
Archie benar-benar bahagia begitu mendengar kabar dari adiknya tentang lamaran dari Zayn yang sudah diterima oleh Adinda.
Dia ingin adiknya bahagia, dan Archie yakin jika Adinda akan bisa memulai semua kebahagiaan dalam kehidupan pernikahan bersama dengan Zayn.
Kaivan yang sedang bekerja sesekali memperhatikan istrinya yang kegirangan. Dia hanya geleng-geleng kepala melihat hal tersebut.
Untungnya Arkan sudah tidur, atau jika tidak dia akan melihat tingkah menggemaskan maminya yang hanya boleh diklaim sebagai milik Kaivan.
"Mas … mas … mas … aku senang banget, akhirnya Dinda ketemu sama orang yang tepat." Ucap Archie sembari duduk di sebelah suaminya.
Kaivan mengangkat tangannya, lalu membawanya untuk merangkul bahu sang istri. Pria itu juga sedikit menariknya sehingga membuat Archie langsung menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
"Mami Archie gemesin banget sih!!!" Bisik Kaivan, kemudian mencium kening istrinya.
"Aku senang, Mas. Senang banget malah, adikku akhirnya bisa bahagia." Sahut Archie masih dengan senyumannya yang begitu manis.
"Setelah apa yang Adinda lakukan, kamu masih begitu peduli pada kebahagiaannya. Hati kamu terbuat dari apa, hmm?" Kaivan mengusap dagu istrinya.
"Dari cintanya mas Kaivan." Jawab Archie bergurau.
Kaivan terkekeh, dia menduselkan kepalanya ke leher Archie karena merasa lucu dengan ucapan dari istrinya.
"Maminya Arkan memang baik, untung udah duluan aku milikin." Ujar Kaivan sembari mengacak-acak rambut istrinya.
Archie hanya tersenyum. Wanita itu makin menduselkan kepalanya ke dada bidang sang suami. Jika malam hari begini, memang cocok bermesraan.
"Tidur yuk, Mas." Ajak Archie dengan kepala mendongak sedikit.
"Kamu udah ngantuk?" Tanya Kaivan balik.
Nada bicara yang lembut selalu membuat Archie bahagia. Sangar sederhana bukan?
"Kamu tahu nggak sih, dulu aku mikir nggak pantes untuk ada di samping." Kata Archie tiba-tiba.
"Nggak apa-apa, kalo nggak pantes di samping aku ya tinggal di pangku." Sahut Kaivan bergurau.
Archie tertawa, bahkan tawanya sukses membuat Arkan terkejut dan bergerak sedikit.
"Arkan sampe kaget maminya ketawa gitu." Ucap Kaivan sambil tertawa meledek istrinya.
Archie tertawa pelan. "Makanya ayo tidur!" Ajak Archie lagi dengan manja.
Kaivan mengangguk kecil. Dia lekas menggendong tubuh istrinya, lalu membawanya menuju ranjang king size milik mereka.
"Peluk, Mas …" pinta Archie merentangkan kedua tangannya.
Kaivan berbaring di sebelah Archie, menarik selimut untuk mereka berdua. Pasangan suami istri itu tidur dengan posisi saling berpelukan.
"Malam, Mas." Ucap Archie lalu mencium rahang suaminya.
"Malam juga, Sayangku." Balas Kaivan dengan kecupan manis di puncak kepala Archie.
Jam baru menunjukkan pukul 9 malam, namun karena Archie sedang manja maka Kaivan tidak menolak untuk diajak tidur, padahal pekerjaan Kaivan masih cukup banyak.
Demi istri, Kaivan pasti melakukannya.
Sementara itu di tempat lain. Tampak seorang gadis sedang berjalan di trotoar usai membeli nasi goreng dekat kostnya.
Tidak terlalu jauh, tapi juga tidak terlalu dekat. Karin nekat jalan kaki demi menikmati malam.
"Lho lhoo lhoo kok gerimis!!" Karin tiba-tiba saja kaget begitu gerimis turun membasahi bumi.
"Sampai jam berapa kira-kira ya ini hujan, apa aku bablas aja??" Karin bergumam, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Karin menghela nafas. Dia akhirnya memutuskan untuk menunggu selama 15 menit saja disana. Gadis itu menatap nasi gorengnya dengan nanar.
"Enak banget nih makan nasi goreng, kalo tahu hujan mending tadi makan di tempat aja." Ucap Karin seorang diri.
Setelah 15 menit dan hujan belum juga berhenti, Karin akhirnya memutuskan untuk bablas saja. Dia akan hujan-hujanan.
Satu hal yang terpenting adalah, memasukkan nasi goreng ke bajunya agar tidak basah banget. Benar-benar kan, melindungi nasi goreng sementara seluruh tubuhnya basah kuyup.
"Basah dikit nggak ngaruh." Celetuk Karin sambil tertawa-tawa.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba saja ada bunyi klakson mobil. Karin berhenti sejenak dan memperhatikan baik-baik mobil itu.
Karin mengenalnya.
"Masuklah." Ucap orang di dalam mobil.
Karin menggelengkan kepalanya. "Nggak usah, Dok. Saya jalan aja, lagian nggak terlalu jauh kok." Tolak Karin.
"Kamu bisa sakit, Karin. Masuk saja, saya antar kamu pulang." Aldavi kembali bicara, bahkan pria itu sudah membuka pintu mobilnya tanpa keluar mobil.
Karin menatap ragu, namun akhirnya gadis itu pun masuk ke dalam mobil dalam kondisi basah kuyup.
"Mobil anda jadi ikut basah, Dok." Ucap Karin, gadis itu merasa tidak enak.
Aldavi tidak menyahut, pria itu malah menyampaikan jaket denim miliknya ke bahu Karin.
"Dok??" Karin terkejut, dia menatap Aldavi dengan tatapan bingung.
"Kamu bisa masuk angin, lagian dari mana sih?" Tanya Aldavi sembari mengubah posisi duduknya agar nyaman menyetir.
Karin menunjukkan bungkus nasi gorengnya. "Beli nasgor, Dok. Niatnya sekalian jalan-jalan, eh malah hujan." Jawab Karin.
"Dokter sendiri kok tumben lewat sini?" Tanya Karin tiba-tiba.
"Eh, saya … saya tadi habis ketemu teman." Jawab Aldavi gelagapan.
Karin manggut-manggut dengan polos. Tentunya ia percaya saja dengan ucapan Aldavi barusan.
Tidak ada pembicaraan di dalam mobil. Karin diam, begitupun sebaliknya.
Jarak menuju kost Karin memang tidak jauh, namun karena beberapa kali Aldavi berpapasan dengan mobil lain, membuatnya lebih membutuhkan banyak waktu.
Aldavi sesekali melirik Karin. Dalam keadaan basah kuyup, Karin terlihat lebih cantik.
Akhirnya Aldavi berhasil mengantar Karin sampai di depan kostnya. Gadis itu hendak keluar, namun ia teringat akan jaket denim milik Aldavi.
"Jaketnya saya cuci dulu ya, Dok. Nanti saya antar ke rumah anda, ini basah soalnya." Kata Karin.
Aldavi tidak menjawab, pria itu malah mengulurkan tangannya untuk memegang wajah Karin. Kemudian tanpa permisi dia mencium kening gadis itu.
Tubuh Karin menegang. Dia tersadar, lalu mendorong Aldavi menjauh darinya. Tanpa bicara apapun, Karin langsung keluar dari mobil pria itu.
"Ck, bodohhh!!!" Geram Aldavi memukul stir mobilnya.
WAHHH DOKTER 😜🙈
Bersambung..................................