Dinikahi Om Kekasihku

Dinikahi Om Kekasihku
Memperhatikannya


Karin sibuk di meja kerjanya. Tangannya yang lentik begitu cekatan mengetik tiap kata dan kalimat yang diperlukan.


Jam makan siang sudah berlalu, dan kini semua karyawan di tekan kembali bekerja sebelum coffe break pukul 3 sore nanti dan dilanjutkan pekerjaan sampai pulang.


Karin menghela nafas, dia mengambil sisa minuman yang ia beli saat istirahat tadi dan menyedot nya hingga tandas.


"Udah abis aja ini kopi." Gumam Karin lalu bangkit dari duduknya.


Karin melangkah, mendekati tempat sampah yang ada di samping kiri meja kerjanya.


Karin menunduk untuk memastikan jika sampah bekas kopi itu masuk sempurna ke dalam tempatnya. Ketika itu, dia terkejut melihat sepasang sepatu di depannya.


Karin lantas mengangkat wajahnya dan melihat pria dengan setelah casualnya berdiri di depannya.


"Kaivan ada?" Tanya pria itu dengan wajah dinginnya seperti biasa.


"Maaf, Dok. Pak Kaivan nggak ada, dia pulang sebelum jam makan siang dan nggak balik lagi." Jawab Karin menjelaskan.


Aldavi menghela nafas. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel mahal miliknya.


"Baterai ponsel saya habis, boleh numpang charger?" Tanya Aldavi.


"Boleh." Karin menerima ponsel itu dan lekas menghubungkannya dengan charger.


"Pinjam hp kamu, saya mau telepon Kaivan. Bisa-bisanya dia pulang setelah buat janji dengan saya." Aldavi mengulurkan tangannya meminta.


Karin gelagapan, dia lekas mengambil ponselnya dan memberikannya pada Aldavi.


Aldavi menatap lock screen milik Karin, dimana itu adalah fotonya yang membelakangi kamera dan tengah membuka kedua tangannya lebar di pantai.


"Password?" Aldavi kembali bertanya.


"Tangga pertunangan saya." Jawab Karin lalu hendak mengambil ponselnya, namun terhenti begitu Aldavi bisa membukanya sendiri.


Seketika banyak pertanyaan di kepala Karin. Aldavi tahu tanggal pertunangannya? Pria itu mengingatnya? Tapi bagaimana bisa??


Lamunan Karin dengan banyak pertanyaan terhenti begitu mendengar suara Aldavi yang bicara dengan Kaivan.


Nomor Kaivan memang mudah ditemukan karena Karin menamainya 'Atasan, pak Kaivan'.


Setelah beberapa saat bicara, Aldavi mengulurkan tangannya dan memberikan ponselnya kembali kepada sang pemilik.


"Aldavi memintamu membawakan dokumen kerja sama yang perlu dia tanda tangani." Ucap Aldavi.


"Hah?! Oh iya baik, akan saya bawa ke rumahnya nanti." Karin menyahut dan menerima ponselnya kembali.


"Sekarang." Aldavi bicara lagi.


Karin hendak menyahut, namun Aldavi sudah kembali bicara dan memotong ucapannya.


"Sekarang dengan saya." Tambahnya.


"Maksudnya, Dok?" Tanya Karin.


"Saya mau ke rumah Kaivan, mungkin sekalian saja dengan kamu." Jawab Aldavi memberitahu.


"Tidak usah, Pak. Kantor ini memfasilitasi seorang sopir, saya bisa berangkat dengan sopir kantor." Tolak Karin dengan cepat.


"Terserah padamu saja." Aldavi menyabut ponselnya yang baru beberapa menit di charger.


"Terima kasih untuk charger nya." Usai mengatakan itu, Aldavi langsung pergi dari sana.


Karin membuang nafasnya. Dia lekas bersiap untuk pergi ke rumah atasannya dan mengatakan dokumen yang diperlukan.


Karin tadi sudah mau memberikan dokumen itu pada Kaivan, namun atasannya itu sudah pulang duluan sebelum ia sempat bicara.


