivan.
Tidak ada salam apapun, Kaivan dan Archie langsung masuk ke dalam rumah Aditya. Kedatangan pasangan suami istri itu, membuat tiga orang yang sedang duduk di ruang tamu terkejut bukan main.
"Kai, kenapa tidak bilang akan main?" Tanya Risa dengan senyuman gugup.
Kaivan tidak menyahut, ia melepaskan genggaman tangan suaminya dan beralih mengepalkan kedua tangannya.
Tatapan tajam dan penuh amarah milik Kaivan menatap ke arah Aditya yang semakin gemetaran.
"Kaivan, Archie. Duduklah." Tutur Anto dengan wajah biasa-biasa saja.
Archie maupun Kaivan tidak menyahut, mereka masih berdiri di tempat mereka dengan tatapan tajam ke arah Aditya.
Aditya semakin gelagapan, ia sudah tahu jika om nya akan datang. Niatnya Aditya akan kabur, namun ternyata ia terlambat.
"O-om, aku bisa jelasin semuanya. Aku akan menjelaskan agar kita tidak salah paham." Ucap Aditya terbata-bata.
Kaivan mendekat, ia tidak permisi lagi dan langsung melayangkan pukulan di wajah keponakannya itu.
"Aditya!!" Teriak Risa syok.
Tubuh Aditya terhempas ke lantai dengan cukup keras, sampai mengundang ringisan dari bibir Aditya.
Kaivan kembali mendekati Aditya, ia mencengkram kerah kemeja Aditya dan menariknya sehingga Aditya sedikit bangkit.
"Saya bisa saja membunuh kamu, Aditya. Apa yang sudah kamu perbuat pada istri saya bukanlah hal kecil." Ucap Kaivan dengan penuh penekanan.
"A-aku minta maaf, Om." Cicit Aditya ketakutan.
Kaivan menarik Aditya sampai pria itu bangkit. Cengkraman di kerah baju Aditya tentu belum terlepas, lalu tanpa bicara lagi Kaivan langsung mendorong tubuh Aditya.
Aditya kembali tersungkur di depan Archie.
"Kami hampir kehilangan anak kami karena perbuatan mu, Aditya. Dan apa yang sudah kau lakukan tidak bisa saya maafkan." Ucap Kaivan dengan penuh penekanan.
Aditya menatap Archie, lalu menyatukan kedua tangannya guna memohon pada wanita itu.
"Archie, aku mohon maafkan aku. Selamatkan aku dari om Kaivan, aku bisa mati di tangannya, Archie." Pinta Aditya dengan sangat memohon.
Archie tidak menyahut, ia malah semakin mundur guna menjauhi pria itu. Archie lalu menatap suaminya yang kembali mendekat, lalu menghajar wajah Aditya.
"Katakan apa tujuanmu menyebar gosip murahan seperti itu, apa kau pikir bisa merusak nama istri saya heuh?" Tanya Kaivan.
Bibir Aditya sudah berdarah karena pukulan Kaivan, dan itu belum cukup. Kaivan yang memiliki emosional besar membuatnya ingin melenyapkan Aditya saat ini.
"Om, sebenarnya aku … aku …" Aditya kesulitan untuk berbicara karena rasa takut yang diterimanya.
"Bicara dengan benar!!" Bentak Kaivan semakin menarik kerah baju Aditya.
Amarah Kaivan semakin tersulut, ia mendorong Aditya dengan kencang sampai tubuh Aditya kembali tersungkur.
Kaivan hendak mendekat, namun tangannya ditarik oleh Risa.
"Kai, mbak mohon maafkan Aditya. Dia pasti sedang tidak sadar melakukannya, mbak mohon Kai." Pinta Risa memohon.
Kaivan tidak menyahut, ia menepis tangan Risa dengan begitu kasar sampai membuat wanita itu terkejut.
"Mbak diam, aku akan mengurus mbak setelah Aditya." Kata Kaivan penuh penekanan.
Wajah Risa berubah pias, ia mendadak tegang dan langsung menjauh dari Kaivan. Wanita itu bahkan berkeringat, tangannya gemetaran mendengar ucapan adik tirinya.
Melihat itu, tentu saja membuat Archie bingung. Pikirannya mulai menangkap jika Risa juga memiliki masalah dengan suaminya.
"Mbak jangan mencoba membela anak mbak ini karena itu tidak berguna, pikirkan saja nasib mbak setelah ini." Ucap Kaivan dengan nada tinggi.
Kaivan kembali menatap Aditya, pria itu mendekat ke arah keponakannya lagi dan mencekiknya.
"Mas, jangan!!" Archie buru-buru mendekat dan memegang tangan suaminya.
"Minggir, Archie. Biarkan saya menghabisi pria itu." Kaivan bicara dengan formal dalam keadaan marah.
"Mas, Adinda sedang hamil. Apa yang akan terjadi padanya jika dia kehilangan suaminya." Ucap Archie memohon.
