
"Hasil tes genetik lo menunjukkan bahwa lo nggak subur, Kai. Lo nggak bisa punya anak." Ucap Aldavi dengan pelan.
Kaivan terdiam seribu bahasa mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia menganggap jika semua ini adalah mimpi.
Laporan tes itu pasti salah. Tidak mungkin Kaivan tidak bisa memiliki seorang anak, sedangkan saat ini istrinya sedang hamil.
"Lo konsumsi obat diluar resep gue kan?" Tanya Aldavi dengan tatapan tajam.
Kaivan membalas tatapan Aldavi dengan mata berkaca-kaca. Nafasnya tidak beraturan karena terlalu syok mendengar laporan sahabatnya.
Jujur saja Kaivan memang pernah melakukan tes ini di rumah sakit. Kenapa Kai melakukannya, karena dia mengkonsumsi obat-obatan yang memiliki dosis tinggi.
Kai ingin memastikan kondisinya, tapi ketika Archie di nyatakan hamil ia pikir semua baik-baik saja, tapi sekarang? Sekarang tiba-tiba saja laporan itu menunjukkan hasil yang bertolak belakang.
"Jawab gue, Kai." Pinta Aldavi seraya bangkit dari duduknya.
"Ya, gue konsumsi obat penenang yang dosisnya lebih tinggi. Itu gue lakuin karena dosis yang lo kasih nggak mempan." Jawab Kaivan dengan jujur.
Aldavi mengepalkan tangannya, ia memegang bahu pria itu bahkan sedikit mencengkram bajunya.
"Gila lo, Kai. Efek konsumsi obat itu yang berlebihan bikin lo jadi gini!!" Aldavi kesal, bahkan sampai bicara dengan berteriak.
"Kesuburan lo berkurang karena efek obat itu, lo nggak bisa punya anak Kai." Lagi, Aldavi mempertegas ucapannya.
"Mustahil." Kaivan bangkit dari duduknya lalu mendorong Davi menjauh.
Aldavi mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan reaksi yang sahabatnya itu tunjukkan.
"Laporan tes ini pasti salah." Ucap Kaivan lagi dengan lantang.
"Maksud lo?" Tanya Davi semakin bingung.
"Kalau laporan tes ini akurat, nggak mungkin istri gue hamil. Istri gue sekarang lagi hamil, Dav. Archie hamil." Jawab Kaivan penuh penekanan.
Kaivan lalu mencengkram kerah baju Aldavi dengan sorot mata yang tajam dan menusuk.
"Apa-apaan sih lo!" Tegur Aldavi.
"Jawab gue, siapa yang nyuruh lo! Dan dibayar berapa lo sampai mau khianatin sahabat sendiri?" Tanya Kaivan dengan penuh amarah.
Mendengar itu Aldavi sontak melototkan matanya, ia lekas mendorong Kaivan menjauh. Davi membenarkan bajunya yang sedikit ketarik karena Kaivan.
"Maksud lo apa? Gue sengaja buat laporan palsu maksud lo?" Tanya Aldavi.
"Pasti begitu. Lo di suruh orang kan, orang yang mau bikin hubungan gue sama Archie hancur?" Tanya Kaivan balik.
"Stress lo, Kai. Gue nggak mungkin melakukan itu, gue bukan penghianat." Jawab Aldavi tidak terima.
"Jadi maksud lo, Archie yang khianatin gue?!" Tanya Kaivan semakin meninggikan nada bicaranya.
Aldavi mengatur nafasnya. "Sebenarnya hasil laporan ini sudah ada di meja gue waktu gue dinas ke Bandung dua hari. Gue nggak tahu menahu soal hasilnya yang akurat atau palsu." Ucap Aldavi.
"Mending lo tes ulang daripada lo curiga sama gue." Tambah Aldavi mengusulkan.
Kaivan meraih kedua kertas yang ada di meja Aldavi. Tanpa bicara apapun, Kaivan langsung merobek kertas itu sampai tidak berbentuk.
"Gue nggak butuh tes ulang atau tes apapun, gue yakin gue sehat dan bisa punya anak. Gue nggak mungkin meragukan kehamilan Archie." Ujar Kaivan tegas.
