Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Nggak mungkin!!


Setelah mendapatkan penolakan dari Kaivan, Aldavi akhirnya berenang sendiri. Pria yang merangkap sebagai dokter itu berenang tanpa menggunakan baju, hanya celana selutut saja.


Aldavi berenang dari ujung ke ujung, terus bolak-balik. Villa tampak sepi sehingga hanya terdengar suara kecipak air kolam.


Kenapa sepi? Jawabannya karena Kaivan mengajak istrinya keluar villa dan berkeliling di sekitar.


Aldavi tidak tahu dimana keberadaan Karin dan Adinda, ia tidak mau memikirkan dan lebih memilih menikmati kegiatannya saat ini.


"Mbak Archie, hari ini kita sarapan–" ucapan seorang gadis terhenti bersama langkahnya yang juga terhenti.


Karin, gadis itu mematung di tempatnya begitu melihat Aldavi yang sedang berenang sendirian.


Tatapan Karin dan Aldavi saling beradu, namun sesaat kemudian Karin buru-buru membalik badan untuk menghindari pemandangan Aldavi.


"Archie dan Kaivan sedang keluar." Kata Aldavi memberitahu.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Balas Karin hendak pergi, namun terhenti.


Aldavi menghentikan langkah Karin. "Karin, bisa tolong ambilkan saya handuk? Saya lupa membawanya." Kata Aldavi.


Karin menelan gumpalan salivanya. Tanpa berkata apapun, Karin langsung masuk ke dalam villa.


Aldavi pikir Karin menolak mengambilkan nya handuk, namun tidak lama kemudian gadis itu kembali membawa handuk berwana pink.


Karin menatap ke arah lain sambil berusaha mendekati Aldavi. Dia tidak mau melihat sesuatu yang tidak seharusnya.


"Merah muda? Darimana handuk ini?" Tanya Aldavi mengerutkan keningnya.


"Ini handuk punya saya, Dok. Saya tidak tahu handuk anda dimana, jadi saya ambil yang ada saja." Jawab Karin tanpa Aldavi.


Aldavi menghela nafas. Dia lekas mengangkat bobot tubuhnya sendiri dan duduk di pinggir kolam.


Aldavi hendak mengambil handuk dari tangan Karin, namun malah memegang tangan gadis itu tanpa sengaja.


Karin tersentak, dia reflek menatap Aldavi yang juga menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Dua orang berbeda jenis itu kini terpaku dengan tatapan masing-masing.


Langit yang awalnya cerah tiba-tiba saja mendung dan berangin dan membuat rambut panjang Karin berterbangan.


Tanpa sadar, Aldavi mengulurkan tangannya untuk merapikan rambut Karin. Dia membawa helaian rambut itu dan menyelipkannya ke belakang telinga.


Karin terkejut, namun entah apa yang ia rasakan sampai dia tidak menolak.


"Cantik." Batin Aldavi sembari terus memperhatikan wajah Karin.


Tangan Karin yang memegang handuk pun terangkat dan berniat untuk menyeka air di wajah Aldavi, namun semuanya tiba-tiba saja terhenti.


"Apa? Apa yang aku lakukan!!" Batin Karin ketika melihat cincin di jari manisnya.


Karin menjatuhkan handuknya begitu saja, kemudian bangkit dan menjauh.


"Maaf, Dok." Kata Karin lalu lekas masuk ke dalam villa.


Sedangkan Aldavi. Pria itu juga terdiam dan sadar dengan apa yang dia lakukan. Dia menyentuh rambut Karin, bahkan sempat terpesona dengan wajah gadis itu.


"Apa-apaan ini, apa yang aku lakukan. Kenapa pikiranku tidak sadar tadi." Gumam Aldavi lalu mengacak-acak rambut basahnya.


Benar, Kaivan tidak berdua saja dengan istrinya melainkan dengan Adinda juga. Adinda ikut setelah dipaksa oleh Archie, dan tidak ada yang bisa menolak permintaan sang ibu hamil.


"Karin, dokter Aldavi!!" Panggil Archie berteriak.


Tidak lama kemudian Karin keluar dengan wajah yang resah, namun berusaha untuk tetap tersenyum.


"Mbak, aku cari-cari. Kirain kemana, kak Adinda juga nggak ada soalnya." Ucap Karin dengan senyuman yang masih terpatri di wajahnya.


"Aku sama mas Kai ajak Dinda keliling. Tadi mau ajak kamu, tapi kamu masih pulas kata Dinda." Jelas Archie sembari duduk di sofa yang ada disana.


"Iya, Rin. Aku tadi mau bangunin nggak tega. Kamu juga baru bangun kan?" Tanya Adinda, dan Karin menjawab pertanyaan itu dengan anggukkan kepala.


"Sayang, sepertinya Aldavi masih berenang. Aku lihat dia dulu ya, sekalian mau ikutan berenang juga." Ucap Kaivan tiba-tiba.


Archie mendongak, lalu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


"Iya, Mas. Nanti aku bawain jus sama sarapannya ya." Balas Archie.


Kaivan balas tersenyum, ia menunduk lalu mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang, kemudian pergi.


"Yaudah yuk, kita masak." Ajak Archie sembari bangkit dari duduknya.


Adinda mengikuti langkah Archie menuju dapur, sedangkan Karin terdiam sebentar sembari memegangi dadanya.


"Nggak, Karin. Nggak boleh! Kamu nggak boleh kayak gini." Gumam Karin sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Karin!!" Archie memanggil, dan Karin buru-buru datang ke asal suara.


Sedangkan di kolam renang. Tampak Kaivan tertawa pelan melihat sahabatnya yang melamun sambil memegangi handuk berwarna merah muda.


"Sejak kapan dokter ini suka warna pink?" Tanya Kaivan meledek.


Aldavi tersadar. Dia menoleh ke arah Kaivan dengan tatapan penuh permusuhan.


"Ini bukan punya gue, tapi punya si Karin." Jawab Aldavi dengan sewot.


Tawa Kaivan seketika terhenti mendengar jawaban dari sahabatnya. Dia lantas menatap pria itu dengan serius.


"Handuk? Punya Karin?" Beo Kaivan memastikan.


"Bawel banget kayak juri masak." Ketus Aldavi.


"Gila, gue tinggal berdua sama Karin bentaran doang udah saling tukar handuk aja lo. Jangan bilang terjadi aneh-aneh?" Tebak Kaivan dengan was-was.


"Nggak lah, gue masih waras." Sahut Aldavi lalu beranjak dari duduknya.


"Beneran nggak terjadi apa-apa? Tapi kok di Karin mukanya panik banget tadi?" Tanya Kaivan menyipitkan matanya.


Langkah Aldavi terhenti. Seketika ia teringat dengan yang terjadi antara dirinya dan Karin beberapa saat lalu.


"Nggak mungkin, mustahil gue tertarik sama gadis itu. Cihh, nggak mungkin!!" Batin Aldavi menggelengkan kepalanya.


CIH CIH CIH, LO SUKA EGE DOK SAMA KARIN😭🤣


Bersambung................................