Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Kenapa saya harus menikahi kamu?


Karin menatap nomor yang mengirimkannya pesan dengan kening mengkerut. Isi pesan itu bukan tagihan apalagi pesan penyitaan, melainkan caci maki yang Karin sendiri tidak paham.


Karin menghela nafas. "Ini siapa ya yang ngirim, kurang kerjaan." Balas Karin, lalu lekas mengirim pesan itu tanpa ragu.


Karin meletakkan ponselnya sembarangan. Ia lalu memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang sangat menumpuk hari ini.


Karin malas meladeni pesan-pesan aneh tanpa menyebutkan identitas. Ditambah lagi, bagian foto profilnya kosong, seperti seorang kriminal saja.


Sedangkan namanya? Sangat tidak jelas. Adv. Apa itu, Karin tidak mengerti sama sekali, ia pusing.


Sudah pusing dengan pekerjaan sendiri, ditambah lagi dengan pesan anonim yang membuatnya ingin ngereog saja.


"Ternyata jadi sekretaris capek, tapi gajinya bikin full senyum apalagi di kantor ini." Gumam Karin sembari mengetik kata demi kata di komputernya.


Ponsel Karin tiba-tiba Bergetar, bahkan beberapa kali sampai Karin bisa merasakan getarannya.


Memang, jika sedang bekerja ia selalu menggunakan mode getar. Alasannya tentu saja agar tidak mengganggu pekerjaannya, terutama saat meeting.


Ini diajarkan oleh Archie sebenarnya dan Karin sangat mengingat bahkan mempraktekkan ajaran Archie.


Karin hendak memeriksa ponselnya, namun tanpa sengaja ia melihat email yang masuk dan itu tentu saja tentang pekerjaan.


"Surat undangan peluncuran produk." Gumam Karin melihat surat masuk yang nantinya akan ia rekap bersama surat-surat lainnya.


Karin lalu bangkit dari duduknya, ia mencetak surat itu lalu lekas membawanya masuk ke dalam ruangan sang atasan.


"Siang, Pak. Ini surat undangan dari butik ibu Gita." Ucap Karin memberitahu lalu menyodorkan surat itu dengan sopan.


Kaivan yang sedang mengetik lantas mengalihkan pandangannya. Ia menerima surat itu dan mulai membacanya.


"Baik, saya akan datang bersama istri saya. Kamu juga bisa datang." Ucap Kaivan tanpa menatap Karin.


Surat undangan itu dari mama Gita, ibu mertuanya yang merupakan seorang designer. Dan saat ini mama Gita akan membuka cabang butiknya yang kesekian.


Bisa saja mama Gita mengundang secara langsung, namun karena perusahaan Kaivan termasuk investor yang membantu menambahkan biaya, maka mama Gita harus mengundang Kaivan dengan resmi.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." Pamit Karin lalu lekas keluar dari ruangan atasannya itu.


Karin tidak membacakan jadwal Kaivan karena sebelumnya sudah ia lakukan. Dan lagi, ini sudah hampir masuk jam makan siang.


"Masih ada 10 menit, kayaknya bisa selesaikan ini dulu baru makan." Ucap Karin dengan semangat demi cuan.


Ketika Karin hampir selesai, tiba-tiba ada yang mengetuk meja kerjanya. Karin mendongakkan kepalanya lalu tersenyum.


"Mbak Archie!!" Pekik Karin begitu bahagia.


"Gimana kerjaan kamu?" Tanya Archie dengan rasa penasaran.


"Gitu deh, Mbak. Makin banyak dan agak buat pusing." Jawab Karin dengan jujur.


Karin mungkin baru mengenai Archie, akan tetapi ia sudah cukup mengenal jika wanita itu sangat baik dan tulus.


Archie hendak menyahut, namun tiba-tiba saja pintu ruangan Kaivan terbuka. Hanya kepala Kaivan dan dasinya yang keluar.


"Sayang …" panggil Kaivan dengan mata yang melotot gemas.


