
Karin menggelengkan kepalanya berkali-kali ketika bayangan yang melintas di kepalanya dengan tidak sopan.
Gadis itu seketika menoleh ketika sang mama menepuk bahunya. Karin kemudian beralih menatap ke depan dimana ada keluarga pak RW termasuk pria yang mau dijodohkan dengannya.
Karin menghela nafas, ia lalu menatap ke arah pintu rumahnya. Tidak ada siapapun disana. Sialan sekali memang pikirannya yang tadi sempat membayangkan jika Aldavi datang.
"Apa-apaan ini, aku malah mengharapkan jika dokter Davi akan datang bersama ibunya. Duhh, kepalaku." Batin Karin lalu memukuli kepalanya sendiri.
"Karin, ada apa Nak?" Tanya ibunya Karin dengan lembut.
Karin menoleh lalu menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum dengan lebar mendengar pertanyaan dari sang mama.
"N-nggak apa-apa, Ma. A-aku hanya bingung." Jawab Karin gugup.
"Jadi gimana, Nak Karin? Mau menerima lamaran Yogi kan?" Tanya Bu RW dengan wajah berseri-seri.
Siapa yang tidak kenal dengan Karin. Anak yang kuliah dan bekerja di kantor besar sehingga namanya cukup terkenal di kampungnya.
Banyak yang menginginkan Karin untuk menjadi menantu, namun hanya keluarga pak RW yang diterima ibunya Karin karena mereka keluarga kaya raya.
Keluarga pak RW menjanjikan akan memberikan sebuah rumah mewah untuk ibunya Karin jika memang dia bersedia menikahkan putrinya dengan putra RW.
"Karin, jawab. Kamu mau kan menerima lamaran nak Yogi?" Tanya mama Karin sembari memegang bahu putrinya.
Bukan hanya memegang, tapi juga sedikit memberikan penekanan sehingga menimbulkan rasa sakit bagi Karin.
Karin menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. "Ma, sakit." Cicit Karin dengan sangat pelan.
Mama Karin melototkan matanya, seakan memberikan ancaman pada putrinya jika dia berani menolak.
Karin menggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia tidak bisa menerima perjodohan yang dilakukan secara tiba-tiba itu.
"Ma, aku mohon." Pinta Karin lagi dengan nada bicara yang sangat pelan.
"Ada apa, Bu?" Tanya pak RW ketika melihat ibu dan anak malah bisik-bisik.
Ibunya Karin menoleh dengan tawa garing, lalu menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau menunjukkan bahwa dia marah.
"Nak Karin mau kan?" Tanya ibu RW lagi untuk yang kesekian kalinya.
Karin menundukkan kepalanya. Dia memainkan tangannya sendiri lalu mengangguk patah-patah.
"I-iya, aku mau." Jawab Karin dengan mata terpejam.
Karin menjawab dengan mata terpejam, di dan tangan mengepal. Dia menakan rasa penolakan yang menggebu-gebu.
"Aku mau menikah asalkan tidak dalam waktu dekat, aku masih ingin mengejar pendidikan dan karirku." Ucap Karin lagi dengan tegas.
Wajahnya yang tadi menatap ke bawah kini terangkat dan memberikan kesan tegas pada semua orang yang ada di sana.
"Jika memang anak ibu dan bapak siap menunggu, aku mau. Tapi jika tidak, aku juga tidak bisa menerima perjodohan ini." Tambahnya.
"Karin!" Tegur ibunya dengan kesal, dia bahkan sampai memukul tangan putrinya.
"Nggak apa-apa, Bu. Aku akan menunggu Karin, aku siap menunggu karena Karin butuh waktu untuk mengejar pendidikan dan karir kan. Aku siap asal dia bisa setia dan memegang ucapannya sendiri." Ucap Yogi dengan yakin.
"Tapi Karin, aku juga mau kita tunangan lebih dulu agar kamu terikat denganku dan tidak menjalin hubungan dengan pria lain." Tambah Yogi ikut mengajukan sebuah persyaratan.
"Kami setuju, lebih baik kalian tunangan saja dulu. Pernikahan bisa digelar saat Karin sudah lulus kuliah." Kata bu RW dengan riang.
"Iya, saya juga setuju." Sahut ibunya Karin.
"Jika begini kamu mau kan? Kamu dan nak Yogi tunangan dulu?" Tanya wanita itu pada Karin.
Karin menganggukkan kepalanya patah-patah tanda bahwa ia sendiri tidak yakin dengan ucapan dan keputusasaannya.
"Aku memang nggak ditakdirkan untuk dokter Davi." Batin Karin lalu membuang nafasnya pelan.
Sementara itu di tempat lain, tampak Aldavi duduk dengan wajah masam. Ia di marahi oleh ibunya ketika dia bercerita tentang perjodohan Karin.
"Kamu ini gimana sih, Davi. Seharusnya kamu disana dan bilang kalau kalian sudah punya rencana untuk menikah." Ucap mama Dewiya dengan kesal.
"Ma, itu keputusannya sendiri. Jika Karin saja tidak menolak, apa yang bisa aku lakukan." Sahut Aldavi dengan sedikit kesal.
"Lagian, Ma. 3 bulan itu memang sudah dibuat, tapi bukan berarti Karin tidak boleh menentukan pilihannya. Siapa tau pria itu yang dipilih oleh Karin untuk jadi suaminya." Tambah Aldavi memperjelas.
"Halah, bilang saja kamu yang nggak mau menikah dengan Karin." Balas mama Dewiya ketus.
Mama Dewiya kemudian pergi dari sana dengan kesal, meninggalkan putranya seorang diri.
Aldavi menghela nafas, dia mengusap wajahnya kasar lalu bangkit dari duduknya.
"Jika gadis itu memang ingin menikah dengan anak RW, biarkan saja. Seharusnya mama nggak usah marah." Gumam Aldavi geleng-geleng kepala.
AKU NGETIK DI KERETA GUYS, MONMAAP KALO ADA TYPO😭✌️
Bersambung.......................