"Fine, itu hak lo. Gue juga nggak bilang Archie selingkuh, gue tahu dia cewek baik-baik." Sahut Aldavi mengangguk setuju atas keputusan sahabatnya.
Kaivan mengepalkan tangannya, ia harus mencari tahu dalang dibalik ini semua. Kaivan tidak akan tinggal diam setelah orang itu hampir membuat hubungannya dan Archie rusak.
"Ruangan lo pasti punya cctv. Gue butuh rekamannya." Ucap Kaivan dengan nafas yang memburu.
"Kenapa lo nanyain istri gue? Dia ada di apotek." Jawab Kaivan memberitahu.
"Lo tunggu sini, gue keluar sebentar." Kata Aldavi lalu keluar dari ruangannya.
Kaivan sendiri di ruangan itu, ia duduk dengan nafas yang terengah-engah. Kaivan marah, murka dan emosi. Dia ingin melampiaskan amarahnya ini pada sosok yang sudah membuat laporan palsu.
Kaivan sebenarnya yakin jika Davi tidak mungkin melakukan itu. Dia adalah sahabatnya sejak lama, tidak mungkin Davi mengkhianatinya.
Tidak lama kemudian pintu ruangan Aldavi terbuka.
"Mas." Panggil Archie lalu mendekat dan langsung memeluk suaminya.
Kaivan lekas membalas pelukan istrinya. Nafasnya masih terengah-engah dan Archie bisa merasakan itu.
"Mas, kamu kenapa?" Tanya Archie lembut.
Kaivan merasa lebih tenang setelah menerima pelukan dari istrinya. Lagi, hanya Archie yang bisa membuat Kaivan tenang di tengah rasa marahnya.
"Aku nggak apa-apa, Sayang." Jawab Kaivan.
Kaivan tidak mau karena hal tidak penting malah membuat istrinya kepikiran. Kaivan bisa menyelesaikan ini semua sendiri.
Archie melepaskan pelukannya, ia lalu menatap kertas yang sudah tidak berbentuk di lantai. Kertas yang sepertinya sobek.
"Mas, apa yang terjadi? Semuanya baik-baik saja kan?" Tanya Archie.
Kaivan hanya tersenyum, membuat Archie beralih menatap Aldavi untuk meminta jawaban.
"Dokter, suami saya baik-baik saja kan?" Tanya Archie pelan.
"Sebenarnya dia …" Aldavi menggantung ucapannya ketika melihat Kaivan memberi kode gelengan kepala.
"Apa?" Tanya Archie mengerutkan keningnya.
"Kaivan sakit, Archie." Jawab Aldavi.
Archie dan Kaivan berdiri secara bersamaan. Archie dengan tatapan penuh rasa khawatir, sementara Kaivan dengan tatapan tajam dan membunuh.
"Sakit jiwa maksud gue." Jelas Aldavi dengan sedikit gugup karena tatapan sahabatnya.
"Sakit jiwa?" Beo Archie semakin bingung.
"Iya, suami lo ini gila. Gila sama cinta lo dan curhatnya sama gue. Katanya dia cinta mati sama lo, udah tergila-gila." Jawab Aldavi memperjelas.
Archie tersenyum mendengarnya, ia lalu menatap suaminya yang juga menatapnya.
"Aku juga cinta banget sama mas Kaivan." Ucap Archie tanpa sadar.
"Tahu gue, tapi nggak usah sebar kemesraan disini." Aldavi menyahut.
"Ayo kita pergi, Sayang." Ajak Kaivan sembari merengkuh pinggang ramping istrinya.
"Gue tunggu rekaman cctv nya." Ucap Kaivan beralih menatap sahabatnya.
Setelah mengatakan itu, Kaivan dan Archie pun pergi meninggalkan ruangan Aldavi yang tadi nyaris menjadi pelampiasan amarah Kaivan.
"Sebenarnya siapa pelakunya, Kaivan hampir bunuh gue tadi." Gumam Aldavi setelah pasangan suami istri itu keluar dari ruangannya.
TEBAK PELAKU GUYSS😫😫
Bersambung......................................