Kaivan menegur istrinya, sebab sekarang Archie datang sebagai istri dan bukan sekretaris. Tidak seharusnya Archie membantu Karin.


"Masuk, Sayang. Aku udah laper." Ucap Kaivan dengan sedikit manja.


Karin sudah tidak aneh lagi melihat sikap atasannya itu yang sangat berbeda dengan dirinya atau karyawan lain. Ketika bersama dengan istrinya, Kaivan manja dan manis.


Archie menghela nafas. Ia menatap Karin lalu tersenyum sembari mengangkat sebelah tangan untuk menyemangati gadis itu.


Karin pun memilih untuk bersiap istirahat, ia mengambil bekal makan siangnya itu untuk dipanasi di pantry.


Sementara di ruangan Kaivan. Archie menyiapkan makan siang suaminya dengan telaten. Meski ini bukan masakannya karena Kaivan melarang, namun ia tetap harus bangga.


"Makan dulu, aaa …" ucap Archie sembari menyodorkan makanan ke dalam mulut Kaivan.


Kaivan, si bos tegas dan dingin berubah menjadi pria seperti anak kecil yang sangat manja dengan ibunya.


Kaivan membuka mulut dan langsung mengunyah makanan yang istrinya suapi padanya.


"Enak banget." Puji Kaivan lalu mencium pipi istrinya.


"Ck, enak-enak malah kiss." Ujar Archie dengan wajah ditekuk gemas.


Kaivan tertawa. "Yaudah, aku kiss baby melon saja." Kaivan menundukkan kepalanya, lalu mencium perut istrinya itu.


"Aku nggak mau di kiss papa." Celetuk Archie menirukan suara anak kecil.


Kaivan mengangkat wajahnya, ia tanpa permisi langsung menciumi wajah cantik istrinya sampai membuat Archie memekik protes.


"Bos nakal." Cibir Archie.


"Enak saja, aku suami kamu." Balas Kaivan sewot.


Archie hanya terkekeh melihat ekspresi wajah suaminya. Sangat menggemaskan dan berbeda dengan dulu.


Dulu jangankan tertawa bersama, rasanya haram sekali bagi Kaivan untuk menegur atau membalas sapaannya.


Sementara itu di pantry. Karin membawa makanan yang sudah ia panaskan dengan hati-hati karena kuah sop nya terlalu banyak.


Karin hampir sampai di meja kerjanya, namun tiba-tiba ada yang menyenggolnya sehingga kuah panas itu mengenai kakinya.


"Awwww …" ringis Karin kesakitan.


"Ya ampun Karin, maaf ya. Aku nggak sengaja, aku bawa kamu ke klinik kantor ya." Ucap orang itu.


"Nggak, Kak. Nggak usah, aku nggak apa-apa kok." Tolak Karin menggeleng-gelengkan kepalanya.


Karin pun berjalan tertatih ke arah meja kerjanya. Ia bersyukur karena mangkok nya tidak jatuh apalagi pecah.


"Bodoh." Cibir seseorang tiba-tiba.


"Anda! Apa maksud perkataan anda itu?!" Tegur Karin dengan marah.


Aldavi mendekati meja Karin lalu hendak memukul meja itu namun ia tidak berani dan masih bisa menahannya.


"Apa yang kamu katakan pada mama saya heuh?" Tanya Aldavi dengan nada tidak mengenakkan.


"Apa sih, nggak jelas." Bukannya menjawab, Karin malah mendesis.


"Saya cuma ngaku kalau saya injak kaki anda." Tambah Karin menjelaskan.


"Bohong!" Sahut Aldavi menyangkal.


"Jika kamu bilang itu, lalu kenapa mama saya menyuruh saya untuk menikahi kamu!!" Tambah Aldavi dengan penuh amarah.


"Hah?!" Karin melongo mendengar ucapan Aldavi barusan.


WAYULUHHHHH😭🙈


Bersambung..............................