Mendengar itu, Kaivan lantas menatap istrinya. Ia mengencangkan cekikan nya, namun beberapa saat kemudian ia melepaskannya.
Kaivan mengatur nafasnya, jika saja Archie tidak ada maka Kaivan kemungkinan akan membunuh Aditya.
"Mas, maaf. Aku tidak bermaksud untuk memaafkan Aditya, tapi adikku sedang hamil dan dia butuh suaminya." Ucap Archie lalu memeluk suaminya.
Nafas Kaivan masih memburu, pria itu lantas membalas pelukan istrinya dengan mata terpejam. Kaivan berusaha menurunkan emosinya saat ini.
"Kai, pergi dari rumah saya. Kamu tidak berhak membuat keributan disini." Usir Anto setelah sejak tadi hanya diam.
Kaivan menatap kakak iparnya. "Tidak akan, Mas. Saya tidak akan pergi sebelum membuat anak dan istri mas menerima ganjarannya." Sahut Kaivan menolak.
Risa semakin gelagapan, sementara Anto dan Aditya kebingungan mendengar ucapan Kaivan yang membawa-bawa nama Risa.
"Om bisa menyalahkan, bahkan memukulku, tapi tidak dengan mama. Mama tidak bersalah!!" Aditya menegur di tengah rasa sakitnya.
"Diam!" Bentak Kaivan.
"Ibumu ini bersalah, dia sengaja memalsukan hasil tes genetik saya untuk memisahkan saya dengan Archie." Tambah Kaivan dengan lantang.
Kaivan lalu menatap Risa. "Benar kan? Mbak yang sengaja memalsukan data laporan saya?" Tanya Kaivan.
"Kai, mbak hanya … mbak hanya ingin kamu tahu bahwa Archie bukan wanita baik-baik." Jawab Risa gelagapan.
"Dia bukan wanita baik-baik, karena itulah Aditya memilih adiknya." Tambah Risa sembari menunjuk ke arah Archie.
Archie terkejut. "Tante?" Archie tidak menyangka jika Risa akan berkata demikian.
"Cukup, kalian semua sama saja. Mbak dan Aditya adalah orang yang jahat, dan mama papa harus tahu ini." Ujar Kaivan dengan berteriak.
Aditya dan Risa semakin panik saja, jika mama Fia dan papa Jefry tahu tentang hal ini maka mereka pasti akan habis.
"Jika saja mbak bukan anak papa Jefry, maka aku pasti sudah menghabisi mbak. Dan Aditya …" Kaivan menggantung ucapannya lalu menatap Aditya.
"Jika saya bukan karena Archie yang memikirkan adiknya, hari ini saya sudah melenyapkan kamu. Berterima kasih lah pada istri saya." Tambah Kaivan dengan pasti.
Aditya tiba-tiba tertawa dengan lepas, hal itu tentu saja membuat semua orang disana bingung tidak terkecuali Kaivan.
"Om tidak sadar diri sekali ya, ingat. Jika bukan karena aku, om tidak mungkin menikahi Archie." Ucap Aditya penuh ejekan.
"Archie bersedia menikah dengan om bukan karena cinta, bahkan sampai sekarang pun istri yang om banggakan itu masih mencintaiku." Tambah Aditya.
"Archie itu mantan kekasihku, dia bekasku." Semakin lantang suara Aditya.
Archie mengepalkan tangannya, ia lekas mendekati Aditya lalu menampar wajahnya dengan keras.
"Cukup, Dit. Setidak berguna itu mulut kamu sampai-sampai melontarkan kalimat bodoh." Ucap Archie dengan mata berkaca-kaca.
"Aku bukan bekas siapa-siapa, aku tidak pernah sudi di sentuh kamu sejak dulu, sekarang dan sampai kapanpun. Dan aku mencintai mas Kaivan, suamiku." Tambah Archie tidak kalah lantang.
Kaivan ikut mendekat, ia memegang kerah baju Aditya lalu menariknya hingga pria itu terdorong ke depan.
"Justru itu, wanita sebaik Archie tidaklah cocok untuk pria tidak berguna dan pengkhianat sepertimu." Ucap Kaivan penuh penekanan lalu mendorong Aditya untuk yang kesekian kalinya.
"Hentikan ini semua, sudah cukup keributan yang kalian ciptakan. Pergi dari rumah saya!!" Usir Anto dengan penuh amarah.
Kaivan menatap kakak iparnya. "Baik, kami akan pergi, dan bersiaplah untuk melepas istri mas itu. Aku akan membawa kasus ini ke jalur hukum." Ujar Kaivan tegas.
Setelah mengatakan itu, Kaivan pun menarik tangan istrinya untuk pergi dari sana. Amarah Kaivan kali ini masih bisa dikendalikan, jika saja tidak ia akan membunuh dua orang sekaligus hari ini.
COBA NGGAK ADA ARCHIE, PASTI SUDAH CO.ID TUH 😪😪
Bersambung..............................................