Karin memaklumi. Kaivan baru menjadi seorang ayah, dan sudah pasti ingin selalu dekat dengan putranya.


Sementara itu di rumah Kaivan. Tampak pria itu sedang menimang putranya sambil terus menciuminya.


"Arkan, anak kesayangan papi. Lihat tuh mami tidur pulas banget, mami pasti kecapean urus kita." Celetuk Kaivan sembari mendekati istrinya.


Kaivan duduk di pinggir ranjang, memperhatikan wajah Archie yang begitu tenang.


"Mami cantik ya, Nak. Makanya papi cinta banget sama mami kamu. Sejak ada mami, kebahagiaan papi nggak ada habisnya, apalagi sekarang ada kamu." Bisik Kaivan sembari menatap Archie dan putranya bergantian.


Kaivan merebahkan Arkan di sebelah Archie, kemudian dirinya ikut berbaring. Arkan di tengah, membuat keluarga itu terlihat harmonis sekali.


"Sayang banget sama kalian." Ungkap Kaivan sungguh-sungguh.


Kaivan hendak memejamkan matanya. Namun tiba-tiba pintu kamarnya diketuk yang membuat Kaivan lekas bangun dan membukanya.


"Kai, Archie masih tidur ya? Dia belum makan apapun dari pagi, kasihan." Ucap mama Fia.


"Belum makan, Ma? Kok bisa?" Kaivan terkejut.


Mama Fia memberikan nampan berisi makanan itu pada Kaivan.


"Nanti kalo Archie bangun, kamu suruh makan ya. Mama mau ke kamar dulu." Tutur mama Fia.


Mama Fia pun pergi, dan membuat Kaivan kembali masuk. Dia meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja.


Kaivan mendekati Archie, lalu mencium kening dan pipinya dengan gemas.


"Masss …" Archie merengek dengan mata terpejam.


"Bangun sayang, kamu belum makan kan." Bisik Kaivan sembari terus menciumi istrinya.


Perlahan Archie membuka matanya. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali dan membuat Kaivan terkekeh.


Archie bangun, dia melirik ke samping dan menemukan putranya yang pulas dalam tidurnya. Wanita itu menunduk, mencium baby Arkan.


"Kenapa belum makan sih, Sayang? Kamu ibu menyusui, harus banyak asupan nutrisi." Kaivan bicara sembari duduk di sofa.


"Sini makan dulu, aku suapin." Ucap Kaivan sembari menepuk sofa di sebelahnya.


Archie turun. Dia mendekati Kaivan dan duduk di sebelah suaminya itu.


Archie akhirnya makan sambil dirinya menyuapi sang suami. Kaivan sendiri sudah makan, namun dia tidak bisa menolak jika Archie menyuapinya.


***


Karin sampai di rumah atasannya. Dia lekas masuk usai di persilahkan oleh asisten rumah tangga atasannya.


Ketika sampai, dia melihat Aldavi juga ada disana sedang bicara dengan Kaivan.


"Kan saya suruh dokumennya titip Aldavi aja, Rin. Daripada kamu jauh-jauh kesini." Kata Kaivan.


Karin mengerutkan keningnya. Dia lalu menatap Aldavi dengan bingung. Pria itu tadi tidak bicara jika bisa menitipkan dokumennya saja daripada pergi sendiri.


"Nggak apa-apa, Pak. Sekalian saya mau liat si ganteng." Sahut Karin sembari meletakkan dokumen itu dengan sopan.


Tidak lama kemudian Archie datang menggendong Arkan.


"Eh ada aunty Karin …" Archie mendekat dan duduk di sebelah suaminya.


"Halo tampan, ya ampun gemesin banget sih kamu Sayang!!" Karin gemas.


Karin dan Archie pun sibuk menggoda Arkan. Tanpa Karin sadari jika Aldavi memperhatikan dirinya.


"Jangan diperhatiin, punya orang." Bisik Kaivan.


Aldavi berdecak, lalu memutar bola matanya dengan malas.


Bersambung.........................